Advertisements
Budaya Humaniora

10 Refleksi Hirarki Kompetensi dan Patologi Mental Korban

10 Refleksi Hirarki Kompetensi dan Patologi Mental Korban

Apakah anda termasuk orang yang suka berderma kepada fakir miskin?

Jika jawaban anda iya, apakah anda menganggap tindakan anda itu benar akan membantu mereka yang biasanya duduk bersila di lampu merah, dan kategori lainnya yang sering ditemukan membawa cobek sambil menunduk kasian?

Yakinkah anda bahwa tindakan sederhana yang tulus itu anda lakukan karena ingin membantu mereka atau sekedar menabung zakat untuk kepentingan anda sendiri? Pamrih dengan harapan yang menguntungkan anda. Investasi, istilah halusnya.

Memang bisa jadi ia benar gelandangan yang sakit dan membutuhkan bantuan, atau mungkin juga pengemis gadungan, seperti banyak diberitakan di media-media. Namun pernahkah terlintas di benak anda bahwa anda akan tetap memberikan sedekah meskipun tahu bahwa ia adalah pengemis gadungan? Salahkah untuk berpura-pura tidak tahu?

Lalu bagaimana halnya dengan para pengamen rese’ yang sengaja menyanyi fales pas di kuping anda ketika sedang enak-enaknya makan nasi uduk? Sahkah untuk berpura-pura berderma dalam bingkai itu?

Tapi sebelum sampai ke sana, perlu ditegaskan bahwa pembahasan tulisan saya yaitu relasi kuasa dengan pentingnya hirarki kompetensi ini, mengambil perspektif bahwa hidup kita yang begitu singkat ini laiknya dioptimalkan untuk kelangsungan spesies, baik dari segi kualitas hidup dan kebudayaan.

Bagi seseorang yang mengidap cognitive dissonant, hal yang sama dikontaminasi dengan pandangan bahwa hidup yang pendek dan fana ini, murni hanya sebagai sarana untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan setelah mati. Karena itu tidak perlu bersusah payah untuk mencari nilai-nilai yang lebih tinggi. Alias malas.

Ok tidak perlu terlalu jauh, contoh dari tindak kemalasan: seseorang yang mengalami kesulitan namun tidak merasa perlu mengembangkan diri, meskipun tahu bahwa formulir aplikasi pekerjaan yang diinginkannya ternyata harus diisi dalam bahasa Inggris. Mahal les Inggris, sayang duitnya. Pusing.

Atau seseorang yang menolak berpikir ketika dihadapi dengan tantangan berlapis, baik dari segi finansial dan status sosial. Salahkan saja masyarakat dan para penampuk kekuasaan yang tidak memihak wong cilik.

Disc: Nick Seluk theAwkwardYeti.com
Disc: Nick Seluk theAwkwardYeti.com

Atau salah satu favorit saya dari faham nihil lainnya, bahwa jika usaha anda mentok berarti anda harus melakukan hal yang sama, hanya saja 3 kali lipat lebih keras.

Toh melakukan hal-hal yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda masih wajar dilakukan oleh lingkaran pertemanan anda yang menyedihkan. Pantas saja anda tidak bahagia dan sengsara.

Kalau anda masih percaya akan karma, bahwa perbuatan baik atau perbuatan jahat akan mendapatkan balasan setimpal (baca:adil) sesuai dengan yang anda perbuat sebelumnya, mungkin anda akan beranggapan bahwa tulisan panjang saya ini penuh dengan omong kosong.

Saya ingin melempar beberapa pemikiran yang saya dapatkan belakangan ini untuk mengolahnya menjadi lebih baik. Dan untuk itu saya rela mengambil resiko menyinggung perasaan seseorang, termasuk diri saya sendiri.

Maka kembali ke masalah karma tadi, di awal saya menggugat kemurahan hati anda yang rela memberi sedekah kepada pengemis apabila anda ternyata memiliki maksud lain yang menguntungkan diri anda sendiri. Perlu disadari bahwa apapun alasan yang kita perbuat sebagai manusia yang berperilaku kompleks, selalu memiliki beberapa lapisan faham yang dalamnya seperti lubang kelinci.

Manusia mempunyai kecenderungan ragam perilaku yang dipengaruhi oleh faktor biologis, sosial dan religi, serta cerita kepahlawanan atau model archetype yang di dalam alam bawah sadar kita tertanam melalui proses evolusi.

Archetype yang dipopulerkan oleh Carl Jung, merupakan salah satu basis metode analisis perilaku manusia yang bermanifestasi menjadi religi, epos, hingga dongeng populer dan cerita rakyat. Atau dalam hal ini saya akan mengambil contoh cerita dari dongeng Timun Mas.

Timun Mas, yang diperoleh kedua orangtuanya dari doa yang mereka panjatkan kepada penguasa (raksasa) tumbuh menjadi anak yang baik dan sangat cantik. Sesuai dengan perjanjian mereka di awal, pada saat Timun Mas berumur 17 tahun sang raksasa pun datang menagih janjinya untuk mengambil Timun Mas.

Saya rasa kebanyakan dari kita tahu akhir dari cerita ini, dimana Timun Mas akhirnya bisa melarikan diri dari kejaran raksasa, dengan menggunakan peralatan yang diperoleh dari kedua orangtuanya (cabai, garam, timun dan terasi), sehingga raksasa itu akhirnya mati dan Timun Mas hidup berbahagia selamanya dengan orangtuanya.

Raksasa yang dalam hal ini digambarkan sebagai kekuasaan, simbolisasi dari pemerintah yang otoriter, atau bahkan sebuah struktur aturan (oppresor), berhasil diperdaya oleh kaum tertindas (opressed) yaitu kedua orang tua Timun Mas. Sebuah contoh bagaimana suatu janji, yaitu janji awal kedua orang tua Timun Mas untuk mengembalikan anak tersebut ketika ia berusia 17 tahun, dapat dilanggar (sah dilanggar) dan dijadikan cerita kepahlawanan rakyat kecil melawan penguasa.

Bisakah kita mempertanyakan keadilan disini? Bagaimana jika perjanjian antara raksasa dan orangtua tersebut diikat secara hukum melalui undang-undang, apakah pihak raksasa masih menjadi opressor di sini? Atau kah orang tua dari Timun Mas kemudian merupakan pihak yang seharusnya ditindak pidana karena melanggar ketentuan kontrak?

Apakah tindakan ingkar janji dan melanggar ketentuan dapat dianulir begitu saja, disahkan menjadi tindakan yang baik karena mereka adalah orang yang lebih lemah dalam tanda kutip? Mengapa tipe archetype ini begitu jauh dari model cerita budaya seberang seperti Lion King misalnya, dimana Mufasa sebagai raja binatang yang bijak merupakan penggambaran dari sebuah struktur hirarki yang sehat?

Ketika beberapa kali kita dihadapkan dengan situasi benar dan salah, politikus dan provokator gemar menggunakan terminologi ‘rakyat kecil’ untuk membenarkan apa yang salah, dan menyalahkan apa yang benar.

Pembela golongan tertentu yang merasa ditindas oleh pihak berkuasa; yang dalam hal ini diibaratkan raksasa yang menagih hutangnya kepada orang tua Timun Mas, menjadikan para kaum tertindas merasa perlu bersatu untuk memperdaya sang raksasa untuk memperoleh kebahagiaan.

Melihat dari perspektif ini maka sebenarnya kita dapat melihat beberapa keanehan pemilihan archetype dalam cerita Timun Mas di atas. Tentunya untuk membahas kaitan antara dongeng rakyat dan latar belakang perilaku sosial masyarakat Indonesia modern sangat menarik, tapi saya belum punya kapasitas untuk itu.

Tapi pertama-tama, saya percaya bahwa hal dan kejadian yang kita alami dan dapatkan dalam hidup ini bukan merupakan imbalan atas perilaku kita selama hidup, atau diri kita sejatinya (instrinsic being). Kompetensi, keahlian, dan determinasi seseoranglah yang berperan dalam menentukan jalan hidup orang tersebut. Ini masih sangat umum, tapi saya akan mencoba menjelaskan lebih lanjut.

Apabila seseorang mempertanyakan mengapa dengan sekian banyak derma yang ia lakukan, kerja keras banting tulang, tapi masih juga ia mengalami kesulitan menghidupi keluarganya; pontang panting mencari pinjaman, hidup dari tangan ke perut, lalu pertanyaan itu terjawab oleh solidaritas kelompok dan golongan maka biasanya kita mendapatkan formula yang tepat untuk sebuah konflik sosial.

Apakah menjadi seseorang yang baik dan mulia mendadak membenarkan tindakan ingkar janji orang tua Timun Mas kepada raksasa? Ditambah lagi, apakah alasan seorang Timun Mas yang digambarkan sebagai gadis yang cantik dan berbakti ini patut diselamatkan?

Bukankah orangtuanya sendiri yang telah menempatkannya dalam posisi yang tidak menguntungkan? Solidaritas pembaca diarahkan untuk berpihak kepada kaum lemah dan tak berdaya dalam cerita tadi.

Masih mengenai solidaritas, dulu ketika baru kembali melanglang dari benua lain, saya kadang bertanya-tanya mengapa begitu banyak terdapat paguyuban, komunitas, dan perkumpulan di Indonesia.

Begitu perlukah seseorang mendapatkan validasi eksternal atas agama yang ia pilih, merk kendaraan yang ia pilih, hingga jenis perusahaan aplikasi transportasi yang ia pilih? Solidaritas dan sifat sosial ini sebenarnya merupakan hal yang baik jika saja mengandung nilai-nilai yang lebih tinggi diutamakan, tapi bukan esensi dari solidaritas itu sendiri.

Tidak hanya itu saja, saya juga mempertanyakan apa alasan saya perlu membayar tukang parkir untuk menempatkan mobil saya selama satu menit di sebuah parkiran yang kosong? Nilai apakah yang ditawarkannya sehingga ia merasa berhak atas uang, yang meskipun tidak seberapa, saya berikan padanya? Solidaritas sosialkah? Karena semua orang melakukannya maka saya pun perlu melakukannya?

Atau mengapa begitu banyak orang yang jongkok di pinggir jalan berbagi nasib dengan pandangan menerawang sambil melihat hidup begitu cepat melintas depan mereka. Apa benar mereka tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjadi lebih baik? Apa saja usaha yang mereka telah lakukan sehingga mereka sudah memutuskan untuk mengangkat bendera putih?

Sejak dulu saya paling alergi dengan istilah “rezeki kita sudah ditentukan oleh Yang Kuasa, setiap orang sudah ada bagiannya”. Gejala yang tertanam dalam masyarakat ini sudah begitu lengketnya, sehingga kita bisa mengacu kepada anggapan lama bahwa uang adalah sumber dari segala kejahatan. Gejala cognitive dissonant yang mudah sekali ditemukan sehari-hari, jika anda tekun mengamati.

Saya ingat waktu masih berumur sekitar 10 tahun, tidak jauh dari rumah saya ada sebuah pohon jambu yang rimbun, dengan buah yang ranum dipetik dan merah warnanya. Saya mencoba mengambil buah dari dahan yang terendah yang saya bisa capai dengan menggunakan sebilah bambu, namun tidak berhasil.

Saya pun mencoba cara-cara lain, antara lain dengan melemparkan sendal saya, mengambil kayu panjang yang ternyata berat sekali, hingga mencoba memanjat pohon tersebut. Tapi tidak satupun cara yang saya dapat pikirkan berhasil membuat saya meraih jambu yang saya inginkan itu.

Saya menjadi kecewa dan akhirnya memutuskan untuk percaya bahwa jambu yang saya mati-matian coba ambil itu rasanya pasti tidak enak. Selain itu meskipun saya berhasil mengambilnya, si pemilik jambu pasti akan menegur dan memarahi saya karena mengambil jambu yang rasanya juga pasti asem tersebut.

Di sinilah saya pertama kali belajar bagaimana cognitive dissonant dapat mengubah persepsi saya tentang jambu, yang tadinya ranum dan menggiurkan, menjadi sesuatu yang tidak enak dan mengandung potensi bahaya.

Namun saya tahu sekarang di usia dewasa, jika saya mempunyai cognitive dissonant atas uang, bukan jambu, maka saya mempunyai masalah. Siapapun yang berkata bahwa uang tidak penting, biasanya datang dari salah satu dari kategori ini; orang malas, orang bodoh, atau seseorang yang tidak bertanggung jawab karena mendapat terlalu banyak kemudahan dalam hidupnya.

Anda tidak akan bisa membangun apapun tanpa menggunakan alat. Uang bukan satu-satunya hal yang penting, namun uang merupakan alat tukar yang memungkinkan anda untuk mengembangkan diri, mewujudkan tujuan anda, dan bahkan membantu orang banyak.

Meskipun uang bukan segala-galanya, namun sekelompok orang bodoh dan malas dengan ketergantungan dari lingkungannya yang saling menarik mirip seperti sekelompok kepiting dalam ember lah yang membuat masyarakat menolak untuk berubah dan menjadi stagnan. Ketika seseorang memasuki fase stagnan, maka dengan mudahnya ia akan menggunakan kekurangannya sebagai alasan untuk beragam keperluan.

Kebodohan sarat dengan patologi, dan sama sekali tidak dapat dijadikan alasan untuk menutupi keengganan seseorang untuk berubah menjadi lebih baik.

Menjadi stagnan dan percaya bahwa anda sudah baik apa adanya adalah resep yang mujarab untuk nihilisme dan krisis kemanusiaan. Dengan menggunakan alasan keadilan, digoreng dengan rasa solidaritas tidak sehat, seseorang dapat mulai menggugat kekuasaan dan rangkaian hirarki yang menyertainya.

Disinilah sistim nilai mulai berangsur pudar. Perlu kita waspadai bahwa ketika fakta-fakta ilmiah dan kompetensi mulai diragukan dan ditentang, dan ketika orang mulai beralih ke mitos dan politik identitas yang bisa menghilangkan tanggung jawab individu, kita akan menghadapi masalah-masalah lain yang lebih serius di masa depan.

Anda tidak pernah layak mendapatkan hormat, uang, ataupun balas jasa hanya dengan sekedar menjadi diri anda sendiri (yang anda anggap sudah baik itu). Disini saya agak kesulitan mendapatkan sinonim bahasa Indonesia dari kata earned.

You have to earned respect.

You have to earned wealth.

You have to earned your status.

Hal ini membawa kita kepada pembahasan kompetensi dan bagaimana itu membawa kita kepada persepsi hirarki dalam hidup bermasyarakat.

Kekuasaan sering disalahartikan dengan hal yang jahat seperti sang raksasa dalam kisah Timun Mas tadi. Atau contoh lain dari epos Ramayana, dimana Raja Dasarata dari Alengka, yang seolah mendapat kutuk dari awal cerita dan harus mati dengan kesedihan yang mendalam meratapi kehilangan putranya.

Bahkan sang pahlawan dalam cerita Ramayana ini, Rama, yang telah membuktikan keahlian dan kompetensinya pun tidak ingin menjadi raja, dan menyerahkan tahta kepada Wibisana sebagai raja Alengka. Apakah yang sebenarnya terjadi antara relasi kuasa dan kompetensi?

Pada tulisan Dewasalah Dan Stop menerima Diri Apa Adanya saya menekankan pentingnya mengasah perkembangan individu. Bahwa setiap saat anda harus berjuang untuk menjadi lebih baik, mengambil tanggung jawab, mampu mengubah diri anda sendiri sehingga anda dapat berkontribusi kepada lingkungan di sekitar anda. Biarpun sedikit saja.

Bahkan jika dalam satu hari, kemajuan satu persen saja sudah berhasil dilampaui, maka anda sudah membuat kemajuan 3200% dalam setahun dengan hasil akhir secara compound.

Maka tingkat keahlian dan kompetensi menjadi sangat penting disini, dan tanpa harus protes, suka atau tidak, anda harus sadar bahwa terdapat hirarki dalam tingkat keahlian dan kompetensi. Terdapat nilai-nilai yang lebih tinggi, dan segala sesuatunya di dunia ini tidak bernilai relatif seperti dalam pandangan para post-modernis.

Jika anak kesayangan anda sakit keras dan membutuhkan operasi, anda akan menginginkan dokter bedah yang terbaik. Karena itulah kita membutuhkan dokter terbaik, guru-guru terbaik, pejabat pemerintah terbaik, ilmuwan terbaik. Dan apakah persamaan dari orang-orang ini? Tidak lain adalah tingkat keahlian dan kompetensi di masing-masing bidangnya.

Lalu kita bisa mempertanyakan, apa sajakah indikator dari level kompetensi? Bagaimana dengan inteligensi? Bukankah itu sebuah indikator yang baik? Lalu bagaimana dengan kerja keras? Bukan hanya dari segi kerja fisik namun usaha-usaha dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dengan cara pengkajian dan riset. Usaha-usaha yang dilakukan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Maka dengan singkat, sudah laiknya mereka diberi hak yang sesuai agar mereka terus dapat melakukan hal-hal yang membawa kemajuan dan perbaikan hidup manusia. Itulah yang dimaksud dengan nilai dari level keahlian. Dan berdasarkan indikator di atas, tentu kita menginginkan orang-orang yang mempunyai inteligensi dan kerja keras itu untuk menduduki posisi di piramid atas.

Tentu saja! Apakah anda ingin kebalikannya dari itu?

Kesetaraan atau keadilan sosial tidak pernah berbanding paralel dengan tingkat kompetensi. Setiap orang mempunyai hak yang sama dimata hukum untuk memperoleh pelayanan publik dan perlakuan yang sama atas hak milik dan perlindungan dari negara,? Jelas iya! Tetapi kekuasaan tidak boleh kita campur adukkan dengan tingkat kompetensi.

Maka pandangan bahwa sekelompok orang di piramida atas yang memiliki kompetensi lebih dari lainnya memiliki semacam class guilt, dan karenanya kelompok yang dianggap lemah berhak mendapatkan perlakuan istimewa adalah omong kosong, dan menjurus kepada bahaya katastrofi kemanusiaan yang muncul akibat versi ekstrim dari faham sosialisme ini, yaitu komunisme.

Sebuah cerita tentang pembantaian golongan para petani di Ukrania (nantinya Rusia), Kulak, yang mempunyai kompetensi tinggi dalam bertani, para intelektual yang sukses membangun sistim yang maju dalam perekonomian Ukrania di bidang pertanian pada awal abad ke 20, dapat menjadi pelajaran bagi kita mengenai bahaya dari class guilt.

Para Kulak yang pada waktu itu dianggap sebagai musuh kelas golongan petani yang miskin, merupakan golongan pekerja keras yang mempunyai ternak dan hasil tani yang melimpah. Atas pengaruh faham Marxis-Leninism, golongan ini dianggap sebagai musuh negara karena siapapun yang menyimpan keuntungan dari tindak perdagangan adalah serakah dan karenanya harus disingkirkan.

Maka untuk membebaskan para petani lainnya yang notabene less competent dan mungkin less hardworking, atas nama keadilan, para Kulak pun dijarah dan dirampas semua harta bendanya. Mereka dimasukkan ke dalam kereta dan direlokasi ke daerah tandus Siberia (dekulakization), dimana mereka harus tinggal dalam rumah-rumah kecil tanpa makanan, dan sebagai hasilnya jutaan Kulak mati kelaparan dan kedinginan, termasuk anak-anak.

Dampak dari kejadian ini tidak hanya berpengaruh terhadap golongan Kulak, namun sebagai reaksi berantai, 6 juta orang di Ukrania kemudian mati kelaparan. Selain karena faham sosialisme yang terbukti gagal, hal ini juga dikarenakan oleh keterbatasan akal.

Ternyata hanya golongan Kulak yang mempunyai keahlian dan mampu menyediakan pangan yang mencukupi kebutuhan masyarakat. Itulah keahlian dan kompetensi nyata mereka, yang tidak dimiliki oleh golongan lainnya.

Secara umum tulisan ini tidak ditujukan untuk sebuah sugesti memori tragedi politik, atau untuk menjadi seseorang yang anti sosial dan pelit. Namun kembali ke pertanyaan saya di awal tadi. Apakah anda termasuk orang yang mudah berderma ke fakir miskin?

Mungkin ini saatnya anda berhenti membuang waktu untuk meromantisasi pandangan orang lain atas anda. Kenyataannya mungkin tidak ada yang peduli. Bukan pengamen rese’ itu, bukan pengunjung nasi uduk lainnya yang akan menilai apakah anda pelit atau murah hati, dan yang jelas bukan si pengemis gadungan yang telah anda berikan validasi untuk melanjutkan tindakan nihilnya.

Kita sendiri lah yang membentuk kebiasaan dan budaya di sekitar kita. Patologi sosial di masyarakat hanya ada karena selalu saja ada orang-orang bodoh yang memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh dan menyebar.

Validasi ini sekilas tampak lugu dan tidak berbahaya, namun menyuburkan perilaku tidak sehat. Mengingatkan saya kepada analogi eksperimen seekor katak yang ditempatkan dalam wadah berisi air yang dipanaskan secara bertahap.

Ketika wadah perlahan dipanaskan, bukannya melompat tapi katak mulai menyesuaikan suhu tubuhnya dan hal ini terus menerus dilakukannya hingga air akhirnya mendidih dan ia kehabisan tenaga untuk melompat keluar dari wadah dan mati di dalamnya. Suatu keinginan tragis dan terlambat yang seharusnya sudah dilakukan sedari awal.

Maka di akhir tulisan ini saya ingin membagikan beberapa poin observasi yang terdapat di catatan saya, yang dikumpulkan dari beberapa pemikiran yang telah saya rangkum. Anggap saja poin ini sebagai hasil observasi sementara, yang semoga berbuah manfaat.

Tulisan asli di notes saya ini di dalam bahasa Inggris. Sengaja tidak saya terjemahkan untuk preservasi makna aslinya. Kalau tidak mengerti, silakan mulai mengembangkan kemampuan bahasa Inggris anda.  

  1. Don’t love your job but love what you do. Passion only comes when you’re at the top of your game.
  2. Stop wasting time to idealize what people think of you. Truth is no one cares about you because they are too full of themselves.
  3. Don’t strive for utopian happiness. Strive on higher values. Make things around you better everyday, even 1% each would make a difference. It’s the only reason you are here.
  4. Take responsibility on a cause and be useful. If you don’t like something then do something about it. World don’t need another whiner.
  5. Constant learning. You’re either improving or degrading. If you’re still the same person as you were a month ago, you’re degrading.
  6. Things you get in life is not a reflective reward of your intrinsic being. It’s your competence and contribution that matters, not you.
  7. Speak your mind. In order to be able to think, you have to risk offending someone, including yourself.
  8. Whoever say money isn’t important is either lazy, a blunt idiot, or have their whole life laid out for them on a silver platter. You can’t build anything with no tools. Period.
  9. Unconditioned egalitarian is an illusion. Humans are complex beings and never meant to be equals. You will want smart-highly competent, conscientious people on top of the pyramids. Of course, would you want it any other way?
  10. Definition of stupidity: someone who does the exact same things yet each time expect different results. Being stupid is a pathology not an excuse of your inadequacy.

-DJ-

Disclaimer: Featured Image by Nick Seluk – HeartandBrainCoffee. theAwkwardYeti.com

 

Advertisements

0 comments on “10 Refleksi Hirarki Kompetensi dan Patologi Mental Korban

Leave a Reply

%d bloggers like this: