Myspeakeasies: 8 Album Jazz Indonesia Terbaik di 2018

Memilih delapan nama saja dari deretan album jazz Indonesia terbaik di tahun 2018 ini jelas tidak mudah untuk dilakukan. Tanpa disengaja bisa juga ada pertimbangan yang bersifat pribadi dan dalam pandangan saya, sah saja untuk dimasukkan ke dalam artikel ini.

Rilisan album jazz di Indonesia tahun 2018 memang tidak sebanyak di tahun sebelumnya, dan saya bisa pastikan bahwa sebuah daftar tidak dapat merepresentasikan kondisi keseluruhan jazz Indonesia di tahun ini. Maka saya putuskan untuk memilih delapan yang terbaik menurut saya saja.

Seperti biasa, tulisan-tulisan saya di myspeakeasies bukan berbentuk laporan atau copas “google translated-press release” dengan tujuan untuk memadati google search dan membahagiakan semua orang, tetapi tulisan yang berasal dari hasil pengamatan, dan sudut pandang saya sebagai musisi dan akademisi musik. Saya bukan jurnalis musik, tapi juga bukan pemalas.

Daftar ini bisa menggambarkan sekilas dari betapa luas dan besarnya diversitas jazz Indonesia, dan bahkan saat ini pun, ketika anda membaca tulisan ini, seseorang sedang membuat materi yang bisa saja dimasukkan ke dalam daftar tahun depan. 

Saya menyadari kemungkinan bahwa terdapat lebih dari apa yang mata dan telinga saya bisa jangkau. Tak semua musisi pandai menempatkan karyanya untuk eksposur publik sehingga terbuka kemungkinan adanya rilisan bagus di 2018 yang tidak terdeteksi. Tapi ok, saya akan mengambil resiko itu, dan berikut delapan rilis terbaik di 2018 versi saya.

David Manuhutu

Journey To The Magical Islands

Pianis David Manuhutu benar-benar tahu trik apa saja yang harus dikeluarkan dalam mengolah materi lagu orisinal berbingkai tradisi. Sebagai salah satu album yang telat kemunculannya di akhir 2018, Journey To The Magical Islands merupakan album kedua David yang mengukuhkan identitas pianis muda ini sebagai generasi baru jazz Indonesia, yang kehadirannya membawa janji segar perubahan.

Barry Likumahuwa, Grady Boanerges, Ricad Hutapea, dan vokalis cemerlang Matthew Sayers pun bukan sekedar gimmick di album ini. Kefasihan David Manuhutu dalam mengolah materi lagu tradisi dengan jazz kontemporer sungguh mengesankan, dan beresonansi dalam persepsinya menggali artikulasi baru khas jazz Indonesia yang kuat dan kontemplatif.

Ligro

Transisi

Selalu terjadi hal yang menakjubkan ketika ketiga personel dari Ligro berkumpul. Setelah trilogi Dictionary dengan kegilaan episodiknya, Album Transisi yang diramu oleh Agam Hamzah, Gusti Hendy, dan Adi Darmawan ini sangat tidak situasional, meledak liar seperti petasan dalam tong, namun dilakukan dengan tingkat presisi dan akurasi tingkat tinggi. Mereka sepertinya ingin mempreservasi proses transisi, atas apapun itu bentuk dialog antar satu sama lain dalam rangka transendensi spiritual bermusik.

Track Version 1 hingga 7 yang disemburkan di album ini adalah rantaian pernyataan yang begitu kuat dari jalinan acak alur cerita Ligro yang spontan dan combustive. Mensugestikan materi periode terakhir Coltrane yang membawa kreasi musik ke sebuah tingkatan baru dalam menjalin ikatan dengan alam semesta dan penciptanya. Begitupun dengan Transisi; musik yang tercipta ketika sebuah visi kreatif dalam perspektif ini total terlepas dari belenggu ikatannya.

Dewa Budjana

Mahandini

Tiap tahunnya biasa ada satu-dua album besar yang ditunggu, dan buat saya album ini adalah salah satunya. Bukan karena nama Mike Stern, Jordan Rudess atau John Frusciante tapi setelah menyimak Zentuary, Hasta Karma, dan Surya Namaskar, saya selalu menantikan apa yang akan Dewa Budjana buat berikutnya. Kedalaman dan keluasan karya Zentuary dengan detil dan disain musik yang membuat bulu kuduk merinding, membuat Mahandini layak ditunggu.

Sangat impresif apabila menilik proses karir yang telah dilalui seorang Dewa Budjana dari 10 album solo terakhirnya. Begitulah elemen refleksi, humility, spiritualitas, alam dan kreativitas berkesenian begitu melekat dan terpatri dalam Mahandini yang menembus batasan genre; eksentrik dalam ekspresi, dan tulus memoles keterbukaan rasa berkesenian. Mahandini: an extensive edition by such a beautiful musician.

Jeko Fauzy

Auditory Pareidolia

Preview digital tidak tersedia. Kontak Jeko Fauzy atau baca: Aura Meditatif Jeko Fauzy: Auditory Pareidolia

Bali merupakan ladang yang subur bagi tumbuhnya ragam inovasi dan musisi jazz generasi baru dalam beberapa tahun belakangan ini. Gitaris Jeko Fauzy adalah salah satu terdakwa bersalah dalam keranjang ini; dan melalui Auditory Pareidolia, ia berhasil memotong jalur formal tradisi dengan merilis salah satu album yang paling adventurous, inovatif, dengan materi-materi yang begitu artikulatif dan tendensius.

Completely submerged dalam harmoni yang balans, kualitas melodi berkelas yang ditampilkannya pada Aphelion dan Hatuhaha misalnya, menjadikan interaksi ensemblenya dengan Icang Rahimy dan Helmy Agustrian ini begitu rapat mengkristal; sebegitu ahlinya-lah ia memvisualisasikan tekstur landscape aneh dengan sugesti pareidolia yang hanya bisa ditemukan di sebuah mimpi sadar.

Baca: Aura Meditatif Jeko Fauzy: Auditory Pareidolia

NonaRia

Nona Ria

Fenomena Nona Ria di tahun 2018 adalah suatu presentasi segar dari jazz Indonesia yang membawa humor serius, sambil menyiarkan kembali kejayaan tradisi musik Indonesia lama dengan cara-cara yang cerdas dan komunikatif. Nesia Ardi, Nanin Wardhani, dan Yasintha Pattiasina lebih dari mampu untuk menggunakan jazz sebagai pintu pesan ke publik melalui sisi wajah jazz sebagai musik hiburan.

Lirik yang komunikatif menyasar tema-sehari-hari, dengan kombinasi bebunyian dalam instrumentasi gaya Chicago jazz ala Louis Armstrong and The Hot Five, piano ragtime Scott Joplin yang di-mix dengan romantisisme ala Stephane Grapelli, digoreng dengan spontanitas Benyamin Sueb, menjadikan musik NonaRia sebuah hibrid yang luwes. Tindak sinkretisme yang nyaris sempurna dari Nona Ria yang mampu menjual elemen-elemen tadi melalui humor, tema sehari-hari, serta narasi jenaka yang hampir kekanak-kanakan. Kudos!

Baca: Nona Ria dan Senandung Lagu-Lagu Hiburan

Indra Lesmana

Surya Sewana

Ungkapan rasa syukur, cinta dan doa sebelum matahari terbit; Surya Sewana dari Indra Lesmana ini begitu luwes, absorbing dan merentang imajinasi ke sebuah dimensi warna yang introspektif. Deretan alur melodik meditatif bagaikan mantra, fluktuatif sekaligus jernih seperti mimpi yang jelas; semua melebur melalui deretan nuansa hubungan personal yang dirancang oleh pemikiran kreatif Indra Lesmana yang tajam.

Mantram dan Mystical Glow yang meditatif, Tat Tvam Asi sebelum masuk ke bagian Stillfulness, Peacefulness dengan Sanghyang Legong hingga Mantram-Oneness yang impressionistik, menjadi rangkaian narasi episodik dari seorang maestro sejati, pianis yang telah melakukan begitu banyak dalam karirnya 40 tahun terakhir ini. Rekoleksi atas Surya Sewana yang begitu sublime merefleksikan haturan sujud bakti kepada sang Pencipta, dari Indra Lesmana.

Dwiki Dharmawan

Rumah Batu

Pengalaman mendengarkan Rumah Batu, belum lagi terlepas dari Pasar Klewer di 2016 lalu, cukup memikat. Album ini bersenjatakan magnet yang begitu kuat menarik saya untuk duduk diam hingga track terakhir; ditawan oleh tekstur yang begitu ketat pada Rintak Rebana, hingga Rumah Batu Suite Pt. 1-2 yang bernafaskan 70’s ECM.

Esensi Rumah Batu rasanya tidak cukup dilabelkan dalam kantong world music dan jazz progresif saja. Dialog seni yang direkam di La Casa Murada, daerah Catalonia di Spanyol dengan Asaf Sirkis, Nguyen Le, Carles Benavent, Sa’at Syah dan ragam perkusi tradisional ini hanya berupa bahan mentah; excess dari visi jenius Dwiki Dharmawan dalam meneruskan pesan perdamaian dan akulturasi budaya.

Rumah Batu menginspirasikan rasa syukur bahwa ada seseorang di sana yang memencet tombol rekam, dan atas para seniman yang menciptakan momentum indah ini; well preserved and suspended in time and space.

Space Traveler

Space Traveler

Preview digital tidak tersedia. Kontak Sandy Winarta atau baca: Elaborasi Space "Intergalactic" Traveler - EP

Upbeat funk ala Head Hunters, fusion modern dengan algoritma permutasi not, polyrhythmic dan oddmeters yang dikombinasikan dengan melodi synth yang berbasis modern jazz? Sempurna buat saya. Begitulah cara drummer/leader Sandy Winarta bermain-main dengan elaborasi ritmik, dalam pencariannya menemukan middle ground antara melodi linear dengan eksperimentasi ritmik kompleks.

Residu tamasya kreatif Space Traveler mencerminkan ketenangan rumit yang dibawakan dengan konsistensi artikulasi yang memukau. Konstruksi gagasan melalui Hibiki, The Hunter and The Scorpion yang menampilkan Kuba Skowronski, menjadi gestur yang membuktikan bahwa imajinasi kolektif sekelompok seniman kadang merupakan instrumen terbaik dalam menyatukan pesan artistik.

Baca: Elaborasi Space “Intergalactic” Traveler – EP

-DJ

One comment

  • Saya jatuh cinta dengan Nonaria. Buat saya, mereka itu berani meramu musik model vintage, dan ternyata mereka berhasil juga eksis di dunia musik Indonesia.
    Beruntung saya pernah langsung menyaksikan langsung penampilan mereka di Sukabumi dan di AtAmerica.

    Salam dari saya di Sukabumi,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s