IMG_4502

Chronicles: Liku Transformasi Sandy Winarta

Resensi Album Sandy Winarta: Chronicles (2017)

Dion Janapria

Merekap momentum pengalaman yang terinspirasi dari pengalaman dan memori biasanya merupakan tema klise dari landasan penciptaan karya musik. Tapi untuk seorang Sandy Winarta nampaknya saya harus membuat pengecualian.

Seorang seniman dan relasinya dengan momentum adalah mutlak sifatnya, keras tanpa kompromi dan tidak bisa diganggu gugat. Begitupun laiknya usaha seniman menuangkan gagasan melalui wahana seni merupakan esensi dari sifat manusia yang haus akan perubahan, yang apabila stop berproses, akan berakibat pada berakhirnya keberadaan dirinya sebagai mahkluk kreatif.

Sandy Winarta tahu persis apa yang dilakukannya ketika berusaha menuangkan momentum rasa atas pengalamannya hidup, bekerja, dan belajar di The New School, New York 2014-2015 lalu, melalui debut album Chronicles (2017). Bukan hanya sebatas instrumen baru, misalnya presentasi benih pikiran dari Amir Ziv dalam lagu A Ziv’s Thing yang berpusat pada naturalitas dalam teknik drum, namun lebih kepada kemampuan untuk mengurai simpul ruwet; dan membahasakannya dengan gaya yang jauh dari kesan congkak.

Blues for Jean Michel. Memainkan blues 10 bar mungkin bukan gagasan ideal bagi kebanyakan pendengar jazz yang terbiasa dengan jumlah 12. Begitupun mudahnya musisi untuk masuk dalam jebakan: menjadikan hal yang rumit menjadi tidak berbudaya. Namun salah satu drummer jazz terbaik di Indonesia ini mempunyai kendali penuh dalam menahkodai tim kelas satu: pianis Kevin Suwandhi dan basis Indra Gupta; memimpin dalam bahasa yang fasih dan lugas menyampaikan alur-alur narasi gagasan musik melalui interaksi antar ketiganya.

Momentum yang berasal dari residu pengalaman, pandangan baru dan nuansa yang ia alami; mulai dari perjalanan kereta (Train Song) hingga bertemu dengan sosok mentor yang inspiratif, juga membuahkan interpretasi dan pandangan baru, termasuk dalam cara mengolah lagu jazz standards. Melalui All Blues, Rhythm A Ning, Beatrice, serta My Foolish Heart (yang mengingatkan saya pada versi Bill Evans); Sandy menekankan sebuah ruang gagasan mengenai filosofi jazz dalam bingkai tradisi, yang dibalut dengan orisinalitas tingkat tinggi.

Pujian khusus perlu diberikan kepada pianis muda Kevin Suwandhi dengan gaya bermain yang adventurous, high clarity, menuju eksplorasi tanpa limit. Pianis jazz dengan talenta istimewa yang sungguh layak mendapat perhatian di era ini, melalui diversifikasi nuansa permainan Thelonius Monk hingga Taylor Eigsti. Adapun Indra Gupta tidak bisa dipungkiri merupakan basis jazz kelas atas yang kerap bekerja dengan Sandy di Keytar Trio-Indra Lesmana, dan menjadi bagian penting dari pergerakan jazz di Bali, yang pada 2017 ini telah menjadi bagian integral dari scene jazz nasional yang penuh inovasi, seiring dengan menyurutnya infrastruktur di Jawa dan Jakarta khususnya.

Melalui empat komposisi orisinal di Chronicles, Sandy Winarta berusaha menorehkan nuansa dan impresi baru, termasuk dalam proses pengerjaan ulang Green House; komposisi yang direkam tahun 2010 lalu bersama grup Sarimanouk. Perubahan yang cukup drastis saya rasakan dari segi kedalaman dan kematangan materi, yang mensahkan sebuah alterasi Sandy Winarta melalui Chronicles. Transformasi yang wajib, terlalu kuat untuk ditolak, dan indah berproses laiknya sebuah aksioma lama: ‘satu-satunya hal yang tidak pernah berubah dalam dunia manusia tidak lain adalah perubahan itu sendiri`.

Dion Janapria

Sandy Winarta: Chronicles (2017)

Sandy Winarta                  Drums

Kevin Suwandhi               Piano

Ida Bagus Indra Putra     Ac. Bass

Chronicles dirilis versi digital di iTunes, Spotify, Deezer, dan Apple Music. Kontak Sandy Winarta untuk versi fisik.