Imajinasi Ruang dalam Refleksi Francesca Prihasti: Adriana

Bagi saya pasti ada semacam refleksi dari musik, semacam penggambaran karakter yang berasal dari kombinasi pengalaman dan budaya”, demikian tersirat jejak ambisius dari penelusuran refleksi Francesca Prihasti atas album Adriana.

Adriana, rilis terbaru dari pianis yang sejak 2016 lalu bermukim di New York ini menunjukkan sebuah kulminasi, dari pengembangan tema Night Trip (2014), dan Evolving (2016), serta adaptasi dari unsur-unsur primer yang bermukim pada tekstur komposisi dan frase lirikal yang dinamis.

Kapasitasnya dalam hal ini bukan kejutan besar, semua yang dilakukan olehnya terhitung dari album pertama Night Trip bersama Marco Panascia dan Ulysses Owens Jr. 2014 lalu, akhirnya mengarah kepada instrumentasi yang lebih ekspansif di Adriana. “Sekarang ini saya sedang bereksperimen dengan tekstur yang berbeda, menggunakan alto/soprano, trumpet/flugelhorn, trombone, dan gitar yang disini saya gunakan sebagai bagian dari horn section; bukan instrumen iringan”.

Francesca Prihasti – Johnny

Kolam kreativitas yang terdapat pada blues 7/4 Johnny, secara tendensius berpusat pada melodi yang berperan sebagai awal dan akhir dari titik tengah komposisi. Hal inilah yang kemudian digunakan sebagai basis narasi dari pengembaraan melodi improvisasi gitaris Nic Vandarnega dan trombonis Alan Ferber.

Meskipun setiap album dari Francesca Prihasti (Asti) mempunyai karakteristik dan nafas tersendiri, namun terlihat bahwa ketiganya memiliki jejak proses kreatif yang sama dari talenta yang memulai perjalanan musiknya di Sydney Conservatory tahun 2012 lalu. Tiga album yang diproduksi semua olehnya sendiri, merupakan buah sukses dari kerja kerasnya selama beberapa tahun terakhir; mengamini musikalitas yang multi kultural melalui metode-metode yang dituntun oleh refleksi dan intuisinya yang tajam.

Kali ini pada Adriana, album yang ditulisnya dengan jenis materi yang terbilang masih terkait oleh pendekatan gaya lama, masih tak lekang, namun juga tidak beresiko untuk dikelompokkan ke dalam keranjang nostalgis oleh para entusias jazz progresif.

Francesca Prihasti – Time Traveller

Kontur melodi dengan gaya bertutur, dengan karakter yang kuat masih bisa ditelusuri lebih lanjut pada Time Traveller melalui improvisasi alto sax dan piano yang komplimenter. Improvisasi Francesca Prihasti di bagian ini terdengar jauh lebih matang; begitu retrospektif dan kontemplatif seolah ingin merangkul garis balans yang simetris antara kedua bagian solo.

Perpaduan visi dan kolaborasi lintas budaya ini tidak jauh dari pengaruh latar belakang Asti yang selama ini bekerja di tiga kota yang berbeda; Jakarta, Sydney, dan New York. “Karakter saya dibentuk oleh tiga tempat ini, begitu pun setiap kali kami (dia dan suaminya Nic Vardanega), bermukim di tempat baru, kami harus belajar dan beradaptasi dengan scene lokal“.

Pola ini yang kemudian menampakkan residunya melalui moda penulisan materi yang khas terdapat di masing-masing album; mulai dari Night Trip dan Evolving, hingga Adriana. “Metode penulisan saya di Adriana sekarang ini lebih kepada menggabungkan dua pendekatan sekaligus; yang konvensional dan tidak, untuk menggali kemungkinan harmoni, dan kombinasinya dengan bagian lain dimana saya tidak lagi harus mengikuti form baku”.

Mengambil imajinasi dari visual Starry Night – Van Gogh terlahir ballad Stargazer yang menampilkan trombonis Alan Ferber. Dengan luwesnya Asti memvisualisasikan tempat yang hening melalui pilihan not improvisasi yang transparan, sekilas terdengar rapuh di dalam alur narasi yang tenang dan terartikulasi, namun juga asertif dan kuat pada saat yang bersamaan. Begitu pun pada Verano, dimana ia menggunakan basis ostinato sebagai latar melodi lepas gitar Nic Vardanega, yang juga merupakan hasil dari basis imaji visual dan memori yang dituangkannya melalui kanvas bunyi.

Francesca Prihasti – Stargazer

Tekstur instrumentasi ini sekali lagi dimanfaatkan secara optimal olehnya pada Adriana, dengan format solo yang pendek dalam gaya call and answer antara gitar, piano, dan flugelhorn Michael Rodriguez. Hasil dari eksplorasi penggunaan frase latar dan timbre yang muncul dari kombinasi ini cukup menarik untuk menegaskan suatu rasa kolektif atas memoriam dari mendiang Ratna Adriana, ibu dari Francesca Prihasti.

Wind Chimes yang merupakan sebuah elaborasi dari pergerakan kontur berlawanan dari soprano sax, gitar dan flugelhorn, lebih dari cukup untuk membawa komposisi ini menjadi salah satu highlights dalam Adriana; artikulasi komposisi yang cemerlang dibingkai oleh improvisasi ekstrovert dari saksofonis Dave Pietro.

Disini saya cukup puas dengan hasil kombinasi flugelhorn, sax dan gitar, terutama pada Stargazer, Adriana dan Wind Chimes (soprano & gitar). Kombinasi ini saya gunakan sebagai frase unison, counter lines, background, sekaligus juga sebagai materi harmoni yang bergerak bukan cuma vertikal, tapi juga secara horisontal”, tambahnya mengenai metode aransemen horn yang dilakukannya pada album Adriana.

Francesca Prihasti – Adriana

Inspirasi yang dideskripsikan olehnya pada Adriana, yang berasal dari ragam “special places and beings” ini memang mempunyai narasi yang cukup konsisten. “Pendekatan saya untuk setiap album berbeda, kalau dulu komposisi saya mengandung banyak functional harmony dan format solo head-solo-head; tapi sekarang ini khususnya saya percaya dengan mengeksplorasi banyak opsi lain, akan mendorong saya untuk re-invent diri saya sekarang sebagai komposer dan musisi”.

Francesca Prihasti yang menyelesaikan studinya di Sydney Conservatorium of Music, dan setelahnya di New York University di tahun 2018; telah menyerap dan belajar begitu banyak seni bermusik dari Kevin Hays, Alan Broadbent, Judy Bailey, Alan Broadbent, Peter Bernstein, Ari Hoenig. Deretan komposisi dalam Adriana ini merupakan hasil refleksi pengalaman yang tak bisa dibendung, terasa begitu natural ia muncul ke permukaan dari dasar kedalaman pemikiran dan imajinasi seni seorang Francesca Prihasti. (DJ)

Francesca Prihasti: Adriana dapat diakses melalui iTunes Store. Untuk pemesanan cakram padat hubungi Francesca Prihasti.

Francesca Prihasti: Adriana

Francesca Prihasti: Piano & Compositions
Nic Vardanega: Guitar
Drew Gress: Bass
Josh Roberts: Drums
Alan Ferber: Trombone
Dave Pietro: Alto & Soprano Sax
Mike Rodriguez: (Trumpet & Flugelhorn

Direkam, mix, dan master oleh Tyler McDiarmid

 

Baca: Elaborasi Tekstur Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga Dalam Meta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s