In Memoriam: Widyasena Dalam 300 Kata

Tulisan pendek ini saya dedikasikan untuk kepergian seorang sahabat, mentor, sekaligus tong sampah penampung keresahan saya beberapa tahun terakhir: Widyasena Sumadio.

Saya tahu dia benci dengan istilah itu (tong sampah), karena setiap sampah yang saya utarakan selalu disambit balik ke saya; walhasil di setiap akhir sesi mentoring saya selalu merasa berlumuran sampah.

Mas Wid seorang yang cerdas. Bukan book smart dalam definisi akademik, tapi street smart sebagai seorang komunikator ulung, dengan hati untuk berbagi. Makanya ia selalu ngoceh tentang extra miles yang para penggiat musik harus lakukan untuk menghidupkan musik Indonesia.

Semasa hidupnya ia seorang yang menjalankan hidup dengan berani. Jatuh berkali-kali, tapi mempunyai semangat yang tinggi untuk berbagi, mengajar dan belajar dari orang lain. Saya menduga pada dasarnya ia berjiwa seorang guru sejati, 10 kali lipat lebih daripada saya ini yang senang mengaku-ngaku edukator.

Dia tahu kalau saya sendiri sering nggak mengerti apa yang saya buat, dan tak pernah sekalipun ia ragu mengutarakannya. Bagi saya Widyasena adalah seorang yang paling tepat untuk menguji konsep, pemikiran, atau gagasan gila saya, karena dia tidak akan pernah nge-fur atau endorse pemikiran saya begitu saja.

Baik itu tulisan-tulisan amatir saya komplit dengan revisi kejam, meramalkan kegaduhan proyek buku Antologi Musik Jazz Indonesia, hingga pengkritik sekaligus pendukung nomor satu program Gulir Bunyi; semua dilakukan sembari menyelipkan wejangan dan dukungan (yang dia tahu saya butuh) meskipun saya gengsi memintanya.

Kalau dihitung jumlah sesi ngopi ala Widyasena, dikalikan jumlah tarif konsultasi (yang sering disombongkannya konon mencapai 7 digit), mungkin sekarang dia sudah bisa beli mobil baru, atau sekalian kedai kopi sendiri.

Bermodal amal dan perbuatannya semoga dia berada di tempat yang lebih baik. Mungkin tulisan sentimental ini muncul karena saya cuma merindukan seorang teman; tapi ok, saya akan stop di sini untuk memenuhi tantangan dia yang terakhir untuk saya: latihan menulis hanya dalam 300 kata.

Rest in peace Mas!

Dion

Widyasena Sumadio

 

3 Comments

Leave a Comment

  1. Saya jumpa dengan Mas Wid, untuk pertama dan terakhir , saat saya hadir di konser Tribute to Charlie Parker-nya Dua Empat di @america. Mas Wid bertindak sbg pemandu sesi tanya jawab disana.

    Semoga Mas Wid tenang di alam sana.

    Salam,

Leave a Reply