Disc: Pic taken from Steve Cutts’ The Rat Race

“Mencintai seseorang seutuhnya”, atau “aku mencintaimu apa adanya”. Kalimat ini sering terdengar, baik terkandung dalam lirik lagu-lagu cinta cengeng atau ungkapan quote yang terdapat di meme valentine. Ungkapan ini biasanya dimaknai sebagai berikut: Aku tak ingin kamu berubah, karena dirimu sudah begitu sempurna di mataku. Maka maklumilah semua kelemahan dan kekuranganku karena aku pun tak ingin berubah (demi) dirimu.

Proses transformasi dalam diri kita sedari kanak-kanak hingga remaja biasanya bagian dari pertumbuhan yang positif, dengan pengecualian jika seseorang mempunyai penyimpangan perilaku yang menimbulkan masalah. Tapi ketika beranjak dewasa, harapan yang tidak menjadi kenyataan, cita-cita yang putus di tengah jalan dan sebagainya, kemudian membentuk persepsi seseorang akan dunia; sebagai ruang sempit yang berisikan asumsi dan nostalgia.

Berdasarkan hasil tes Programme for International Student Assesment (PISA) baru-baru ini, ditemukan fakta mengejutkan bahwa 70% dari orang dewasa di Indonesia lemah dalam berpikir rasional dan logis. Hasil tes tersebut juga menunjukan bahwa kelompok ini memiliki kemampuan rendah dalam memahami struktur kalimat. Begitupun persentase mahasiswa yang bingung dalam memilih jurusan, atau merasa salah dalam memilih jurusan, mencapai angka rata-rata 88,5%.

Apakah artinya ini? Kesalahan dalam pola didik formal yang berakibat pada rendahnya minat dan tingkat kemampuan membaca secara umum menjadi penyebab dari penyakit ‘malas berpikir’. Standar kerja yang rendah tanpa ada keinginan untuk berubah semakin menjerumuskan anak-anak bangsa yang berkeahlian mediocre tapi mau hidup enak. Sehingga kita beralih ke media sosial, organisasi masyarakat, hingga berita hoax untuk mendapatkan validasi nilai banal mengenai hal-hal yang tidak pernah bisa kita kendalikan. Validasi dan pengutamaan afirmasi orang lain atas hidup kita pun menjadi lebih penting di masa ini.

Seseorang yang bergantung kepada afirmasi dan validasi dari lingkungan umumnya cenderung menyimpulkan bahwa tujuan dari hidup mereka yang miskin makna itu adalah untuk mencapai kepuasan hidup (dalam kurung bahagia). Namun apa benar berbahagia itu harus menjadi tujuan utama? Apa jadinya kalau setiap orang di bumi ini hanya ingin melakukan hal-hal yang dianggapnya membawa kebahagiaan, tanpa menghiraukan tanggung jawab individu serta makna eksistensial?

Jika seandainya hak untuk berbahagia merupakan hak bagi setiap warga negara, bisa dibayangkan betapa kacaunya tatanan sosial yang melegitimasi setiap orang untuk tidak akan pernah disakiti emosinya, memiliki penghidupan yang layak, plus segalanya terwujud persis sesuai keinginan mereka dan seterusnya.

Pada tulisan Follow Your Head Not Your Passion, saya menjelaskan bahwa tingkat kepuasan anda dalam pekerjaan seringkali tidak ditentukan oleh pekerjaan itu sendiri. Begitupun orang-orang yang melihat kebahagiaan sebagai satu-satunya tolak ukur kesuksesan dalam kehidupan, tidak menyadari kapasitas emosi manusia yang sangat luas.

Bagaimana jika kita semua memang butuh penderitaan untuk menjalani kehidupan secara utuh? Bagaimana jika status memang tidak pernah ditentukan oleh prinsip persamaan, sehingga tidak semua dari kita mampu memproses bahan utama yang dibutuhkan untuk maju. Beberapa orang yang berada di rantai terbawah akan mempunyai tingkat ketahanan lebih rendah untuk bisa bersaing, dan hal ini bermanifestasi ke tingginya angka kriminalitas dan agresivitas di masyarakat yang mempunyai kesenjangan sosial tinggi antara miskin dan kaya.

Saya tidak keberatan dengan ide bahwa seseorang ingin mencapai kebahagiaan dengan belajar untuk menerima dan mensyukuri situasinya, namun pertanyaan saya adalah: Mengapa harus mengorbankan hal-hal yang bisa diraih, demi menjaga identitas diri kita yang sekarang? Pernyataan ‘terimalah diri anda apa adanya’, atau ‘saya sudah bersyukur dengan keadaan sekarang, jadi tidak perlu ngoyo untuk mendapatkan lebih’, hanya terdengar malas bagi saya.

Mengambil tanggung jawab sepenuhnya atas hidup kita dan menyadari mortalitas manusia sebagai makhluk yang terus mengidentifikasi dan memaknai dirinya secara terus menerus, menjadi krusial dalam perspektif ini. Sumber-sumber yang konstan dari chaos dan elemen lain dalam hidup anda, akan mengkalibrasi tujuan sembari menyetir ke arah yang tidak beraturan. Maka nilai dari kebahagiaan, dan penderitaan menjadi setara apabila kita bisa melihat ini dalam gambaran yang lebih besar.

Masalah lain yang timbul dengan gagasan bahwa kita harus selalu berbahagia, adalah begitu banyak yang lantas merasa malu dengan beragam konflik batin yang mereka rasakan. Ini akan menjadi patologi di masyarakat: kalau anda telah memperoleh hal-hal yang disebutkan di atas, sepertinya anda punya keharusan untuk bahagia, kalau masih juga tidak bahagia maka laiknya ada sesuatu yang salah dengan anda.

Lalu pertanyaan ini bisa muncul: “Apakah ini menjadikan saya seorang yang tidak tahu berterima kasih? Tidak cukup bersyukur?” Tingkat keimanan seseorang pun bisa dipertanyakan di poin terakhir tadi.

Evolusi spesies manusia selama ribuan tahun sudah dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tingkat kompleksitas emosi yang tidak bisa disimplifikasi begitu saja melalui pengkondisian emosi bahagia, versus tidak bahagia. Jika anda ingin selalu berada dalam kondisi penuh syukur dan berbahagia, maka tidak ada satu pun yang dapat memacu anda untuk mengupas kedalaman jiwa anda; dan jiwa yang tidak memiliki tujuan, hanya akan melahirkan perspektif hidup yang nihil dan minus nilai-nilai yang mendorong pertumbuhan.

Semenjak awal peradaban, segala hal yang berbasis merit atau sistim nilai, telah menjadi fondasi dari pembentukan kebudayaan manusia dan norma budaya. Pada dasarnya kita tidak pernah mempunyai pilihan untuk tidak menganut sistim nilai, dan menghiraukan sistim evolusi yang berlaku, berbekal prinsip egaliter yang selalu ingin menyamakan segala hal.

Kesadaran akan konsekuensi pilihan dan tindakan kita dalam menyeleksi kualitas pilihan yang lebih baik dan yang tidak baik, menyebabkan manusia selalu mencari seni dan keindahan, mencari edukasi, memperbaiki tatanan sistem masyarakat, atau belajar dari seorang mentor. Pada dasarnya setiap dari kita selalu mencari sesuatu yang lebih baik, atau setidaknya ingin mengetahui perbedaannya agar mampu memutuskan dengan akal sendiri.

Mulai dari memilih tukang buah di pasar yang menyajikan buah-buahan paling segar, hingga memilih pasangan hidup, semua merupakan bagian dari seleksi kualitatif dalam pikiran kita, yang menegaskan bahwa manusia selalu meyakini adanya suatu nilai yang lebih baik dari yang lainnya.

“Jangan masuk ke gua ini karena ada binatang buas di dalamnya( gua sebelah lebih baik). Jangan makan buah ini karena mengandung racun. Jangan menikahi pria itu karena dia tidak bisa menghasilkan keturunan yang baik”—contoh ini adalah sistim penilaian kualitatif yang selama ribuan tahun evolusi manusia, sudah tertanam di tiap-tiap sel genetis kita.

Lalu pertanyaannya kenapa? Kalau anda masih belum puas dengan kondisi anda sekarang, kenapa tidak berusaha untuk menjadi lebih baik? Menerima diri sendiri atau nrimo, sering dijadikan alasan favorit bagi seseorang yang mempunyai keterbatasan, namun tidak mau berusaha menjadi lebih baik. Kepasrahan ini akan termanifestasi melalui bermacam penyakit sosial di masyarakat; termasuk kebiasaan menyalahkan orang lain atas masalah hidup yang timbul. Masyarakat yang telah dibutakan oleh pengaruh kontrol kuasa dan politik identitas, akan dengan sendirinya giat menghilangkan kemampuan untuk berpikir secara mandiri.

Jika ini merembet kepada relativitas nilai dari budaya dan kesenian, maka proses aktualisasi diri manusia di era sekarang, menjadikannya sebuah jaringan peredaran informasi yang simpang siur (terutama di internet). Menciptakan, merancang, dan mengapresiasi seni merupakan anugerah yang hanya dimiliki manusia; dan seorang guru seni yang bijak akan sadar bahwa mengajarkan kesenian sama dengan mencari-cari sebuah anomali. Meskipun di balik itu tetap ada nilai-nilai yang mampu mencerahkan (transcend) pribadi lainnya; hanya dengan output yang berbeda.

Nilai-nilai seni yang yang begitu besar dalam peradaban manusia, menjadi ragam refleksi atas puncak buah kebudayaan yang tak terhitung nilainya. Baik itu lukisan potret diri Rembrandt hingga Affandi, masing-masing karya adiluhung ini mempunyai daya tarik begitu besar yang menyebabkan orang rela untuk mengantri dan membayar untuk melihatnya. Tapi pernahkah anda bertanya apa sebenarnya alasan di balik itu? Ketika orang merubungi sebuah obyek seni atau pagelaran musik? Apakah kita bisa menaksir berapa nilai ekonomi dari seni buatan manusia yang disebut di atas; spesimen unggul dari pengolahan unsur keindahan yang dituangkan dalam medium bunyi dan bentuk? Jawabannya adalah tidak ternilai.

Miskinnya sense of beauty terutama di kota-kota metropolitan seperti Jakarta, sudah bisa terlihat dari kumuhnya pemandangan kota; buah dari rendahnya kesadaran nilai keindahan dan keteraturan. Tidak ada cara untuk meningkatkan sistim nilai apabila kita malas menjalin relasi dan koneksi antara pengakuan nilai keteraturan dan keindahan, dengan sistim sosial di masyarakat.

Jika pada akhirnya ini akan tercermin ke dalam hidup bermasyarakat sehingga tiap orang mampu mentransendensikan keindahan, dan menerapkannya ke aspek-aspek lain dalam kehidupan, setidaknya ini salah satu dari sedikit hal dalam hidup yang bisa membuat kita semua lebih beradab. (DJ)

Beauty transcend being to higher being, and open windows to the domain of the transcendence-Dr. Jordan Peterson