cover

Julian Banks Group: “Agung” dan Eksotisme Interkultural

Resensi album Julian Banks Group: Agung (2017)

Dion Janapria

Interaksi musik dan budaya antara Timur dan Barat, laiknya tidak hanya berasal dari gerakan multikulturalis yang tumbuh di tahun 1980-an dalam bingkai etnomusikologi di UCLA Amerika Serikat. Setidaknya dari mata saksofonis asal Australia Julian Banks, proses penggabungan elemen ini bukan semata respon terhadap tren sosial politik ataupun simbol hubungan bilateral Australia dengan Indonesia, namun lebih kepada kuatnya relasi persahabatan dan koneksi musikal yang dirasakan; dalam bermain bersama penabuh kendang sunda Cepi Kusmiadi 2015 lalu di Ubud Village Jazz Festival.

Julian yang sebelumnya spontan merekam “Ron’s Song” untuk materi EP trionya yang berjudul Julian Banks Trio, mengolah lebih jauh hasil dari relasi tersebut, meskipun sekaligus mengambil resiko untuk digeser-geser ke ranah yang sering disakralkan, yaitu pelabelan jazz dalam lingkup ‘World Music’. Namun secara pribadi, saya menduga bahwa “Agung” murni bertujuan untuk meraih perspektif yang lebih besar dalam mencari pandangan dan relasi universal yang muncul dari diversitas latar belakang budaya (Australia dan Indonesia).

Melalui album Agung yang direkam pasca Ubud Village Jazz Festival 2015, Julian menangkap momentum dengan merangkai bingkai dalam trionya dengan Cepi Kusmiadi sebagai unsur eksotis, sekaligus dorongan inspirasi dalam gagasan produksi album ini. Lagu “Agung” yang masih berada dalam ranah trionya sendiri, merupakan rangkaian dari melodi linear yang merupakan kekuatan dari komposisi-komposisi trio Julian. Sensitivitas melodi dari “Agung” yang hanya berlandaskan empat frase musikal, dinyatakan, diulang, dan diproses dari awal hingga akhir lagu, menciptakan kesan episodik dan alur cerita yang tak berakhir.

Konsistensi Julian Banks dalam mempresentasikan melodi-melodi kuat yang diartikulasikan hampir seperti pendekatan lagu pop; tanpa menggunakan bagian bridge, atau bagian transisi lainnya, merupakan benang merah yang merangkai ke-enam lagu ini. Lagu “As Well” dan “Lady Face” juga menggunakan formula penciptaan yang disebut olehnya sebagai “Tunes that have an almost ‘song’ like feel to them”, menjadikan bunyi keseluruhan terdengar folk-ish dan sangat lirikal. Konsep yang membawa benang merah dan nafas dari Julian Banks Trio ini demikian kuatnya terdengar dalam keseluruhan lagu dalam album Agung.

Sayangnya pendekatan konsep melodi Julian yang demikian kuat dan konsisten ini bukannya tidak membawa konsekuensi, dalam misinya yang bertujuan untuk mencari baur dan dialog dengan Cepi. Bahkan pada awal lagu seperti “Round Trip” dan “Eulogy For A Friend”, yang idealnya dapat membawa dialog yang lebih bersifat mutual, ternyata harus dikembalikan lagi kepada bingkai Julian dan trionya. Bingkai yang begitu dominan; sulit ditembus oleh kekuatan dari instrumen kendang sunda dan Cepi Kusmiadi.

Ditinjau dari sejarah interkultural musik, bagaimana musikolog Colin Mcphee bertahun-tahun mentranskrip elemen gamelan Jawa ke dalam sistim instrumen Barat di 1932, komposer John Cage dan Debussy yang menggunakan elemen oriental murni sebagai konsep filosofis di tahapan transendental; bukan cuma dari sisi ontologisnya; hingga kerja keras almarhum pianis Riza Arshad yang membutuhkan waktu 17 tahun, dan enam album dengan grupnya Simak Dialog, hanya untuk mematangkan konsep inter-locking dengan menggunakan kombinasi instrumen dan bingkai genre yang hampir serupa. Hal ini menunjukkan bahwa pembauran idiom musik inter-kultural, bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.

Ruang yang terbatas yang saya rasakan akhirnya sedikit terobati dengan lagu “Uluwatu” yang memberi ruang lebih kepada Cepi Kusmiadi untuk bergerak lebih bebas, setelah pada lagu-lagu sebelumnya kendang hanya difungsikan sebagai warna; dan bingkai grup tersebut laiknya gelas yang hampir penuh dan sulit diisi dengan hal baru. Saya beranggapan bahwa elemen kendang sunda dalam album ini belum difungsikan dengan optimal, seakan dijauhkan dari habitatnya yang mendambakan komponen inter-locking antar instrumen. Jahitan ini belum matang dan masih agak jauh dari gagasan bingkai komposisi sebagai vehicle ideal atas hibrid dari gaya jazz dan instrumen tradisi.

Julian Banks yang baru saja menuntaskan tur Bali-Australia dalam rangka mempromosikan Agung, terinspirasi dari sebuah persahabatan dan momentum yang demikian kuatnya dengan Bali, dan musik dari Cepi Kusmiadi. Dalam pandangan saya, album ini tetap merupakan gagasan kolaborasi interkultural yang segar; dan sanggup membuka ruang diskusi baru dalam iklim jazz Indonesia sekarang ini. Album Julian Banks Group: Agung merupakan sebuah rekap gagasan dalam proses pencarian yang tak lekang waktu, dan laiknya akan menuju transformasi Julian Banks dalam memproses gagasan-gagasan mengenai multikultural secara transendental.

Dion Janapria

 

Julian Banks Group: Agung (2017)

Julian Banks: Tenor Saxophone

James Gilligan: Bass Guitar & Pedal Steel

James Hauptmann: Drums & Percussion

Cepi Kusmiadi: Kendang Sunda & Percussion