For Good: Rekam Jejak Eksplorasi Indra Aziz

For Good – Indra Aziz (2018). Resensi album

Jujur saja pertama kali mendeteksi perpaduan repertoire antara soul, modern jazz, pop, brasillian, hingga nuansa reggae, membuat saya merasa sedikit tergelitik untuk skeptis menanggapi materi dari album perdana Indra Aziz: For Good. 

Meskipun saya tahu betul, bahwa vokalis yang belakangan ini lebih dikenal sebagai vocal coach para selebriti dan Indonesian Idol & The Voice, bisa dijamin tidak asing dengan pendekatan materi yang begitu plural. Lagipula, semua portfolio dan track record Indra Aziz sebagai musisi selama ini selalu mengarah ke eksplorasi yang luas mencakup beragam gaya musik.

Bukannya tanpa alasan, tetapi biasanya materi yang terlampau ambisius merangkul ragam gaya musik yang dirangkum dalam satu album, kerap mengandung resiko besar yang menguji karakter seorang seniman paling ahli sekalipun. Either menjadi sebuah masterpiece, or a complete disaster.

Sekilas saja judul album perdana dari seorang vokalis-komponis founder dari VokalPlus ini memiliki sentimen implisit atas rentang waktu. Tendensius dalam tema cinta dan kehidupan; pilihan tema yang gemar diangkat Aziz ini masih berada dalam satu keranjang dengan single rilisan sebelumnya Pembohong dan Jakarta City Blues.

Fragmen “Heart’s beatin’ like Gene Krupa’s playin and mind cookin’ like Miles” di lagu Come Love, nuansa modern jazz di Lucid Hallucination, atau Last Train to Jogja bagi saya adalah sebagian jejak dari nuansa For Good yang fashionably old. Disini saya hanya tekankan sebagian, karena separuh lain seperti ditulisnya pada era yang benar-benar berbeda.

Sebenarnya lagu mengenai PDKT pada Come Love ini pertama saya dengar di tahun 2016, dengan balutan nuansa soulful yang pekat. Saya menduga keputusan Aziz untuk mengganti aransemen dengan gaya brasillian, mungkin saja dipengaruhi oleh pertimbangan balans repertoire.

Tapi untuk beberapa alasan saya lebih menyukai versi lama yang direkamnya di iCanStudioLive dengan Robert MR, Fanny Kuncoro, dan Deska Anugrah tahun 2016 lalu. Penekanan artikulasi dari efek gaya brasillian ini tidak memiliki kedalaman seperti yang saya temukan pada versi lama; meskipun ini bisa saja opsi yang lebih sesuai untuk generasi Z dan millenials yang lebih berjiwa upbeat.

Namun melihat dari sisi lain, misalnya dalam konteks karir Indra Aziz selama 15 tahun terakhir hal ini juga dapat diartikan sebagai kayanya volume. Warna vokal soulnya, paradoks gaya musik yang organik, relevan, dan humoris memang sudah terbentuk sejak periode Jakarta City Blues di 2006 yang meraih kategori “Best Jazz Production” AMI Award di tahun yang sama.

Last Train to Jogja dan Lucid Hallucination merupakan dua materi lama yang ditulisnya dalam gairah era eksplorasi improvisasi jazz dan harmoni, yang menurut saya, bisa saja dimasukkan ke dalam kategori album yang berbeda.

Pengalaman mendengar Lucid Hallucination yang direkam Aziz dekade lalu dengan pianis Masako Hamamura, Nikita Dompas, dan Titi Rajo Bintang ini harus saya akui cukup menarik. Lagu ini cukup kontras dengan sisa materi lainnya, dan cukup berhasil membangkitkan nilai sentimentil; dalam mengintip secuil proses dari rentang pengembaraan musikal Indra Aziz.

Menyimak struktur harmoni yang berdialog modal jazz, dan tekstur solo piano Masako Hamamura yang rapuh memikat pada Lucid Hallucination, adalah sebuah treat tersendiri bagi saya. Meskipun ini menjadi salah satu momen yang terbilang asing bagi sisa materi lainnya di album ini.

Dari perspektif ini saya rasa For Good memang dirancang sebagai refleksi dari pengembangan dan eksplorasi personal. Gestur yang menunjukkan bahwa karya musik dapat menemukan alurnya sendiri dalam waktu dan ruang, selama sang pencipta tulus mengamini proses visi kreatifnya yang kadang non-linear. 

Kalau ada lagu di album ini yang sah mengemban karakteristik persona yang soulful dan bluesy (selain Give Love, Get Love, Spread Love), maka itu adalah shuffly Traveller. Dimulai dengan intro sax dari Ricad Hutapea, Traveller adalah salah satu materi kuat di album ini, membawa sugesti akan era rhythm ‘n blues awal dalam ekspresi Ray Charles. Dengan tendensi ini, Traveller sebenarnya bisa saja menjadi salah satu highlights dalam For Good; tapi sayangnya tidak.

Ok, ekspresi kolektif yang ditekankan di track ini mungkin tidak sesuai harapan saya. Meski demikian, kehadiran gaya aransemen ini mulai membawa angin segar yang mengembalikan awal ekspektasi saya bahwa album ini akan menjadi sebuah jazz-soul album dari Indra Aziz.

Perubahan yang lumayan tiba-tiba ini menjadi ramuan pengantar babak baru dalam album For Good. Give Love, Get Love, Spread Love berhasil mengartikulasikan hasil ruminasi dari evolusi gaya dan teknik superb vokal Aziz dengan efektif. Ungkapan rasa syukur dengan kejernihan dan kekhidmatan yang membawa sentimen narasi For Good meruncing ke fokus yang lebih tajam. 

Disusul oleh lapisan nuansa pop pada Livin’ It Up, dan reproduksi materi single Times of Yesterday yang gospel-ish akhirnya membuka ruang culmination dari karya Indra Aziz yang terbaru; panutan untuk sederetan repertoire segar di tahun 2018.

Begitu pun halnya dengan For Good yang terpilih sebagai lagu final dari album perdana yang keseluruhan liriknya berbahasa Inggris ini; “Nothing last forever..but the memory will linger on..for good” cukup luwes menyimpulkan sesuatu rangkaian narasi yang bertemakan cinta dan kehidupan.

Keragaman For Good merupakan salah satu bagian puzzle; produk dari 15 tahun pengembangan karakter musikal Indra Aziz yang heterogen dan kaya. Beberapa materi dari album ini berangkat dari konsep dan gagasan yang lahir di pertengahan 2000-an, yang konsisten diasuhnya hingga menghasilkan buah yang sepadan.

Kemajemukan presentasi ini bukannya tidak mengandung resiko, tetapi jelas Indra Aziz tidak menganggap remeh kekuatan dari pelukisan hasil observasi proses yang menembus ruang dan waktu; melalui karya-karya dalam tema kehidupan. Akhirnya hal inilah yang menjadikan album For Good tetap terdengar cemerlang, triumphantly. (DJ)

Indra Aziz

For Good Indra Aziz (2018) dapat diakses melalui Spotify dan Apple Music. Untuk pemesanan cakram padat: contact@indraaziz.com

For Good

  • Indra Aziz: Vokal
  • Irsa Destiwi: Piano
  • Dony Sundjoyo: Akustik, Bas Elektrik
  • Elfa Zulham: Drums
  • Ricad Hutapea: Flute, Sopran dan Tenor Saxofon
  • Nikita Dompas: Gitar (3)
  • Masako Hamamura: Piano (3)
  • Titi Rajo Bintang: Drums (3)
  • Marini Nainggolan: Backing vocals (5)
  • Ranya Badudu: Backing vocals (5)
  • Menu Hestianti: Backing vocal (6, 8)
  • Irvan Natadiningrat: Backing vocal (6, 8), Vocal arr (6,7,8)
  • Aisha Noval: Executive Producer
  • Danny Ardiono: Engineer, mix & master (1,2,3,4,5)
  • Anggi Anggoro: Mix & master (6,7,8)
  • Dedidude: Artwork & photography
  •  

Baca artikel lainnya: Nona Ria dan Senandung Lagu-Lagu Hiburan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s