Tulisan pendek ini saya dedikasikan untuk kepergian seorang sahabat, mentor, sekaligus tong sampah penampung keresahan saya beberapa tahun terakhir: Widyasena Sumadio.

Saya tahu dia pasti benci dengan istilah itu (tong sampah), karena setiap sampah yang saya utarakan selalu disambit balik ke saya; walhasil di akhir setiap ‘sesi’ mentoring saya selalu merasa berlumuran sampah.

Mas Wid seorang yang cerdas, bukan booksmart dalam kategori akademisi, tapi cerdas dalam konteks seorang enterpreneur dan komunikator ulung, dengan hati untuk berbagi. Makanya ia sering mengoceh mengenai ‘extra miles’ yang para penggiat musik perlu lakukan untuk menghidupkan musik Indonesia.

Semasa hidupnya ia seorang yang menjalankan hidup dengan berani, jatuh berkali-kali, namun mempunyai semangat tinggi untuk berbagi, mengajar dan belajar dari orang lain. Saya menduga pada dasarnya ia berjiwa seorang guru sejati, 10 kali lipat lebih daripada saya ini yang senang mengaku-ngaku edukator.

Dia tahu saya sering tidak mengerti apa yang sebenarnya saya lakukan, dan tak pernah sekalipun ia ragu mengutarakannya. Buat saya Widyasena adalah seseorang yang paling tepat untuk menguji konsep, pemikiran dan gagasan mengenai musik dan budaya, karena dia ngga akan pernah nge-fur atau endorse pemikiran saya dengan mudahnya.

Baik itu tulisan-tulisan amatir saya komplit dengan revisi kejam, meramalkan kegaduhan proyek buku Antologi, hingga pengkritik sekaligus pendukung nomor satu program Gulir Bunyi; semua dilakukan sembari menyelipkan wejangan dan dukungan (yang dia tahu saya butuhkan) meski saya gengsi memintanya.

Kalau berhitung jumlah sesi ngopi ala Widyasena, dikalikan jumlah tarif konsultasi (yang sering disombongkannya konon mencapai 7 digit), mungkin sekarang dia sudah bisa beli mobil baru, atau kedai kopi. Bermodalkan amal dan perbuatannya semoga dia berada di tempat yang lebih baik. Mungkin tulisan sentimental ini muncul karena saya cuma merindukan seorang teman; tapi baik saya akan stop di sini untuk memenuhi tantangan terakhir dia untuk saya: latihan menulis hanya dalam 300 kata.

Rest in peace Mas!

Dion

FullSizeRender(4)