Dalam tulisan ringan sekaligus satir-ish ini saya ingin menjelaskankan ke-tujuh model kategori atau jenis-jenis profil dari mahasiswa musik.

Tipe mahasiswa yang saya jumpai dalam karir mengajar saya tentunya sangat-sangat beragam corak dan bentuknya, dan saya berusaha jujur, bahwa saya selaku dosen merupakan pengamat yang tekun dan akurat. Semoga.

Hasil analisis yang jelas-jelas subyektif nan general ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya sebagai dosen musik, khususnya di modul bidang kajian dengan spesialisasi khusus pada musik jazz dan populer, yaitu kelas major instrumen (bisa berlaku juga untuk major suara).

Secara garis besar saya tengarai terdapat tujuh tipe mahasiswa musik, yang dikategorikan berdasarkan temperamen, kepribadian, dan kompetensi:

  1. Si Pengalih Isu

Tipe mahasiswa ini umumnya dikategorikan sebagai golongan mahasiswa baik-baik, dan bukannya tanpa alasan. Kategori mahasiswa ini biasanya telah mencapai level mastery dalam hal keahlian mengambil hati dosen, dengan cara mengalihkan perhatiannya dari pembahasan PR dan tugas-tugas (yang tidak dikerjakan), dengan puji-pujian serta ragam pertanyaan cerdas.

Pada kategori ini, biasanya, sebelum anda para dosen sempat mengecek perkembangan dan update tugas, tanpa babibu ia akan mengutarakan hal-hal tanpa substansi, seperti: bagaimana cara anda bisa memainkan solo gitar yang tone-nya begitu indah terartikulasikan? Atau bagaimana anda melatih not-not yang begitu tasteful pada improvisasi yang anda mainkan pada salah satu video di saluran Youtube anda.

Ciri lain adalah, biasanya ia punya banyak cara untuk mengalihkan perhatian anda dari materi atau tugas yang seharusnya dibahas, dengan mengajukan beragam pertanyaan tanpa relevansi dan makna, yang sulit untuk dijawab dengan jawaban singkat.

Beberapa contoh dari pertanyaan ini adalah: “Pak kenapa ya sekarang kalo saya denger John Coltrane rasanya pusing aja? Padahal dulu ngga lho”, atau “Pak udah lihat lineupnya festival X belum? Kenapa isinya pop semua ya, kalo menurut Bapak kenapa sih festival jazz di Indonesia kebanyakan kayak gitu?”`

Tips dosen: Selalu fokus, dan hiraukan semua pertanyaan, pujian, maupun bentuk-bentuk distraction lainnya termasuk diare mendadak dan “lupa bawa kabel, mau cari pinjeman dulu”. Pastikan ia mengerti apa yang akan dilakukan selama 50 menit ke depan dan tanpa banyak cingcong langsung mulai dengan pemanasan.

  1. Si Pemalas-Berbakat

Salah satu ironi terbesar dari pengalaman saya mengajarkan kelas instrumen selama 17 tahun adalah saya kerap mendapati mahasiswa yang paling besar talentanya, biasanya masuk ke dalam golongan orang-orang termalas di dunia.

Kategori mahasiswa ini biasanya gemar mengikuti aturannya sendiri, misalnya tidak mengerjakan tugas prioritas, tapi di minggu yang sama ia bisa mentranskrip rapi 4 chorus dari improvisasi Clifford Brown di Joy Spring.

Pada periode kumatnya, ia bisa tidak muncul beberapa minggu berturut-turut, lalu datang dengan ekspresi shock ketika sadar minggu depan sudah UAS dan belum ada materi atau tugas yang selesai satupun.

Karakteristik lainnya dari mahasiswa di kategori ini adalah cerminan manifestasi ideologi yang begitu kuat dalam proses menyeleksi materi yang (dianggapnya) penting dan tidak penting. Ia tidak akan membuang waktu melatih materi yang tidak disukai atau etude kompleks dengan penjarian super spesifik yang anda telah susun berjam-jam.

Tingkat penyelesaian tugas mereka secara konsisten berkisar antara 30 hingga 40 persen per semester, murni tertolong oleh kreativitas dan musikalitasnya dalam ‘memvariasikan tema lagu jazz’. Atau dengan kata lain, beliau memang tidak pernah latihan.

Tips dosen: Meskipun berbakat, kategori ini termasuk beresiko mengalami dropout rate yang besar. Perlu diingat bahwa perguruan tinggi musik mensyaratkan mahasiswa untuk menguasai kompetensi dalam beberapa bidang kajian, bukan satu saja. Absensi dan sentimen capek hati dosen merupakan faktor resiko terbesar bagi golongan ini.

Tips tambahan: berorientasilah kepada goals yang bersifat project-based jangka pendek, meskipun itu berarti anda harus membuang semua silabus anda ke tong sampah.

  1. Si Freedom Fighter

Freedom fighter biasanya istilah yang saya gunakan untuk kategori mahasiswa yang belum bisa melepaskan krisis eksistensial masa SMA dulu, dengan cara menentang segala bentuk status-quo di struktur perguruan tinggi. ‘Pemberontakan’ ini biasanya termanifestasi melalui ekspresi penegasan politik identitas yang menuntut diskursus atas hak preferensi suatu genre musik.

Rendahnya rasa percaya diri dalam mempelajari hal-hal baru dan adanya keinginan kuat untuk dianggap istimewa di lingkungannya, umumnya menjadi pedoman generalisasi saya dalam usaha untuk memahami fenomena ini.

Kategori mahasiswa ini juga gemar menggunakan ragam preferensi genre dalam kaitannya dengan hak asasi dan prerogatif seseorang dalam mengambil keputusan; termasuk keputusan dalam memilih untuk tidak mengambil tanggung jawabwtf. Saya menengarai bahwa sikap ini kerap berhubungan dengan rendahnya kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan hal-hal baru, berkaitan langsung dengan tingkat intelegensia dan proyeksi self-image yang rendah dalam kehidupannya yang kosong tanpa makna.

Tips dosen: Faktor lingkungan sangat menentukan apabila anda ingin membantu dan mengeluarkan mahasiswa malang ini dari jurang nihilisme yang dalam. Terkadang kategori freedom fighter mampu keluar sendiri dari cangkang bodohnya dan mengejutkan semua orang.

Akar masalah dari kategori ini adalah rasa percaya diri yang rendah, jadi berikanlah mereka ekstra tanggung jawab, tegaskan batas aturan, kemudian acknowledge semua perkembangan dan kebobrokannya sejelas mungkin. (They usually worth all the efforts)

  1. Si Good Student

Ini adalah kategori mahasiswa yang umumnya memiliki reputasi dan peringkat sebagai mahasiswa teladan. Si good student biasanya selalu mengerjakan tugas dengan lengkap, cenderung perfeksionis, dan biasanya mempunyai tingkat kedewasaan emosi yang cukup. Meskipun demikian di saat-saat tertentu mereka bisa menunjukkan gejala neurotisme ketika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Di tahun-tahun awal, kategori inilah biasanya yang pertama berinisiatif mengajukan remedial, ketika mendapatkan bahwa nilai UTSnya ‘hanya’ 80srsly?.

Selain rajin dan disiplin kuliah, mereka pun biasanya mempunyai jadwal yang teratur dalam kehidupan pribadi. Selesai kuliah langsung pulang, bergaul dengan lingkaran pertemanan yang sama selama empat tahun, dan berusaha menjalani pola hidup yang lurus tak bercela.

Terus terang saya kagum dengan dedikasi dan disiplin dari para mahasiswa kategori ini, andai saja saya tidak perlu berusaha keras untuk tidak tertidur saat menyidang mereka; mendengarkan alunan musik yang begitu polished, lifeless, hampir terkesan cengeng dan tanpa greget.

Tips untuk Good Student: Please, get a life!! Seni akan terproyeksikan melalui anda, ketika anda mempunyai cerita untuk dibagikan; penderitaan untuk ditanggung; dan karakter yang dibentuk oleh pengalaman hidup. Bagaimana seseorang bisa bernyanyi tentang cinta kalau ia sendiri belum pernah merasakan jatuh cinta? Atau menyanyikan blues yang bermuara dari despair bila hidup anda selalu kinclong dimanja berbagai fasilitas tanpa pernah merasakan pahitnya kehidupan? Saya tidak menyarankan anda mulai melakukan seks bebas,  mengkonsumsi alkohol, mengambil jarum suntik dan melakukan hal-hal bodoh lainnya; tapi jujur saja waktu para dosen membicarakan anda, biasanya tidak jauh-jauh dari:

A: “Lo tahu si X? Kemarin baru pertama lihat dia nyanyi”

B: “O yaya.. Diaa.. Rajin.”

(Cricket..cricket)

  1. Si Pelawak

Kategori ini termasuk kategori favorit saya, meskipun biasanya orang beranggapan kalau saya ini termasuk orang yang serius. Dengan adanya para mahasiswa dari kategori ini hidup sebagai dosen terasa lebih ringan dan tenteram.

Si pelawak yang umumnya bertemperamen ramah dan ekstrovert ini biasanya mempunyai keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh kategori lainnya yaitu kemampuan untuk melarikan diri dari tanggung jawab dan standar kompetensi musik yang tinggi, hanya dengan bermodalkan kekonyolan mereka, baik disengaja atau tidak.

Kategori ini biasanya merupakan kombinasi dari beberapa kategori lainnya, hanya saja si pelawak biasanya yang secara jenius menemukan soft spot dari sang dosen dan mampu menggunakan keahlian tersebut untuk memanipulasi beberapa kunci indikator dari penilaian siswa. Tingginya taraf pemakluman ini akan membantu banyak si pelawak dalam melewati masa belajarnya di perguruan tinggi musik, meskipun hanya dengan modal pas-pasan.

Tips untuk Si Pelawak: Selama si pelawak menunjukkan kebodohannya melalui humor yang orisinal, pantas, tanpa maksud merendahkan atau menghina suatu individu atau sekelompok orang, (dan yang terpenting lucu), ia berpotensi untuk menjadi kandidat lulus tercepat. Namun kalau materi bercanda anda sampai kelewatan, well,, then we will crush you.

  1. Si Rajin-Non Bakat

Apabila sebagai mahasiswa musik anda merasa sudah mengerjakan segala sesuatunya dengan benar, berlatih keras untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan dosen, namun masih saja gagal untuk mendapatkan nilai yang tinggi, maka selamat! Berarti anda masuk ke dalam kategori ini.

Kategori rajin-non bakat merupakan kategori mahasiswa yang menarik perhatian kami para dosen, karena anda adalah spesimen nyata bahwa keefektifan dari tindak kreasi seni manusia adalah sebuah anomali. Anda merupakan bukti yang berjalan dan bernafas, dari argumen bahwa setiap calon mahasiswa musik perlu melakukan tahapan audisi sebelum sah menempuh jenjang terakhir dari sistim edukasi formal musik di sebuah perguruan tinggi musik.

Tapi tidak perlu khawatir, selama anda bekerja keras dan berusaha dengan sungguh-sungguh, sistim penilaian kami mempertimbangkan sebuah elemen penting yaitu: progress. Yang dengan suksesnya menambah kerumitan validitas penilaian dalam kesenian yang (konon) musti obyektif.

Tips dosen: treasure si rajin-non bakat, karena kategori inilah yang akan menguji segala kemampuan dan kapasitas anda sebagai seorang pengajar sejati. Pada beberapa kasus, kategori ini berpotensi tinggi untuk berkontribusi kepada ekosistim musik secara luas, melalui level kedisiplinan mereka dan kombinasi eksposur industri yang tepat.

Beberapa mahasiswa dari kategori ini bahkan lebih cepat dewasa dan bertumbuh pribadinya, karena situasi ini memaksa mereka untuk terus menggali potensi diri; dan menggoyahkan otoritas tradisi dari edukasi musik pertunjukan.

  1. Si Err-Nyasar

Hampir setiap dosen musik pasti pernah mendapatkan si err-nyasar minimal satu-dua kali dalam karir mengajarnya. Biasanya mahasiswa yang masuk kategori ini merupakan produk perkawinan dari tindakan over-pampering children, dengan kompromi bisnis antara pelaksana perguruan tinggi dengan yayasanlesssaidthebetter.

Kategori ini tidak hanya menjadi mimpi buruk dari setiap dosen major yang harus berkelahi dengan satu sama lain di awal semester untuk (tidak) mengajar si err-nyasar, tapi juga mimpi buruk bagi orang tua yang harus merogoh kocek dalam-dalam untuk berjudi dengan nasib.

Si err-nyasar biasanya mempunyai persepsi diri yang distorted dari kenyataan, dan belum bisa memahami sepenuhnya makna tanggung jawab atas tindakan dan pilihan dalam hidupnya. Tanpa minat, keinginan berusaha, apalagi bakat, kategori ini merupakan resep yang teramat ciamik untuk sebuah bencana katastropik.

Dalam analisis saya, terdapat dua jenis sub-kategori disini. Pertama si err-nyasar yang sebenarnya berinteligensi tinggi, mampu menemukan rasionalitas dan bergerak untuk meraihnya (dalam periode masa studi), dan tipe kedua yang bertahun-tahun berusaha membohongi diri sendiri dan orang-orang di sekelilingnya sebelum akhirnya insap (pake p) dan meneruskan usaha si papih. Kalau beruntung.

Tips dosen: Tak perlu membohongi siswa dan diri anda sendiri, begitu anda menemukan kategori ini segera katakan sejujurnya. Saya tidak bisa mengungkapkan begitu leganya saya, ketika mendapati salah satu mahasiswa eks err-nyasar telah membuka bisnis otomotif yang sukses, dan akhirnya menemukan secercah makna dalam tindakannya.

Si err-nyasar:

“Sekarang saya udah dropout dan buka bengkel mobil, pak…lumayan lah bisa bikin scale ascending-descending pake knalpot”

Me:

“THANKK GODD!! WELL THATSS GOOD FFOR YOUU!!!”

Jadi, anda masuk dalam kategori yang mana?

(DJ)

Catatan: Tulisan ini bernada satir, kalau kurang faham maksudnya mohon digoogle sendiri. Apabila anda merasa tulisan ini bias, tidak ilmiah atau karena satu dan lain hal anda merasa tersinggung dengan konten tulisan ini, maka anda adalah orang yang bodoh dan saya akan menertawakan anda. 

Bonus: Me and my idiot students

Disclaimer: Profile pic by powtoon.com

Advertisements