-Resensi Album oleh Dion Janapria

Motif untuk mengambil tema lagu-lagu Indonesia lama tak usah selalu berasal dari semangat heroism dan nostalgia untuk mengembalikan sesuatu yang ‘sudah lama hilang’.

Meskipun mesti saya akui kalau tindakan mengasah nasionalisme dengan mereproduksi karya musik nasional dan tradisi dari para pendahulu, biasanya memiliki poin lebih sebagai bentuk komodifikasi kebudayaan yang laku mengusung tema-tema yang bersifat heroik (terutama menjelang bulan Agustus).

Tapi apakah cuma hal tersebut yang seharusnya menjadi motif utama dari tindakan reproduksi karya-karya komponis tanah air terdahulu? Bagaimanakah halnya dengan motif yang berdasarkan rasa ketertarikan dan kehausan akan eksplorasi estetik?

Atau motif lain yang lebih bersifat intrinsik/egoistik: yaitu mengambil materi lagu-lagu tersebut sebagai bahan eksperimentasi; tools dalam mengembangkan ciri ekspresi berkesenian untuk kepentingan si seniman sendiri?

Mudah bagi kita untuk mengaksentuasi romansa kepahlawanan dalam melihat reproduksi ulang karya musik terdahulu. Tapi bukankah unsur yang juga penting dari tindakan preservasi budaya adalah relevansi konteks dalam interpretasi seorang seniman?

kover

Adapun konteks yang saya dapatkan dari album Sri Hanuraga Trio feat Dira Sugandi dalam Indonesia Vol.1 keluaran Azura Records ini, merupakan sebuah proyek identitas dalam rangka pencarian sintesis bahasa-bahasa baru dalam berkesenian. Khususnya bagi pianis Sri Hanuraga.

“Trio ini berawal dari festival Freedom Jazz di iCan Studio Live, lalu lanjut ke Museumseferfest Festival di Frankfurt. Sejak itu kita featuring Dira. Memang saya selalu tertarik untuk mengolah lagu-lagu tradisi. Sebagai orang Indonesia saya ingin mencari cara untuk memainkan lagu-lagu ini dengan pendekatan baru, eksplorasi baru, sehingga bisa mendapatkan konsep harmoni baru yang khas”, tuturnya dalam pembicaraan kami.

Mengenai kekhasan ini ia menambahkan, “Ini yang juga menjadi cara dari Bartok sampai Tigran Hamasyan, bagaimana mereka mengolah materi tradisi bangsanya sendiri, sehingga menghasilkan sound individu yang khas. Menurut saya ciri khas ini bisa dibentuk dan dikonsepkan, cuma saya memang belum bisa menjelaskan dengan rinci. Sourcenya sih semua sudah ada di lagu-lagu tradisi kita, tapi masih perlu diolah dan digali”

Perspektif ini menempatkan karya-karya tersebut sebagai sesuatu yang organik, adaptatif, dan terbuka bagi pemaknaan-pemaknaan baru.

Permintaan dari Museumseferfest pun segera disusuli oleh penyusunan lagu-lagu yang mewakili karya-karya terbaik komponis Indonesia dan lagu-lagu rakyat yang populer. Lagu-lagu seperti Manuk Dadali, Indonesia Pusaka, Rayuan Pulau Kelapa, dan tentunya lagu legendaris Gesang: Bengawan Solo masuk ke dalam daftar. Lagu yang terakhir ini sebenarnya sudah cukup lazim direproduksi ulang.

 “Aransemen lagu ini (Bengawan Solo) dulu saya buat untuk acara Java Jazz 2014 dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Polandia. Waktu itu memang ada pesanan khusus untuk lagu itu, karena ternyata disana lagu Bengawan Solo sangat populer”, ujar Aga.

Seperti dijabarkan oleh Grzegorz Wianewski- Duta Besar Polandia untuk Indonesia, lagu ini memang memiliki kesan tersendiri bagi masyarakat di Polandia (Sumber: Tempo.co).

Bengawan Solo yang diubah liriknya oleh Kiedy Allach Szedl sempat populer pada era 1960-an, ketika krisis ekonomi melanda bangsa tersebut. Rupanya secara implisit, semangat optimisme untuk membangun sebuah negeri yang subur dan makmur ditemukan oleh rakyat di Polandia dalam lirik lagu Bengawan Solo.

Seperti halnya konteks lagu Bengawan Solo yang berkaitan dengan semangat positifisme kolektif pada gerakan anti-kolonialisme di Polandia; Sri Hanuraga pun memiliki realisasi konteksnya sendiri atas interpretasi harmoni dan pendekatan improvisasi yang esensial dalam lagu ketujuh dalam album rilisan pertama Azura Records ini.

