Advertisements
AMJPI Budaya Buku Musik

Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia: Anotasi Konseptor

Anotasi Konseptor: Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia

Tulisan ini dibuat untuk meluruskan beberapa potensi kesalah pahaman, sekaligus menegaskan sudut pandang saya atas polemik perbedaan perspektif dalam rangka penerbitan buku Antologi  Musik Jazz dan Populer Indonesia.

Saya berharap penjelasan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat untuk lebih memahami pendekatan saya dan tim penyusun. Terutama dari segi proses pengerjaan, format partitur, serta sudut pandang kami dalam rangka merekap sebuah teks budaya berupa partitur musik dari 173 judul lagu musik jazz dan populer Indonesia: karya dari 59 komponis Indonesia yang dipresentasikan dalam buku ini.

Maka pertama-tama saya akan menguraikan natur dari perpindahan medium bunyi ke kumpulan gambar yang kita kenal dengan notasi balok, sebelum menjelaskan pandangan sejarah sebagai kritik dalam tindakan pengarsipan kesenian yang metodenya berangkat dari perspektif alih wahana dalam musik.

Berawal Dari Bunyi

Dominasi pengaruh aksara tulis dalam tradisi pembelajaran musik barat kerap menyebabkan kita terpancing dalam sudut pandang yang keliru: bahwa seolah musik bermuara dari teks aksara. Ini sebenarnya tidak serumit debat ayam dan telur, melihat kecenderungan bahwa kesenian musik pada hakikatnya selalu cair dari masa ke masa.

Baik itu format orkes yang ditransformasi menjadi solo piano, atau karya lute yang dijadikan format gitar lengkap dengan modifikasi khas untuk mengakomodir struktur instrumen, hingga versi lagu populer yang berjilid-jilid sampai kita sulit memutuskan versi mana yang paling ‘benar’. (Baca: Mengapa Menggunakan Istilah Musik Jazz dan Populer?)

Semua ini menegaskankan bahwa yang terjadi malah kebalikannya: Teks yang berupa simbol ‘toge’ di atas kertas tidak pernah lepas dari ketergantungannya terhadap bunyi, sebagai sumber yang berawal dari hasil olah pemikiran individu, atau tindakan yang lazimnya kita sebut dengan penciptaan seni dalam kehidupan manusia.

Ambil perumpamaan seorang anak yang pertama kali mengikuti kelas musik. Dalam proses belajarnya, anak ini diajarkan untuk memahami dua bahasa sekaligus. Bahasa pertama adalah yang berupa teks bunyi, dimainkan oleh gurunya lalu dikomunikasikan melalui asosiasi auditif-kognitif dengan menggunakan instrumen piano. Lalu yang kedua adalah pengenalan bahasa teks yang berupa sederetan simbol-simbol di atas kertas yang mewakili teks bunyi tersebut.

Ketika si anak kemudian mulai belajar memaknai simbol-simbol seperti kecambah yang diasosiasikan dengan relasi bunyi ini, barulah ia mengerti bahwa apabila ia menguasai bahasa simbol tersebut, ia dapat mengubah relasi gambar menjadi bunyi (musik).

Sama persis halnya dengan anda yang pada detik ini sedang mentransfer tulisan, atau dengan kata lain sekuens simbol di layar smartphone anda, lalu mengubah sederetan gambar-gambar ini menjadi sederetan bunyi di kepala anda yang menghasilkan makna.

Bagi seseorang yang belum pernah belajar aturan baca tulis, baginya, huruf yang berderet di layar komputer atau hape anda ini hanya berupa sekumpulan gambar acak tanpa mengandung makna apapun; namun lain halnya ketika kita kemudian melisankan artikel ini untuknya ke dalam bahasa yang ia mengerti.

Hal ini mengacu ke pernyataan Sapardi Djoko Damono di dalam bukunya Alih Wahana: bahwa teks bebunyian yang lazim dipakai sebagai moda komunikasi manusia-jauh sebelum aksara tulis ditemukan, hegemoninya masih valid dan sekaligus menegaskan bahwa alat komunikasi yang pertama-tama kita rancang adalah berupa bunyi, lalu sesudahnya baru gambar.

Kaitan antar teks inilah yang kemudian disusun ulang dan dimaknai oleh pembaca, atau dalam konteks musik: pendengar. Dalam notasi balok, tanda dinamika, ekspresi, dan tempo misalnya, merupakan alat yang diciptakan untuk ‘memaksakan’ prinsip keberaksaraan ke dalam dunia kelisanan; namun konsep interpretasi musikal yang merupakan unsur penting dalam seni musik, kritis menggugat bahwa konvensi aksara notasi yang telah dilembagakan selama ratusan tahun inipun pada akhirnya harus tunduk menyerah kepada tradisi lisan.

Menambahkan ini saya ingin mengutip perumpamaan Pak Sapardi atas dongeng si Kancil. Dongeng ini dulu mungkin pernah anda dengar dari nenek anda yang menggunakan cara penyampaian lisan terbuka dan acap berubah-ubah dalam tiap penyampaiannya.

Jelas bahwa dongeng masuk ke dalam tradisi bercerita melalui metode lisan. Namun apabila suatu saat sang nenek memutuskan untuk menuliskannya, maka dongeng itu telah memasuki ranah tradisi tulis yang terkunci dan disegel ke dalam sederetan aksara di lembaran kertas (Damono, 2012).

Dari penjelasan ini kita bisa menyimpulkan bahwa tindakan merubah wahana bunyi menjadi teks atau sebaliknya, akan selalu menuntut perubahan watak dan ciri, sehingga tidak mungkin mempertahankan hakikat yang lama ke habitat yang baru. Setiap hasil dari proses alih wahana ini dengan demikian, selalu merupakan karya yang baru (Ibid).

Alih Wahana dalam Musik

Apakah ini?

IMG_5245

Jika dengan spontan anda menjawab: tupai, maka anda menjawab salah. Obyek di atas adalah foto seekor tupai, yang tidak berkaitan dengan binatang pengerat kecil berbulu secara ontologis, kecuali sebagai potret dua dimensi dari mahkluk lucu berekor panjang tersebut.

Penggambaran potret ini juga murni subyektif, sebagaimana sang fotografer memilih untuk menggambarkannya dari samping, bukan dari sisi depan, dengan pencahayaan yang menonjolkan warna kontras dari bulu indahnya yang berwarna coklat.

Namun bagaimana jika seandainya sang tupai bisa bicara, lalu kemudian memprotes sang fotografer bahwa bulu putihnyalah yang seharusnya ditonjolkan, dan pengambilan gambar dari sisi ini menyebabkan pipinya nampak tembem dan tidak sesuai dengan proporsi wajahnya. Belum lagi warna bulu yang seharusnya lebih condong keabu-abuan ketimbang coklat, mungkin sang fotografer telah menggunakan terlalu banyak filter.

Subyektifitas dalam tindakan reka ulang sebuah obyek, baik tupai maupun sebuah karya musik, merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Partitur musik merupakan kumpulan simbol aksara yang telah disepakati secara konvensi untuk mewakili serangkaian bunyi; namun ia bukan dan tidak pernah merupakan sumber asli dari musik yang diwakilkannya.

Begitupun halnya dengan dongeng si nenek tadi, yang apabila kelak dilisankan ulang oleh sang cucu kepada anaknya, berpeluang dan bersifat terbuka untuk perubahan di sana-sini. Menarik kiranya menebak-nebak apakah sang nenek akan memperkarakan interpretasi dongeng tersebut, namun yang saya ingin tekankan di sini adalah hampir segala bentuk obyek kebudayaan menganut sebuah sistem yang terbuka dan terus menerus mengalami perubahan.

Demikian pula sebuah teks yang merupakan gabungan dari sekumpulan teks-teks lainnya, tidak mungkin lepas sepenuhnya dari bias pembacaan apabila ditinjau dari perspektif intertekstualitas.

Industri musik populer yang materinya kerap diolah dengan cara-cara yang seakan menjauhkan kepentingan sumbernya, atau dalam pandangan strukturalis hal ini ditegaskan oleh filsuf Roland Barthes ketika ia memproklamirkan kematian pengarang, bahwa karya seni bersifat mutlak dan mandiri ketika ia sudah dipisahkan dari ‘induknya’ si pengarang.

Produksi makna kemudian berada sepenuhnya di tangan pembaca, yang menghayati teks melalui pemahaman yang dikendalikan oleh tenunan rumit pengalaman, impresi, dan konteks personal.

Dalam pandangan ini, pengarang tidak lagi mempunyai kuasa atas pemaknaan karyanya begitu karya itu sampai ke tangan pembaca yang secara aktif memproduksi makna baru. Hal ini berbeda dengan pandangan lama yang melihat pemaknaan karya seni sebagai perwujudan dari kepribadian atau refleksi biografis pengarang semata.

Masuk ke dalam pembahasan partitur musik, konteks kiranya sangat menentukan bagaimana kecenderungan kita dalam menimbang dua pandangan ini. Dalam tradisi musik klasik misalnya, keterbatasan cara dalam tindakan reproduksi karya sebelum diciptakannya teknologi rekaman, menyebabkan kita dulu sangat bergantung terhadap otoritas aksara notasi musik. Penting kiranya kita sadari bahwa meskipun sistem ini kelihatannya tertutup, namun sejatinya masih membuka celah untuk interpretasi silang dalam proses pembacaannya.

Awal abad 20 telah membuka satu pilihan lain yang muncul semenjak terciptanya teknologi rekaman, bahwa sumber primer untuk reproduksi karya, tidak perlu lagi murni dalam bentuk presentasi manuskrip yang cenderung mistis dan eksklusif; namun berupa sumber yang bertolak dari rekaman suara sebagai keberawalan dari bentuk presentasi seni musik yang ontologis dan dikopi secara masif. Pada masa itu keterbukaan teknologi telah memungkinkan musik untuk menjangkau lebih banyak pendengar, yang masing-masing bebas memaknai dan mereproduksi ulang karya tersebut melalui penghayatannya sendiri.

Kedua pandangan pengarsipan ini baik yang menganut istilah preservasi atau pengembangan kebudayaan, masing-masing bisa saja mempunyai alasan yang kuat; namun di luar debat mengenai dikotomi musik populer dan adiluhung, jelas di era sekarang ini biasanya tidak menjadi masalah besar bagi sebuah band Top 40 yang memainkan versi aransemen disko dari lagu Blackbird The Beatles, dan sebaliknya, masih sebuah dosa besar bagi yang nekat mengubah satu bagian dalam Beethoven Ninth Simphony.

Sejarah Sebagai Kritik

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana menentukan materi yang dipakai untuk membentuk kesadaran sejarah; dan memastikan bahwa bentuk representasi musik populer dalam notasi balok tersebut merupakan penggambaran akurat dari sebuah rekap teks kebudayaan yang nyata?

Maka pertama-tama, tahapan strategis dalam melihat kegiatan pengarsipan dan pendataan yang mencakup representasi sejarah kesenian untuk kepentingan pengembangan budaya, perlu dibedakan dengan tindakan preservasi sejarah yang mengedepankan tindakan-tindakan konsolidasi secara metodologis dan teoritikal.

Dalam rangka melihat kesenian musik sebagai sesuatu yang hidup dan dinamis, diperlukan sebuah pandangan kritis yang bertolak dari geliat kebudayaan yang relevan dulu dan sekarang.

Apabila kita berbicara mengenai pengarsipan kesenian, banyak yang masih melihat hal ini sebagai tindakan ‘pengawetan’ kebudayaan, dikunci dan dibekukan dalam sebuah teks primer; menuntut sudut pandang ontologis yang terlembagakan dan rapi disegel dalam lingkup institusional. Namun bentuk pelestarian yang berangkat dari sebuah rekap teks kebudayaan yang ditujukan untuk kepentingan sang pembaca, bukan sang pengarang, masih sering dipandang sebelah mata.

Fungsi dari buku Antologi Musik Jazz dan Populer hendaknya tidak hanya dilihat dari segi pendataan dan pengarsipan sumber primer saja, tetapi juga bertolak dari sudut pandang epistimologi yang mengedepankan manfaat dari kesadaran sejarah melalui terbukanya ruang pembacaan, serta rekontekstualisasi kebudayaan dalam bingkai budaya yang relevan.

Suatu teks hanya akan menjadi teks yang hidup, ketika kita membacanya dengan tindakan-tindakan yang memproduksi makna. Begitupun halnya dengan partitur musik yang sejatinya merupakan sederetan simbol di atas kertas yang menganut sistem terbuka, pada hakikatnya bukan musik.

Teks bergambar di atas kertas itu hanya akan menjadi musik apabila simbol-simbol tersebut diolah, sejatinya dalam pikiran manusia yang memproduksi makna baru, untuk kemudian diteruskan kepada pendengar dengan sekuens proses yang sama.

Buku Antologi Musik Jazz dan Populer merupakan buku yang ditujukan dan dipersembahkan untuk pembaca, bukan pengarang. Buku ini juga bukan sebuah buku mengenai karya-karya komponis Indonesia, tetapi buku yang bertujuan untuk merekap sebuah refleksi budaya dari musik populer Indonesia.

Karena alasan inilah, saya berharap buku ini bukan jenis buku yang bernasib seperti naskah-naskah kesusastraan Jawa klasik di abad ke-19 yang keberadaannya berakhir di sebuah ruang perpustakaan keraton Raja yang menjadi maesenasnya.

Bagi anda yang telah menyempatkan waktu untuk membaca sejauh ini, saya ingin mengucapkan terima kasih. Buku Antologi Musik Jazz dan Populer berangkat dari kepedulian untuk memperluas akses sejarah kesenian musik di Indonesia khususnya dalam ranah musik jazz dan populer.

Kiranya buku ini bisa mempunyai manfaat nyata dalam tindakan reproduksi aset-aset bangsa, yang berlandaskan sebuah apresiasi tinggi atas kekayaaan musik Indonesia; sekaligus memahaminya sebagai bentuk kebudayaan yang cair berproses dalam kelindan pluralitas bangsa kita yang majemuk dan multikultural. (DJ)

 

Dion Janapria

Konseptor dan Penyunting Utama buku Antologi Musik Indonesia Seri Jazz dan Populer, sebuah buku kumpulan partitur musik non-komersil yang diterbitkan atas prakarsa Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta.

Referensi: Damono, Sapardi Djoko. 2012. Alih Wahana. Jakarta: Editum

Advertisements

8 comments on “Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia: Anotasi Konseptor

  1. Pingback: Widyasena Sumadio dalam 300 Kata - In Memoriam

  2. Pingback: Bunyi, Aksara Tulis, dan Gambar Sebagai Teks

  3. Pingback: Kenapa Perlu Menggunakan Istilah Musik Jazz dan Populer?

  4. Pingback: Festival Jazz dalam Relasi Politik Selera

  5. Pingback: Pengarsipan Partitur Musik dalam Buku Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia

  6. Pingback: Bird Eye View on Jazz Guitar

  7. Pingback: Seni Murni dalam Dunia Manusia Sekarang

  8. Pingback: Donny Suhendra Seputar Hollow Body dan Tape Deck -

Leave a Reply

%d bloggers like this: