Advertisements
Gitar Jazz Sosok

Donny Suhendra Seputar Hollow Body dan Tape Deck

Sudah tidak ingat lagi kapan persisnya tapi sekitar akhir tahun 2017 lalu, saya sempat mengunjungi Donny Suhendra di kediamannya. Anehnya peristiwa ini tidak mungkin terlintas kalau saja saya tidak iseng membuka-buka aplikasi voice notes di smartphone saya kemarin.

Dulu saya memang punya kebiasaan merekam pembicaraan dengan tokoh, biasanya seseorang yang saya kagumi, dengan harapan dari rekaman tersebut saya bisa belajar sesuatu dari mereka.

Jadi singkat cerita ditemukanlah rekaman audio berdurasi 1.37 menit ini, yang sebagian besar berisi pembicaraan amburadul tak berarah. Tapi kiranya ada sebagian pertanyaan dan jawaban dari kang Donny yang ingin saya bagikan kepada anda.

Interview tak direncanakan ini dilakukan dalam rangka saya meminta persetujuan Donny Suhendra atas penggunaan partitur kedua lagunya, yaitu Kano dan PagiMU pada buku Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia.

Donny Suhendra sudah bermain dengan Krakatau dan menjadi bagian dari deretan legacy penting jazz Indonesia di tahun 1980an; serta berkiprah di super group Java Jazz, Adegan, dan Nera di tahun 1990an ketika repertoire kebanggaan saya masih lagu fingerpicking “More Than Words” – Extreme, yang saya mainkan untuk impress anak-anak SMP ingusan yang ikutan nyanyi fales sambil main Gameboy.

Setelah capek mendengarkan sekitar 45 menit rekaman yang terdiri dari obrolan ngalor ngidul, suara mulut saya mengunyah combro dan misro, dan curhat kang Donny tentang album trionya yang tak kunjung dirilis, akhirnya ketemu juga materi yang semoga saja bisa saya tag sebagai wawancara di blog ini.


(Bunyi musik super cadas dari rekaman trionya yang terakhir)

Ajarin dong kang nulis lagu kayak gini

DS: Hehehehh kalau bikin lagu apapun sih pasti saya tulis. Karena selain untuk mengingat, setidaknya kalau buat saya sih untuk menangkap idenya ya. Sebab kalau ngga ditulis nanti lepas lagi bisa lupa gitu.

Bukannya lebih gampang kalau dengerin rekamannya juga?

DS: Ehhm kalo sekarang sih iya, sekarang kan handphone aja bisa buat ngerekam jadi udah lebih gampang. Tapi buat saya tetap mesti harus nulis karena kadang kita kan datang ide gitu, trus main gitar. Lalu karena saya bukan perfect pitch yaa..

Kenapa, nguliknya susah ya? 

DS: (tertawa) Iya memang, jadi biarpun direkam tetap juga ditulis untuk menangkap bentuk dan idenya kan.

Iya setuju. Ini salah satu sebabnya kita menyusun buku ini untuk memudahkan akses buat semua orang karena ngga semua rekaman lama mudah didapat untuk publik, tapi sumber tertulis jauh lebih mudah diorganize

DS: Iya Dion, dulu waktu jaman saya masih kuliah saya suka mendengarkan kaset dari label Hidayat. Jadi pada waktu itu saya ketemu om Jack (Lesmana) dan Indra Lesmana, sebelum dia (om Jack) meninggal.

Jadi rupanya om Jack itu sudah merintis jalan untuk bagaimana supaya musik jazz Indonesia itu dilestarikan. Waktu itu dia mencari record label yang bisa menggalang beberapa musisi jazz untuk merekam lagu-lagu kita. Salah satu artisnya itu Margie Segers, Rien Djamain, termasuk yang salah satu saya favoritkan dulu itu mas Jopie (Jopie Item) karena pada waktu itu dia seorang multi talenta. Lalu rekaman itu ada Bubi Chen, Nick Mamahit, mas Embong, Sutrisno, Udin Syah sampai Didi Chia.

Lagunya itu lagu jazz dulu, ada yang kayak gini (…maafkan.. daa, dadada,, dadada dadaaa..pernah denger ya?) 2 menit berikutnya kang Donny menyanyikan melodi yang tidak saya kenal. Indra kali yang masih tahu lagu itu ya. Trus dicampur juga sama lagu standard kayak I Remember April, Blue Bossa.

Ada juga lagu Indonesia itu yang saya terkesan itu lagunya Sutedjo tapi saya lupa judulnya.

O iya mungkin lagu dari album Mengenang Sutedjo?

DS: Ooh kamu ada?

Ada saya kalo mau nih

DS: Mau, dan ada salah satu lagunya dia yang saya seneng itu judulnya Terperdaya (Biarkan kududuk sendirii dudu duduuu…)

R. Soetedjo bagus-bagus banget ya kang lagunya

DS: Iya makanya bagus kalau buku ini (Antologi Musik Jazz dan Populer) nanti diterbitkan, karena masih banyak orang yang ngga tahu bahwa ada tali yang terputus ya dari jaman dulu hingga sekarang ini.

Sebenarnya jazz kita pada waktu itu sudah sangat bagus lho. Ngga perlu ngomong soal teknologi, karena dengan pita dua track apa empat track mereka udah bisa bikin rekaman yang bagus kok.

Salah satunya Margie Segers yang Semua Bisa Bilang, itu salah satu upaya om Jack bagaimana untuk memperkenalkan jazz ke awam. Jadi bagus sekali niatannya om Jack. Api Asmara juga yang sebenarnya aransemen pop tapi musisi jazz semua yang main di album itu.