Konteks yang dalam kacamata saya tidak berhubungan dengan sebuah ideologi politis, namun lebih kepada respon murni yang bersifat kontemplatif dari seorang seniman dalam mengaksentuasi bentuk ekspresi.

Mengawali dengan vamp  berbirama 13/8, Aga membangun konstruksi aura lagu yang dengan luwesnya diikuti oleh Andris Buikis (drums), Paul Rutschka (bass), dan Kinga Prus yang menyanyikan verse pertama lagu ini dalam bahasa Polandia.

Harmoni dari slash chord, kombinasi brushes dari Andris Buikis dan vokal Kinga Prus dan birama odd meter menyatu dalam momentum yang sesuai dengan  yang digambarkan Aga sebagai: “New ways of re-telling the old stories with my interpretation” sebagai konsep integral yang mendasari nuansa album ini.

Aga kerap mereferensikan komposer Bartok, sebagai model yang dia gunakan dalam usaha mengolah materi tradisi menjadi sound yang khas. Baginya, ini merupakan bagian dari proses pencarian dan pengolahan identitas seni yang personal; dengan mengolah, mendekonstruksi, dan membedah lagu tradisi bangsanya yang berfungsi sebagai vehicle atau  medium eksperimen.

Dan verse ini hanya sebuah sampel kecil atas proses tersebut, sebelum masuk ke bagian solo yang didahului oleh break; memberikan ruang teritorial bagi sang pianis untuk memulai alur interpretasinya atas Bengawan Solo melalui improvisasi yang berakar pada tradisi jazz.

Melalui improvisasi yang ekstrovert di lagu ini Sri Hanuraga memperlihatkan kematangan dan kedewasaannya dalam memilih konten improvisasi yang bersumber dari pengembangan motif, diolah menjadi frase-frase panjang yang menembus lapisan harmoni dan permainan rhythm section yang bermain secara effortless. Dalam merespons improvisasi, dengan brilian Paul Rutschka dan Andris Bulkis meng-compliment rangkaian frase triplet yang panjang.

Tiada lagi dikotomi akan konsep pengiring dan solis dalam bagian ini. Musik menjadi seperti organisme aural yang bergerak bersamaan, mengartikulasikan solo Aga yang bermanuver secara implisit dalam form lagu; menjadikannya salah satu momen highlight dalam album ini.

Menghindari klise dari pengolahan lagu-lagu yang mempunyai form circular, seperti pada lagu-lagu yang terdapat pada album ini, merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi Aga. Dalam proses kreatifnya, ia menjelaskan metode yang digunakan dalam mengekskavasi materi-materi ini.

“Yang saya suka dari memainkan materi ini karena lagu-lagu ini sudah familiar bagi banyak orang di Indonesia. Jadi saya mencoba kadang untuk membawa sisi lain dari lagu ini, yang tidak bisa didapatkan dari bentuk harmoni yang konvensional, atau form circular yang monoton; saya ngga mau terjebak disana. Intinya bagaimana caranya agar lagu-lagu ini bisa saya olah untuk menonjolkan sisi lain yang orang belum pernah denger. Kadang saya juga mencari sisi gelap, atau sisi humor dari lagu-lagu tersebut dan mengolahnya sebagai basis aransemen”.    

Pencarian yang bersifat dekonstruktif ini kadang mendorongnya untuk membuat bagian-bagian terpisah, untuk tiap-tiap bagian lagu.

“Dalam satu bagian saja kadang saya perlu 3-5 variasi cara untuk memainkannya menggunakan variasi birama, rhythmic grouping, subtitusi harmoni, modulasi, dan groove. Masalah berikut adalah bagaimana merangkainya dengan tetap mempertimbangkan flow lagu secara keseluruhan.”, ia menyimpulkan.

Hasil dari keseluruhan rangkaian ambiens inilah yang digunakan Aga sebagai fondasi bunyi; metode yang dilakukan secara cermat dalam skema besarnya mencari “his own sound”; sebagai moda unik dan personal yang digunakannya dalam berinterpretasi dan berkomunikasi sebagai seniman.   

Vokalis Dira Sugandi mempunyai peran teramat besar dalam mempresentasikan konsep Aga dalam merekonstruksi lagu-lagu lama ini. Dalam lagu Tanah Airku yang dibuka dengan tempo freely, tidak sedikitpun ia masuk ke dalam perangkap over sentimentality yang umum terjadi ketika vokalis bernyanyi dalam tempo ini.

