Elaborasi Tekstur Gerald Situmorang & Sri Hanuraga dalam Meta

Resensi album Gerald Situmorang & Sri Hanuraga: Meta (2019)

Bukan bunyi organik yang laiknya terdapat dalam duet piano – gitar; seperti pada logat Jim Hall – Bill Evans, atau Brad Mehldau – Pat Metheny; karena melalui Meta, penggelontoran variasi bunyi dari kedua instrumen inilah yang justru digunakan sebagai basis narasi komposisi musik oleh duo Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga.

Gitar nylon, steel, electric, yang kemudian dilebur dengan piano yang dimodifikasi, diiris menjadi lapisan-lapisan untuk kemudian digunakan sebagai bahan mentah komposisi musik melalui live take dan overdub.

Teknik modifikasi bunyi piano ini sebenarnya bukan hal yang baru dan sudah dipakai mulai dari era Tin Pan Alley di Amerika hingga musik kontemporer John Cage, dimana pianis menyelipkan sepotong benda, plastik hingga logam di antara senar piano untuk menimbulkan tekstur bunyi yang diinginkan.

Tetapi modifikasi bunyi ini tetap sebatas moda, dan hanya menjadi istimewa apabila dibingkai ke dalam konteks materi bunyi yang digunakan sebagai instrumen baru oleh sang seniman, dalam mengartikulasikan gagasan musik. Hyperreality merupakan salah satu contoh yang baik dalam optimalisasi teknik ini untuk imitasi bunyi; mengingatkan saya pada elemen yang Gerald gunakan pada Dimensions, hanya saja kali ini ia menggunakan prepared piano dan penggandaan lapisan melodi dan iringan melalui ragam moda modifikasi instrumen.

Rintik Hujan dan Opening a New Door sebenarnya bisa saja menjadi salah satu materi yang cocok untuk Trio Gerald Situmorang, karena di sana terkandung runutan melodi khas yang cukup sering diutarakannya; namun komposisi Hyperreality dari Sri Hanuraga yang berada di antara kedua lagu itu, bagi saya mempunyai latar dan prop yang sedikit berbeda.

Form lagu yang panjang, menggunakan alur yang diambil dari variasi melodi linear, grouping multi-scales yang terdengar sekilas mirip harmonizer; semua dibungkus dengan variasi timbre yang berputar pada rotasi pola ostinato. Efek distorsi hingga potongan steel akustik yang mengiringi spoken words yang komplimenter, serta melodi yang dinyatakan secara repetitif ini saya tengarai menjadi isyarat dari arah eksperimentasi baru Sri Hanuraga.

Di awal tahun ini saya dirundung firasat, bahwa pada tahun 2019 kita akan menyaksikan cukup banyak perkembangan dan perubahan. Semoga saja saya benar, dan album ini bisa menjadi awal yang baik.

Teknik overdub dan doubling yang dieksplorasi keduanya harus saya akui cukup efektif dalam menonjolkan tekstur melodi Rintik Hujan, sebuah lagu yang bisa dibilang berstruktur cukup konvensional. Hal ini kontras dengan Cornucopic yang merupakan rangkaian panjang atas beberapa sekuens melodi linear. Disinilah eksplorasi iringan Gerald atas improvisasi kelas satu Sri Hanuraga, dilakukan dengan begitu cerdas dengan hanya menggunakan kombinasi bebunyian dan efek untuk memberi ruang dan bingkai, tanpa pernah bermaksud mengalterasi alur narasi.

Iringan dan pengaturan oktaf yang diaransemen begitu ketat mengawal lirik yang dituliskan oleh Ify Alyssa dalam Perjalanan Menuju Ke Sana. Meski demikian, Aga tidak pernah sekalipun ragu untuk keluar dari pola ini dalam usahanya menggambarkan kontur yang kontras, melalui ragam passages cepat dengan akurasi tinggi. Efektifitas aransemen backing vocal yang secara konsisten menggunakan bingkai Meta dalam melapisi lagu, baik digunakan sebagai iringan atau bagian dari melodi utama, menurut saya juga sangat perlu diapresiasi disini.

Bagi saya elaborasi dari lapisan-lapisan iringan khas Meta ini resmi dijadikan elemen-elemen penting, yang lebih ditekankan lagi oleh keduanya pada Something New dan God of Dragons. Dikotomi antara solis dan pengiring disini menjadi sangat tipis karena semuanya dipusatkan pada keseimbangan, dan usaha menciptakan kontras maupun kesatuan antara bunyi piano dan gitar, lewat modifikasi suara dan variasi spesies instrumen.

God of Dragons dan Thrown Words, bagi saya sinkretisme yang sempurna antara visi keduanya dan puncak dari buah eksperimentasi dalam Meta. Kedua lagu ini menunjukkan sisi yang lebih reflektif dari format-format komposisi panjang dan linear yang ditawarkan sebelumnya, dan ini cukup berhasil membawa nuansa episodik dalam Meta melalui alur kolaboratif yang lebih netral.

Beberapa materi di Meta secara implisit terpengaruh oleh karya-karya almarhum Riza Arshad di Simak Dialog; khususnya pada His Spirit dan Thrown Words, dua karya memoriam yang berkaca kepada Throwing Words dan This Spirit. Hal ini bukan kebetulan, mengingat Sri Hanuraga terlibat di dalam legacy grup Simak Dialog, dan telah mengkaji semua karya terbaik Riza Arshad dalam beberapa tahun terakhir; hal yang konsisten dilakukannya dalam tingkatan interpretasi artistik yang tinggi.

Optimalisasi dari pengolahan tekstur gitar dengan prepared piano ini mencapai puncaknya pada Thrown Words, salah satu karya terbaik dalam kolaborasi Meta. Saya merasa kebanyakan highlights pada album ini justru berasal dari beberapa hasil penyatuan visi komposisi yang proses pengolahannya berawal dari titik nol, yang terdapat pada karya-karya baru, yang notabene mengandung esensi kolaborasi yang lebih murni.

Album duet bukan suatu hal yang mudah dilakukan tanpa memiliki pengertian yang dalam antar pemain, pemahaman atas visi dan alur berpikir untuk secara kolaboratif merancang hal baru, yang sepenuhnya terbebas dari persona masing-masing seniman. Thieves of Mind dan His Spirit menutup sebuah akhir dari proses kolaborasi yang baik pada Meta; work in progress yang nyaris sempurna dalam kolaborasi Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga mengartikulasikan semangat eksperimentasi, modifikasi instrumen, dan elaborasi bunyi organik. Saya tidak mungkin lagi menekankan betapa saya merekomendasikan anda untuk mendengar album ini. (DJ)

Gerald Situmorang & Sri Hanuraga: Meta dapat diakses melalui Apple Music dan Spotify. Untuk pemesanan cakram padat hubungi Gerald Situmorang & Sri Hanuraga.

Gerald Situmorang & Sri Hanuraga: Meta

Gerald Situmorang: Gitar
Sri Hanuraga: Piano

Ify Alyssa: Vokal (5)
Rebecca Kezia: Spoken Words (2)

Mixing: Stevano – Mabes Music
Mastered: Dimas Pradipta – Sum Itl Studio

Baca: Dimensions dan Visi Ekspansif Gerald Situmorang

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s