Advertisements
Album Review Budaya Musik

NonaRia dan Senandung Lagu-Lagu Hiburan

NonaRia: NonaRia (2018)

Resensi Album oleh Dion Janapria

Kesamaan antara grup multi gender biasa, dengan grup yang eksklusif beranggotakan wanita slash girlband di era digital ini, adalah keduanya sama-sama perlu bekerja ekstra keras. Minus pengecualian, minus privilege, meski dekade lalu grup wanita dalam musik populer masih identik dengan pengemasan yang giat menggunakan seksualitas wanita sebagai daya tarik; catatan mysoginis yang umum di industri budaya populer.

Ditambah lagi, biasanya biduan wanita dalam dunia musik populer lebih menarik apabila dikemas ke dalam sebuah grup. Sendirian, ia mewakili satu individu saja, namun apabila digabungkan ke dalam satu grup yang beranggotakan semua wanita; mendadak ia menjadi suatu kekuatan baru, simbol dari pelepasan ekspresi seni kaum wanita dalam dunia yang (katanya) patriarki.

Jadi bukan kebetulan kalau kekuatan terbaru dalam musik jazz dan populer Indonesia di awal tahun 2018 ini terkristalkan dan terwujud dalam esensi grup NonaRia.

Trio yang pada 26 Januari lalu meluncurkan debut album: NonaRia, muncul menjadi simbol keran kreatif di era yang dikendalikan oleh kaum millenial dengan menanggalkan semua jargon dan klise girlband usang, menjejalkan kreativitas dan orisinalitas dalam kerangka neo-traditionalist, sambil mengolah gaya musik Indonesia lama yang dipengaruhi musik populer Amerika di era 1930-an.

e9b9f92c367d9f72d5f716fef1b26e92

Baru mendengar track perkenalan Salam NonaRia saja, ketiga personelnya Nesia Ardi, Nanin Wardhani, dan Yasintha Pattiasina langsung lugas menggariskan benang merah dari album NonaRia sebagai ajakan untuk bergembira, melupakan nestapa dan menikmati musik bersama.

Saya kadang terheran bagaimana ketiga seniman ini bisa melakukan begitu banyak hal sekaligus; mengangkat tradisi lagu Indonesia lama, membuat karya hibrid berkualitas tinggi, dan mengemas karakter dari grup dan musik yang begitu relevan bagi pendengar urban.

NonaRia Out Now on Apple Music -klik untuk pratinjau.

Lirik yang komunikatif menyasar tema-sehari-hari, dengan kombinasi bebunyian dalam instrumentasi gaya Chicago jazz ala Louis Armstrong and The Hot Five, piano ragtime Scott Joplin yang di-mix dengan romantisisme ala Stephane Grapelli, digoreng dengan spontanitas Benyamin Sueb, menjadikan musik NonaRia sebuah hibrid yang luwes. Tindak sinkretisme yang nyaris sempurna, mampu mentransendens elemen-elemen tadi melalui humor, tema sehari-hari, serta narasi kejenakaan yang hampir kekanak-kanakan.

Lebih dari mampu mereka mengkomunikasikan pesan kepada pendengar, sambil bermain-main dengan pemilihan kosakata dan diksi Indonesia lama. Misalnya di lagu waltz Senandung yang mengandung unsur tema dan lirik yang tak lekang oleh batasan waktu dan umur.

Melodi dan lirik gubahan Yasintha Pattiasina dan Nesia Ardi ini mendadak terdengar segar di era musik yang meskipun sudah begitu ubiquitous di era digital, tapi keseragaman tema-tema musik populer masih saja tak hentinya diperas, banal dan nihil.

Keinginan menampilkan musik yang dekat dengan masyarakat melalui tema keseharian dan humor tidak melulu berarti harus menggunakan struktur musik sederhana. Seperti pada lagu Hari Bahagia, bagian tengah instrumentalia yang mengedepankan sisi eksplorasi dari aransemen NonaRia, menyimpan beberapa elemen kejutan seperti perpindahan tempo, dan nada dasar tanpa usah menghilangkan kesan bermain-main.

Lain halnya dengan 2-feel swing Sayur Labu, di mana mereka kembali mengedepankan gagasan yang jenaka mengenai hal yang begitu serius: prosesi memasak sayur labu. Melalui gaya bernyanyi yang versatile, suara Nesia Ardi di lagu ini kadang mengingatkan saya kepada gaya bernyanyi Theresa Zen, atau Noeri Satrijo dari rekaman-rekaman Irama, Remaco, dan Bali di tahun 1950-an.

images

Salah satu favorit saya, Busur Pelangi merupakan lagu bernuansa cha-cha dengan melodi dan lirik yang dituliskan oleh paman Nesia: Eppi S. Rachman. Duet Nesia Ardi dengan Junior Soemantri ini sekilas bernuansa duet lawas Ratna dan Bing Slamet di lagu Puspa Hatiku; bergaya khas latin musik 50-an yang juga bisa ditemukan di lagu Bintang Malam, atau Apabila Kau Tersenjum dari Meratap Sunji. Harmonisasi vokal dengan alur narasi yang dihiasi solo gitar sempurna dari Junior Soemantri, begitu pas-lekat menghantar cerita pengharapan ini.

Usaha NonaRia dalam mengangkat tema sehari-hari masyarakat perkotaan melalui musik hibrid yang konsisten diolah dan dikembangkan secara luwes, mengembalikan perspektif atas presentasi musik jazz dan populer Indonesia yang menggali relevansinya dengan menggunakan pintu masuk, dari sisi tradisi jazz sebagai musik hiburan.

Mulai dari narasi bercerita yang kental pada lagu-lagu ala Chicago jazz seperti Maling Jemuran, Santai, dan Antri Yuk (yang terakhir ini merupakan single yang dirilis Nonaria dua tahun lalu), hingga unsur instrumentalia yang terdengar begitu menyatu dan terintegrasi sebagai satu unit; sehingga sulit memisahkan setiap elemen tanpa mengorbankan kolektifitas mereka sebagai grup yang solid.

Kesatuan paket inilah yang menjadikan grup NonaRia begitu unik, dan tak mungkin diacuhkan dalam perkembangan musik jazz dan populer Indonesia saat ini. Konsistensi gaya bercerita dan presentasi karakter yang begitu kuat, membuat cerita mereka di album NonaRia patut didengar. Inilah pesan sekaligus humor yang disampaikan melalui musik, dengan pertama-tama menyerap kemudian menyiarkan kembali kejayaan tradisi musik populer Indonesia lama dengan cara-cara yang cerdas.(DJ)

NonaRia

NonaRia: NonaRia (2018). Musik bisa diakses dari BandTemenLoe, Demajors Independent Music Industry, dan IG @nonariamusic melalui pemesanan cakram padat.

Untuk album digital dan streaming bisa diakses di NonaRia: Salam NonaRia on Apple Music or buy it on iTunes

  • Nesia Ardi: Vokal, Solo Sisir, Drums
  • Yasintha Pattiasina: Biolin
  • Nanin Wardhani: Piano, Akordeon
  • Maha Nimrod Purba: Bass (7&8)
  • Ahot Fenderico: Bass (1,2,3,4,5,6)

Artikel lain: Kenapa Menggunakan Istilah “Musik Jazz dan Populer”?

Advertisements

4 comments on “NonaRia dan Senandung Lagu-Lagu Hiburan

  1. Pingback: Peranakan Jazz Betawi: Resensi Album Lantun Orchestra

  2. Pingback: Dimensions dan Visi Ekspansif Gerald Situmorang

  3. Pingback: Chronicles: Liku Transformasi Sandy Winarta

  4. Pingback: Fitur Single: Mery Kasiman Elektro Akustik

Leave a Reply

%d bloggers like this: