Dimensions

Gerald Situmorang: Dimensions (2017)

Album Review & Interview by Dion Janapria

Sulit menemukan kualitas seniman yang begitu versatile, dengan mudahnya keluar dari kotak-kotak kategori definisi seperti yang saya temukan dalam sosok basis, gitaris, penulis lagu, band leader dan produser Gerald Situmorang. Definisi sempit atas pengkotakan: GeSit pemain bas Barasuara, gitaris Monita & The Nightingales, GeSit si gitaris jazz, atau GeSit si artis solo, tidak dapat diberlakukan atasnya yang seakan menolak pelabelan suatu identitas singular.

Mengenai album solo terbarunya (yang juga diproduseri sendiri): Dimensions, kontrol aliran kreativitas ini berasal dari tempaan alur perjalanan karir musik Gerald Situmorang yang dengan gamblang dipresentasikan dalam alur yang dirancangnya sendiri.

Bila menilik semua media karya yang telah ia presentasikan sebelumnya, antara lain melalui proyek akustik instrumental Sketsa, kwartet jazz Hemiola, proyek instrumental Gerald Situmorang Trio, hingga album solo pertamanya  Solitude; Dimensions jelas menawarkan dimensi baru dari sosok Gerald Situmorang yang dinamis dan ‘ridicoulosly’ kreatif.

Entering The Dimensions

Ketika pertama mendengar pembukaan yang megah ini, saya langsung menangkap apa yang ia maksud ketika beberapa bulan lalu kami berbincang di radio Ruru mengenai ‘proyek rahasia’ yang tengah dikerjakannya bersama Marco Steffiano (produser dan drummer Barasuara) sejak awal tahun ini; Gesit jelas punya beberapa agenda kejutan di kantongnya. Bunyi synth bass yang berasal dari Moog Sub 37 yang menohok ini tidak pernah saya bayangkan akan keluar dari album seorang Gerald Situmorang setelah mendengar Solitude yang sentimentil (meskipun dia tak pernah mau mengakuinya).

Apakah ada kaitan gagasan antara kedua album solo: Solitude dan Dimensions? Dan apa sebenarnya aspirasi anda untuk album solo kedua yang kontras ini?

Kesamaan dua album ini adalah, keduanya itu aku ngga pernah nyangka akan beneran kerjain. Kalo Solitude itu memang karena pengen bikin album solo gitar, sekaligus bikin memorial sama ruangan rumah Marco yang aku sering latian di situ, akhirnya Solitude itu menjadi kenang-kenangan dalam bentuk musik.

Kalo album Dimensions karena banyak hal sekaligus, memang semenjak awal tahun ini aku memang banyak ngulik sound elektronik,, dan mungkin secara ngga sadar juga terpengaruh musiknya Tame Impala, Brad Mehldau dan Mark Giuiliana atau Bon Iver kalau dari folk. Jadi pas banyak ngulik ‘instrumen’ baru ini aku ternyata banyak banget nemu inspirasi yang akhirnya dipakai buat materi Dimensions.

Membuat musik dengan balutan nuansa elektronik dari fondasi bunyi synthesizers, merupakan benang merah gagasan Gerald dalam menggarap Dimensions: sebuah album yang menggunakan medium suara full elektronik dengan sequencers, kreasi bunyi synthesizers, effects dan drum elektrik.

Namun eksplorasi bebunyian ini tidak semerta-merta menjebaknya ke dalam tipikal gaya musik EDM (yang saya sempat imajinasikan sambil bergidik waktu ia berceloteh penuh semangat mengenai Dimensions di Ruru beberapa waktu lalu). Gerald Situmorang menggunakan instrumentasi baru ini persis seperti halnya ia memperlakukan elemen-elemen musikal dalam format-format lainnya; murni sebagai medium penyampaian gagasan seni yang personal.

Dari banyak skill yang anda punya, apa sebenarnya yang paling anda enjoy doing? GeSit sebagai band leader? atau penulis lagu, gitaris, basis, producer?

Dari dulu sih aku selalu suka banget nulis lagu dan ngerekam ya, terutama buat musik sendiri;  itu masih jadi hal kesukaan aku yang paling utama sih. Kalau aku menganggap diri aku sebagai gitaris atau basis, itu sebenarnya lebih kayak perantara aja buat nganterin aku menyampaikan musik, jadi itu kan nyambung semua ya, inti isinya ya tetep gagasan aku buat nyampein lagu ke pendengar.

Pembukaan track Dimensions yang begitu perkusif ini hampir mengingatkan saya pada pola Taganing dari Gondang Batak-entah disengaja atau tidak. Namun polyritmik yang terbentuk dalam pembukaan track kedua ini saya tengarai menjadi cetak biru album ini atas konsep pendekatan ritmikal dan pemaduannya dengan bunyi elektronik. Di sini Gerald menunjukkan kualitasnya dalam meramu unsur sequencer yang menjadi fondasi melodi hitungan double time dengan elemen kromatik dan akurasi nada yang impresif.

Ramuan ragam eksplorasi spasial, serta sekuens demi sekuens melodi yang penuh dengan interaksi call and response ini membuat saya hampir jungkir balik di mobil ketika pertama mendengarnya. Begitu intens.

Nampaknya Dice memang mempunyai makna spesial bagi GeSit, apalagi lagu ini merupakan pilihannya dalam rangka memperkenalkan konsep Dimensions, melalui single dari penggarapan ulang materi lama Gerald Situmorang Trio ini. Mungkin bukannya tanpa alasan. Melodi Dice memang mempunyai kualitas ‘evergreen’ yang tak lekang waktu dan bisa diolah dengan berbagai macam cara.  

Saya suka rework Dice! Adakah sisi lain yang ingin anda tampilkan di versi ini? ada maksud tertentukah

Awalnya Dice ini aku kebayangnya versi rock banget, dan udah kebayang untuk ngerjain ini buat materi album Gerald Situmorang Trio yang kedua plus sound synth. Tapi pas udah jadi aku pikir kayaknya ini udah bukan soundnya Gerald Trio jadi akhirnya aku memutuskan ganti soundnya semua, ganti dengan bermacam variasi synth dan ternyata jadi menarik dan lucu juga.

Dimensions ini inspirasinya dari kehidupan, ibaratnya kayak Dice (dadu) yang kita ngga bisa kendalikan sepenuhnya apa yang kita dapatkan. Banyak eksperimen aja sih, dan aku misalnya juga kebayang kalo ini synth solo bukan gitar..ini Sri Hanuraga pastinya lah haha ,, aku dah kebayang bunyinya semua di kepala. Ya semoga bisa jadi hal yang menarik aja sih

Beberapa lagu lainnya di Dimensions yang cukup kontras, seperti Space dan Denyut Kehidupan, sedikit banyak mengingatkan saya kepada materi Solitude. Di sini dapat dijumpai beberapa karakteristik khas Gerald Situmorang melalui susunan melodi yang komunikatif, struktur form yang balans serta mengandung elemen-elemen kejutan.

Dalam Dimensions, secara umum Gerald dengan luwesnya menekankan pengutaraan melodi-melodi indah dengan frase-frase panjang; melodi yang mengandung cerita dengan nuansa childlike qualities dan personalisasi yang kuat.

Kenapa Denyut Kehidupan satu-satunya lagu yang berjudul bahasa Indonesia dan diletakkan di akhir?

Momen aku nulis lagu ini pas habis dapat kabar bahwa papanya sahabat aku meninggal, ngga lama setelah kejadian itu aku lagi humming di rumah sambil main gitarlele, dan akhirnya dapat beberapa melodi lagu ini.

Tahun ini sih khususnya ada beberapa kejadian lain dalam hidup aku, kayak mas Riza Arshad meninggal, papaku juga sempat masuk rumah sakit karena stroke, yang membuat aku  berpikir banyak tentang kehidupan. Karena itu Dimensions ini memang aku buat untuk kehidupan dan lika likunya, dalam pikiran aku. Dan Denyut Kehidupan ini cocok aja untuk penutup album ini,,lagu yang simpel, tanpa solo juga.

Kenapa bahasa Indonesia? Mungkin karena penyampaiannya akan lebih nyampe aja, misalnya ada lagu Solitude yang Menahan Rindu, itu kayaknya lebih pas aja bahasa Indonesia, dan biasanya ini materi yang spesial.

Bisa ceritakan lebih banyak soal track Parallel Universe?

Aku sering mikir tentang kehidupan dan alam semesta, seperti,,apa sebenarnya tujuan kita  disini? Apa mungkin ada dunia paralel di mana ada versi diriku yang serupa tapi ngga sama, dan hal-hal seperti itu,,buat lagu-lagu di Dimensions approach nulisnya memang agak beda, kebanyakan aku buat back musicnya dulu dan mikirin dari mood aja dulu. Dan di Parallel Universe ini aku memang mau buat lagu yang instrumentasi dan chordnya simpel, tapi megah, dengan banyak melodi yang dimainkan secara unison.

Di lagu Parallel Universe part 2 juga ada fragmen speech dari kakak aku, Farina Situmorang, tentang kehidupan, dimensi dan universe, karena pas aku combine dengan materi ini ternyata bagus banget dan moodnya pas dengan tema yang mau aku angkat

Kedua track yang dipresentasikan secara episodik ini memang merupakan salah satu highlights yang secara lengkap menyajikan tajamnya musikalitas proyek Dimensions;  mulai dari presentasi tema melodi akhir Part 1 yang menghipnotis, improvisasi Gerald yang lebih agresif, serta struktur rumit dari pengembangan bebunyian yang mengelaborasi rangkaian cerita ini secara sempurna.

Eksplorasi bebunyian tanpa batas, dan high octane nuansa rock dari Outer Dimensions dengan sukses mentahbiskan album ini sebagai bagian dari dimensi baru Gerald Situmorang. Penggunaan elemen kontras melalui perubahan tempo di bagian akhir, hingga suspense pada bagian bridge yang dibangunnya secara impresif; dengan melodi yang begitu bebasnya bergerak menjadikan lagu ini sangat bernuansa episodik. Begitu pun halnya dengan Infinite Possibilities, di mana Gerald menjadikan medium lagu sebagai area bermainnya yang penuh dengan eksplorasi, kejutan, dengan penekanan pada lapisan-lapisan bunyi seperti halnya pada Outer Dimensions, dengan struktur melodi yang sangat lirikal.

Apabila ada salah satu hal yang saya kagumi dari Gerald Situmorang, adalah bakat alaminya dalam merangkai melodi. Infinite Possibilities memungkinkan terbentuknya ruang eksplorasi melodi, di mana ia leluasa bisa bermain dengan melodic gift yang ia miliki. Hal ini dilakukan melalui permainan sekuens panjang dengan variasi penempatan melodi, dan birama yang dimodifikasi untuk mengakomodir gagasan narasi musikalnya. Melodi yang bergerak secara bebas tanpa dibingkai secara ketat di lagu ini merupakan rancangan narasi yang sempurna dalam mengeksekusi gagasan melodi Gerald.

Perpindahan medium instrumen akustik ke elektronik ini bagi saya bukan merupakan sebuah gimmick atau bagian dari rancangan Gesit untuk meraih hati kalangan tertentu; apa yang saya dengar dalam Dimensions merupakan sebuah evolusi seni yang sudah laik dan seharusnya.

Sebagai musisi, dengan mudahnya ia bisa saja mengamini apa pun definisi yang dicitrakan publik tanpa harus bersusah payah mengambil resiko dan berinovasi; Gesit sebagai pemain bas grup band Bara Suara, sebagai pentolan Sketsa, dan sederetan cap lainnya; namun bak seniman tulen yang haus akan perubahan, bijaksanalah ia yang tidak pernah terjebak ke dalam pola pikir industrialisasi yang menuntut pengkotakan definisi dengan citra karir yang singular.

Dimensions merupakan salah satu angin segar di tahun 2017, sekaligus pengingat bahwa inovasi dan eksplorasi harus terus menerus dilakukan, begitupun perubahan harus diagendakan. Karena hidup dan nafas kesenian berputar dalam pengembangan, dan absennya hal tersebut merupakan tanda bahwa ia sedang sakit dan sekarat; dan melalui Dimensions, GeSit si lincah dan cekatan membuktikan bahwa ia mampu melompat sangat jauh menghindari stagnansi.

Dalam pandangan anda sebagai musisi, apakah hal yang menurut anda paling worth sharing sekarang ini?

Kadang pengalaman hidup yang kita dapatkan, meskipun sedih atau pahit tetap bisa dijadikan hal yang positif kalau dituangkan ke dalam karya. Sebagai artis yang berkarya, kadang kita ngga tahu seberapa besar pengaruh dari karya kita ke hidup orang lain. Meskipun aku kadang juga ngga mikir sampe kesana ya, gimana lagu aku bisa nyampe ke hati orang dan segala macam itu menurut aku cukup spesial. Kalo yang kita lakukan bisa berguna buat orang lain,, ya itu salah satu hal yang paling mahal sih di kehidupan ini menurut aku.

Dion Janapria

Gerald Situmorang: Dimensions (2017), bisa diakses melalui iTunes, Apple Music, Spotify, Tidal dan Pandora. Kontak IG @gesitmerch untuk pemesanan cakram padat.

Gerald Situmorang: All Synth (1-9), Electric Gitar (2-8), Guitalele (9), Electronic Drums (2-8), Voices (2,5) Keyboards (1,3; 6,7)

Marco Steffiano: Effects (2,5,7), Electronic Drums (6)

Randy MP: Effects (3)

Adra Karim: Synth Bass (1,5), (2,6,7), Effects (8)

Baskoro Juwono: Voices (2,5,8)

Jason Mountario: Voices (2)

Sri Hanuraga: Acoustic Piano (4,5,9) Synth Solo (3)

Shadu Rasjidi: Electric Bass (5)

Enrico Octavioano: Electronic Drums (8)

Farina Situmorang: Narration (6)

Monika Sitompul, Pitri Harefa, Novantri Pangaribuan, Tumpak Hutagaol, Choky Pakpahan: Choir (1,7)

Featured Image by Goethe Institut Indonesien – Alur Bunyi

maxresdefault