Jadi bagusnya itu orang-orang lebih familiar sama musisi jazz waktu itu. —Ada yang Mengenang Soetedjo di situ? (kang Donny masih penasaran melihat saya sibuk utak-atik hard disk saya yang tiba-tiba ngga kebaca)

Aduh jadi inget saya mesti backup nih, semalam hard disk saya baru crash lagi yang satu terra..

Kang saya sebenarnya pingin tahu, latar belakang kang Donny kan seni rupa awalnya ya, trus bagaimana dulu waktu awal main gitar elektrik ?

DS: Sebetulnya sih dari sebelum kuliah saya sudah suka musik. Tapi waktu itu kan mau belajar musik serius di sini belum ada yang terpercaya ya. Kalau sekarang kan udah ada banyak dan bagus, tapi kalo dulu mau dimana bingung.

Waktu tahun 1984, saya main elektrik itu kan istilahnya ‘elektrik colok’ jadi ya gitar hollow body lebih sering, kalo solid body sih kurang suka waktu itu karena rasanya soundnya tipis gitu. Tapi ya tahun itu saya mulai kenal efek gitar, beli Yamaha yang model SG lalu ya mulai coba main elektrik. Baru ’85 pas Krakatau itu baru full (elektrik).

Tapi kalo sekarang sih saya main apa saja, kadang akustik apa elektrik tapi hollow body agak jarang sih. Saya punya ES 335 juga (Gibson). Sebetulnya main hollow body itu main paling jujur menurut saya.

Main jujur itu maksudnya nyari soundnya ngga usah ribet-ribet, dan kita mau ngapain aja lebih simpel. Yaa paling sekarang kalo main hollow paling kasih delay sedikit ya, apa reverb.

Nah jadi intinya pas di Krakatau itu sebenarnya saya mulai berhijrah ke elektrik, ke Fender lah ya.

Hmm ya dari awal melihat kang Donny juga sudah identik dengan bunyi elektrik sih. Memangnya ada kesukaan apa sih di bebunyian gitar elektrik?

DS: Kayak dunia yang beda aja buat saya, kayak nylon sama elektrik dengan over drivenya, trus main hollow body juga buat saya sebuah pendekatan yang beda lagi. Pendekatannya beda, penghayatannya beda.

Jadi ngga pernah saya misalnya main tradisional jazz pake Fender gitu, karena ngga dapet. Yang agak sulit kalau main clean di Fender karena tonenya tajam, biarpun ditutup tonenya.

Mungkin memang ngga dirancang buat itu kan?

DS: Iya jadi pada waktu itu saya kan agak terobsesi dengan Allan Holdsworth, dia itu orang yang solonya jarang banget pake clean meskipun akhirnya saya nemu album ini yang dia main clean sound. Itu hal yang pada jaman itu dimainkan Scott Henderson, Allan Holdsworth karena memang pas jamannya itu. (sambil ia beringsut ke rak untuk mencari CD yang dimaksud, lalu memutarnya setelah 8 menit bergelut dengan speaker yang inputnya kresek kresek)

Sebetulnya yang buat saya dulu senang jazz itu Wes Montgomery, lalu ’84 lah pindah ke fusion ada McLaughlin. Sebenarnya McLaughlin itu memang gitaris yang main rock aja tapi dia banyak eksperimen di jazz.

Tapi kemudian tiba-tiba dia memutar Adegan (??)

Jadi sebetulnya waktu itu tabrakan, Gilang (Ramadhan) bikin Adegan, Indra (Lesmana) bikin Java Jazz.. (Sisanya saya sulit transkrip karena sudah bercampur dengan volume yang keras dan suara bercanda)

Kalo sekarang ini ada ngga kang, perubahan dari cara pandang bermain musik secara pribadi?

DS: Dari kaca pembesarnya aja. Dari awal kecenderungan buat musik itu selalu ada, dan saya selalu ingin buat musik. Biarpun musik yang belum sempurna juga. Saya ingat dulu di rumah ada gitar listrik, trus soundnya saya masukin ke tape deck. Dulu kan jamannya tape deck, nah tape deck itu kalo dimasukin di bagian mikrofonnya trus direcord itu bunyi lho, kemudian baru direkam.

Lalu saya baru mikir gimana caranya bisa dikembangkan, buat overdub. Jadi caranya pake dua tape. Saya cari tape satu lagi. Leftnya dimasukin tape satu lagi, rightnya dioverdub haahaha karena lagi pengen bikin aransemen aja. 

Semangat sih masih sama aja kayak dulu, tapi bedanya kan sekarang semua lebih gampang. Tapi saya selalu dikasih jalan terus sama Tuhan, misalnya waktu pertama rekaman di Jakarta itu saya diajakin sama Jelly Tobing. Jadinya sangat mempermudah jalan saya, kemudian saya punya band, bisa rekaman di studio sama teman-teman, ini sebelum solo lho.

Kalo momen highlights apa kira-kira?

DS: Yang paling seneng sih untuk bikin karya sendiri untuk band sendiri. Mulai dari proses bikin lagu, dilatih sampai main dengan band sendiri lalu main buat orang lain. Itu sih sampai sekarang menjadi momen-momen yang berkesan buat saya, karena lebih bisa menyampaikan ide saya ke orang-orang lain. Itu aja sih yang penting. Ah saya sih ngga pengen aneh-aneh lah, hidup biarin ngalir aja.

(DJ)

Donny Suhendra

Baca: Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia: Anotasi Konseptor 

Advertisements

1 comment on “Donny Suhendra Seputar Hollow Body dan Tape Deck

  1. Kereeeen dion , kalau boleh liput lagi donk tentang perjalanan gitaris jazz oele pattiselanno dll. Thanks

Leave a Reply

%d bloggers like this: