SA8dk2Z_

2017-12-03-PHOTO-00000021

Peranakan Jazz Betawi: Lantun Orchestra

Resensi Album Lantun Orchestra: Lantun Orchestra (2017)

Dion Janapria

Dari beberapa album dalam ranah jazz dan populer yang dirilis pada tahun 2017 ini, Chaka Priambudi dengan Lantun Orchestra-nya yang mengusung fetisisme atas musik tradisi Betawi menjadi salah satunya yang membuat saya menoleh dan ingin menilik lebih jauh mengenai proyek musik yang dikuratori, dan dirintis oleh komponis/pemain bas dari Jakarta ini.

Hibrid musik Betawi yang diangkat melalui proyek Chaka yang dirintisnya sejak tahun 2013 yang bertajuk Lantun Orchestra ini, memang masih berupa intipan dari kekayaan akulturasi budaya Betawi, dalam irisan gaya Keroncong dan Gambang Kromong.

Menyusul mini album yang dikeluarkan 2014 lalu, Lantun Orchestra baru-baru ini merilis album yang berisikan tujuh lagu; tiga di antaranya merupakan lagu yang ditulis Chaka dalam gaya percampuran dengan elemen musik Gambang Kromong.

Pecinan ditulis dalam gaya Gambang Kromong, yang disampaikan melalui melodi biola dan flute dan lirik yang ringan dan naratif. Suasana yang dibangun dengan begitu otentiknya menyentil ini mengingatkan saya pada nuansa orkes pimpinan Hasnah Tahar, yang 1950-an dulu populer dengan lagu Halimun Malam dan Burung Nuri; meskipun bagian tengah Pecinan mendadak ‘berkelit’ ke nuansa modern jazz lengkap dengan solo klarinet.

Melalui perpaduan ini Chaka menggunakan elemen kontras dengan sangat baik, untuk menimbulkan nuansa musik populer yang dibubuhi elemen improvisasi dan aransemen modern. Aransemen pada rangkaian repertoire di awal ini lebih dari cukup untuk mengakomodir lirik-lirik yang menonjolkan respon ruang atas tema perkotaan; secara umum narasi yang berbicara tentang perantauan, dan kerasnya hidup di Ibukota.

Lirik Lantun Orchestra melalui Warung misalnya, menyentil kehidupan sosial masyarakat perantauan di Jakarta yang menggunakan warung sebagai sarana bersosial dan karenanya mempunyai makna bagi masyarakat perantauan untuk terhubung dengan daerah asalnya. Mungkin ini sekaligus untuk membuka ruang bahasan atas kuatnya unsur-unsur primordial yang ditemukannya pada masyarakat perkotaan.

Suasana bermain-main dalam bingkai budaya Betawi yang campur aduk dan akulturatif inilah yang kiranya menjadi kekuatan dan nafas utama dari konsep Lantun Orchestra. Melalui Warung dan Pecinan misalnya, pengaruh Gambang Kromong, atau musik melayu yang mengambil wujud dalam irama Qasidah-an begitu kuat terproyeksikan; namun berbeda halnya dengan Topeng Monyet dan Nasi Kuning, di mana Chaka lebih mengeksplorasi orkes ini sebagai instrumen dalam bermain-main dengan bingkai jazz dan improvisasi.

Kiranya jahitan elemen ini bisa dimaknai sebagai sisi yang mewakilkan keterbukaan budaya Betawi terhadap akulturasi kebudayaan luar yang juga mencakup musik Amerika, dalam kurung jazz. Meskipun sempat tersirat oleh saya, bahwa dalam hal ini juga terkandung resiko bahwa musik yang tercipta hanya menjadi semacam tempelan hegemoni kultural, yang membawa gimmick pelestarian budaya.

Melodi Nasi Kuning dibuka dengan serangkaian melodi linear yang merambah ranah modern jazz. Rangkaian ini dijadikan pengantar pendek untuk menuju bagian tema lagu yang mengambil nafas melodi khas Lantun Orchestra yang lincah, sambil sesekali bermain dengan unsur ostinato funk. Eksplorasi dalam Nasi Kuning, hingga struktur 12/8 dari Ngibing ini cukup drastis membawa pendengar ke suasana yang kontras dengan perkenalan di awal tadi.

2017-12-03-PHOTO-00000059

Meskipun ekpektasi atas kelanjutan dari narasi suasana bermain yang komunikatif, ditekankan oleh kedua materi di awal tadi tidak terpenuhi, saya masih membaca unsur dari musik tradisi Betawi yang merupakan nafas dari Lantun Orchestra. Pola ini cukup dimengerti secara luas , dan lazim digunakan untuk membawa tradisi ke luar dari lingkaran ekosistim formalnya yang terbatas.

Melalui  pengamatan saya atas penampilan Lantun Orchestra pada konteks lainnya, saya berpendapat bahwa kaitan antara lirik lagu yang dengan kuatnya menarasikan citra presentasi musik yang membawa cerita dalam bingkai tradisi, kiranya masih bisa dieksplorasi lebih lanjut tanpa meninggalkan nafas dari eksplorasi Lantun Orchestra dengan unsur musik jazz dan populer lainnya.

Kutunggu Kau Di Salemba merupakan karya Chaka Priambudi yang menjadi salah satu andalan pada album ini; lagu balada yang mengandung lirik yang begitu sensitif dan indah, begitu cemerlang dituliskan oleh vokalis Mian Tiara. Pola aransemen dalam gaya pop ini sebenarnya tidak terlampau menonjolkan ke-Betawian dari Lantun, namun masih merupakan presentasi yang sangat indah untuk menutup rangkaian lagu.

Dalam misinya untuk mengangkat musik tradisi yang menggunakan percampuran instrumen serta sudut pandang aransemen, Lantun Orchestra cukup berhasil mencampurkan kedua dunia yang teramat berbeda. Yang satu mengutamakan narasi dengan memanfaatkan kolektifitas spontan yang timbul dari hasil akulturasi budaya; dan satu lagi yang cenderung mengambil materi musik tradisi, dan memakainya sebagai instrumen untuk melegitimasi garis tradisi pluralitasnya. Maka bisa dianggap kalau bentuk ini bukan murni musik populer yang ditempel dengan elemen tradisi, tapi sekaligus hasil akulturasi budaya campur aduk yang membuka diri terhadap unsur budaya lain.

Melihat dan menilai album hibrid ini sebagai karya dari pemikiran kolektif Chaka dan rekan-rekannya yang sebagian besar berasal dari lingkup musik jazz dan populer, saya menduga bahwa unsur tradisi di sini diusung untuk kepentingan pelestarian budaya yang bukan berasal dari sudut pandang primordial semata; namun lebih kepada penggunaan elemen-elemen budaya yang menegaskan kepedulian atas pentingnya tindakan pelestarian dan pengembangan kebudayaan nasional, yang mencakup tradisi kesenian musik Betawi.       

Seperti diurai Chaka, bahwa Lantun Orchestra digambarkannya sebagai percampuran dari konsep bermusik jazzband dan ensembel Gambang Kromong yang lalu disebutnya #betawijazz. Hal ini bertolak dari perspektif yang netral atas  semangat inovasi dan rekontekstualisasi kebudayaan yang kiranya penting untuk dilakukan, tanpa hanya memandang dari konsolidasi ontologis semata.

Pengolahan, perubahan, dan proses bermain-main dengan unsur musik tradisi selalu merupakan hasil dari tenunan budaya yang cair berproses dan sulit disaring melalui kacamata keberpihakan. Maka cukuplah kita menikmati musik Lantun Orchestra sembari banyak-banyak mensyukuri usaha lintas budaya dan keragaman ini.

Dion Janapria

2017-12-03-PHOTO-00000022

index

Album Lantun Orchestra: Lantun Orchestra dapat diakses di iTunes, Spotify, dan Deezer. Untuk pemesanan cakram padat melalui jalur distribusi Demajors dan Band Temen Loe.

Lantun Orchestra: Lantun Orchestra (2017)

Executive Producer: Sarah Isyaturrodiyah

Music Composer & Arranger : Chaka Priambudi

Musicians:

Chaka Priambudi – Bass on track 1,2,3,4,5,6 Gambang on track 3, Keyboard on Track 2

Tata – Vocal on track 1,2,7

Asri Hardjakusumah – Violin, Violin Solo on Track 3

Armiya Husein – Flute on Track 3*

Donna Koeswinarso – Flute on 1,4,6,7 Alto Flute on track 5

Rigen Handoyo – Trumpet solo on track 6

Cindy Jessica – Trumpet on Track 3*

Yoseph Sitompul – Piano on Track 4,5,6,7

Ghilman Rama – Gitar on track 1,2,4,5

Arnando Putra – E.Guitar on Track 3

Edward Manurung – Vibraphone on Track 4,5

Kabul Oktavianus – Kendang on 1,2,4,5,6 & Kromong on track 3*

Mehdy Marsidiast – Kendang on Track 3*

Beni Briansyah – Suling on Track 2

Bimo Haryo – Clarinet Solo on Track 1

Guest Musicians:

Imelda Rosalin – Accordion on Track 5,6

Arief Setiadi – Tenor Saxophone Solo on Track 5

Strings:

Yasril Adha – Violin I

Pritha Hayu Adzhari – Violin II

Yusuf Kus Cahyadi – Viola

Aryotomo Hernasto – Cello

 

*Recorded by Syukron March 3rd, 2016 @Otti Jamalus Music House

Recorded By Hardi June 17th, 2017@Artsound Studio 1 & 2

Mixed & Mastered by Aryo Seto @ArtSound Studio 3

Cover Artwork & Design by Dek Lestari

 

Cover photo by Intan Soekotjo on Google Plus