Advertisements
Album Review Musik

Narasi Dhani Syah dalam Leave No Page Unturned

Jika Dhani Syah dapat membuktikan satu hal, itu adalah karakteristik tradisi trio piano jazz modern yang tak lekang oleh waktu. Lungsuran legacy Bill Evans berujung ke Brad Mehldau dengan Art of The Trio, dimanifestasi melalui persona elegan yang hingga kini masih bisa ditarik sebagai elemen vital komunikasi bunyi antar pemain pada seni improvisasi jazz.

Leave No Page Unturned, rilis terbaru dari pianis berbasis Jakarta ini menunjukkan interaksi grupnya dalam form teratas. Ini adalah salah satu contoh rekaman cukup langka saya temukan di tahun ini, yang mengambil jazz dan improvisasi dalam core tradisi dengan delivery yang begitu relax dan comforting dalam membangun intensitas melodi seperti pada Marionette dan Braggin’ About the Blues.

Dhani Syah mempunyai pendekatan yang unik dalam membangun frase full-swinging not seperdelapan improvisasinya. Caranya dalam menerjemahkan pola komunikasi bunyi ini dilakukannya secara eksentrik, namun efektif dan presisi membawa grupnya menavigasi kedelapan komposisi orisinal dengan ringan.

Ia mungkin bukan tipikal pianis yang flashy, but he carries the band. Kemanapun. Menimbulkan semacam sugesti dari nuansa temper Red Garland dengan sentuhan yang persuasif dan modern.

Konten berbasis ostinato Three Days Left dan The New Rules secara jenius disampaikan dan diolah melalui melodi lirikal olehnya dan trumpetist Alex Sipiagin, melalui dialog komplimentari hasil tindak pengolahan dari interlocking melody.

Hasilnya adalah sebuah memoir dari bunyi warisan hard bop yang juga lekat dengan sosok drummer Elfa Zulham dan bassist Odi Purba. Keduanya tekun merespon tekstur improvisasi yang menggunakan materi-materi ini sebagai kanvas yang sempurna untuk ragam eksplorasi improvisasi linear.

Baca Aura Meditatif Jeko Fauzy: Auditory Pareidolia

Pada durasi album ini, Dhani Syah menggambarkan narasi halaman musiknya melalui beberapa pedoman dan kelaziman yang konsisten. Mulai dari efek disonan yang hampir terdengar Monk-ish, elemen kejutan, atau arus melodi deras dengan struktur yang tinggi detail seperti terdapat pada Three for Blues.

Konsepsi ritmik yang tergambar dalam improvisasi Dhani Syah pada lagu itu diartikulasikannya dengan cemerlang; gestur yang hanya ditandingi oleh streaming 16th dari Alex Sipiagin sebelum Leave No Page Unturned diakhiri dengan White Snow in Central Park yang bergulir tenang.

Di luar minus teknis perekaman yang kurang fasih mengangkat fragmen detil dari artikulasi instrumen, Leave No Page Unturned merupakan salah satu album jazz tahun ini dengan materi yang kuat dan bernilai tinggi. Sebuah rilis album dalam ruminasi tradisi campuran Eropa-Amerika yang akan membuat anda penasaran untuk menemukan detil baru dari narasi organik Dhani Syah sekaligus halaman cerita berikutnya. (DJ)

Dhani Syah: Leave No Page Unturned bisa didengarkan di Apple Music, Spotify, CD Baby, dan Amazon. 

Dhani Syah: Leave No Page Unturned
Dhani Syah – Piano
Odi Purba – Acoustic Bass
Elfa Zulham – Drums
Alex Sipiagin – Trumpet (5,6 & 7)

 

Dhani Syah
Odi Purba
Elfa Zulham
Alex Sipiagin
Advertisements

0 comments on “Narasi Dhani Syah dalam Leave No Page Unturned

Leave a Reply

%d bloggers like this: