10 Refleksi Hirarki Kompetensi dan Patologi Mental Korban Apakah anda termasuk orang yang suka berderma kepada fakir miskin? Jika jawaban anda iya, apakah anda menganggap tindakan anda itu benar akan membantu mereka yang biasanya duduk bersila di lampu merah, dan kategori lainnya yang sering ditemukan membawa cobek sambil menunduk kasian? Yakinkah anda bahwa tindakan sederhana […]

Disc: Pic taken from Steve Cutts’ The Rat Race “Mencintai seseorang seutuhnya”, atau “Aku mencintaimu apa adanya”. Ungkapan ini pasti sudah pernah kita dengar, baik terselip ke dalam lirik lagu-lagu cinta cengeng atau quote yang terdapat di meme valentine. Ungkapan “Mencintaimu apa adanya” disini bisa dimaknai sebagai berikut: Aku tak ingin kamu berubah, karena dirimu […]

Berhubungan dengan pembiasan fungsi seni di masyarakat dalam paradigma sosialis, dampak naratif media mainstream dalam sepuluh tahun terakhir ini terbilang sukses mentahbiskan siapa saja baik yang mempunyai potensi maupun tidak, yang ingin menjajaki mimpinya untuk menjadi musisi terkenal, artis sinetron, atau sekedar seseorang yang menyandang status selebriti. Tagline: follow your passion. Namun bagaimana jika ternyata […]

Politisasi Seni Melalui Medium Pengeksotisan Diri Medium-medium kesenian yang mengandalkan bentuk-bentuk output karya seringkali terjebak ke dalam dogma eksotisme semu yang ditanamkan secara tidak sadar oleh pengaruh politik selera dari industri kesenian. Ambil contoh istilah keren ‘world music’ misalnya, seringkali dengan mudahnya disematkan begitu saja; contoh dari korban kepentingan politisasi seni barat yang secara eksklusif […]

Kepentingan festival seni dalam agenda politik selera, dalam hemat saya menandakan terbentuknya pola yang ditanamkan dalam pola selera yang tidak bisa lepas dari tren dan subyektifitas. Suka maupun tidak, penilaian akan seni memang cenderung bernatur subyektif, namun hendaknya subyektifitas ini masih perlu dijembatani oleh pemahaman yang luas dalam konteks-konteks berkesenian yang bersifat terbuka. Sesuatu yang masih perlu dipelajari dalam usaha memahami fungsi dan keberadaan dari festival jazz di Indonesia.

Dalam perkembangan paradigma seni memang bisa diakui bahwa institusi kesenian, dalam konteks pendidikan tinggi khususnya, tidak akan pernah mampu mengikuti kecepatan dari perkembangan seni modern. Maka perlu diperhitungkan bahwa institusi memang perlu mendukung dan mengantisipasi perkembangan paradigma baru dalam kesenian, namun juga perlu digaris bawahi bahwa institusi kesenian tetap berkewajiban untuk memberikan dasar-dasar yang diperlukan dalam mengapresiasi seni, dan penguasaan teknis atas tradisi seni yang bersangkutan.

Terlepas dari argumentasi mengenai validitas dan kelayakan konten dari sistim pengajaran jazz tersebut, kita perlu menyadari konsekuensi dari menggunakan parameter ini secara otoriter dan absolut. Bagi seorang mahasiswa musik yang mencurahkan hatinya memainkan sebuah karya musik yang telah dipersiapkan berbulan-bulan, hanya untuk mendapati karyanya dipreteli, dianalisa dan dibedah seperti isi perut seekor kodok di meja operasi, hal ini bukanlah perkara sederhana.