Seperti dijelaskan Aga, pemilihan lagu-lagu dalam album Indonesia Vol.1 dilakukan melalui diskusi yang mendalam dengan Dira. Mengingat lagu-lagu ini merupakan lagu yang bercerita dalam liriknya, yang merupakan bagian penting dari proses pemaknaan. Maka bagi Aga, peran Dira dalam menceritakan kembali cerita-cerita lama ini teramat esensial.

Mengenai kolaborasi vokal dan trio ini, jujur satu hal yang mengganjal bagi saya waktu mendengar album ini pertama kalinya, yaitu memaknai proyek “Sri Hanuraga Trio feat Dira Sugandi”?; ataukah “Sri Hanuraga Trio dan Dira Sugandi” sebagai satu bagian yang tidak terpisahkan?

Mengingat metode yang digunakan Aga dalam membuat variasi dalam segala struktur bebunyiannya, memang mengandung risiko untuk berbenturan dengan kepentingan si penyampai cerita tematik dalam vokal, yang sayangnya masih terjadi di beberapa lagu dalam album ini.

Dalam beberapa bagian di lagu tertentu, masih terdapat mismatch antara vehicle yang digunakan, dan tutur penyampaian lagu. Proses rekaman yang menggunakan proses overdub untuk take vokal masih mengandung resiko bahwa level intensitas dari musisi dan vokal berlainan, selain beberapa pendekatan aransemen yang kurang sejalan dengan alur kontur melodi, seperti terdapat pada lagu Kicir-Kicir (versi album) dan Rayuan Pulau Kelapa.

Maka saya sempat membawa sedikit skeptisme ketika menghadiri acara peluncuran album yang diadakan di Shoemaker Studio, 22 November lalu. Namun setelah menyimak penampilan kuartet ini (saya lebih prefer menggunakan istilah kuartet) segera saya berpikir ulang mengenai mismatch antara alur bunyi aransemen dan sang interpretant.

Pada malam itu bukan saja kuartet tersebut mampu menyajikan rangkaian lagu yang dibawakan dengan mengartikulasikan tiap detil aransemen dalam susunan rangkaiannya, namun credit perlu diberikan khusus kepada Dira Sugandi yang tampil sangat cemerlang.

Hampir-hampir terkesan ia sendirilah yang menggubah dan menuliskan lirik dari lagu-lagu yang dibawakan. Interpretasi Dira membaur effortlesly dengan jazz rhythm section kelas satu di Indonesia sekarang ini: Kevin Yosua (bass), Elfa Zulham (drums), dan tentunya sang leader yang menyetir arah musik penuh percaya diri dan fokus. 100% in control atas band dan instrumennya (Aga bermain piano Bluthner malam itu).

Flawless!

Dalam proses mengolah melodi sederhana atas lagu-lagu yang memiliki form circular ini Sri Hanuraga melakukan beberapa pendekatan instrumentasi yang unik, khususnya dalam lagu Indonesia Pusaka.

Indonesia Pusaka diawali dengan suara vokal Dira yang diiringi harmonisasi suara yang direkam belakangan dengan sistim overdub. Tiap suara, (yang juga dinyanyikan oleh Dira) secara simfonik berfungsi sebagai elemen dalam sebuah struktur progresi harmoni yang mengiringi melodi utama.

Adapun metode ini terus berlanjut hingga ke bagian improvisasi Aga, sebagai konsep utama yang mendasari pergerakan harmoni lagu. Saya cukup terkesan dengan aura timber bunyi yang dihasilkan, dan pendekatan ini terbilang cukup unik; menyiratkan keindahan dari simplisitas dan efisiensi atas aransemen ini.

Kontras dengan lagu tersebut, aransemen Bungong Jeumpa disusun dalam variasi form yang lebih menantang. Dalam lagu ini Aga menyuguhkan kompleksitas aransemen berdasarkan variasi struktur ritmik dan harmoni yang divariasikan dalam setiap dua baris melodi. Dominasi broken chords yang digunakan sebagai basis iringan dalam bagian reffrain, rapat ditempel dengan vamp yang dibumbui oleh variasi harmoni dari penggunaan slash chords.

Bagian tengah dari Bungong Jeumpa dibuka dengan interlude solo piano tanpa iringan; sebuah labirin dari kombinasi struktur variasi harmoni yang dipakai pada bagian sebelumnya, memaksa pendengar untuk memasuki suatu teritori musik yang benar-benar baru.

Bermain solo tanpa iringan, membuat Aga dapat mengeksplorasi secara penuh pada bagian ini. (Saya beranggapan bahwa aransemen solo piano pada bagian ini bahkan dapat berdiri sendiri sebagai satu track yang terpisah).

Bagian ini sungguh dirancang untuk showcasing talenta Aga sebagai arranger, sebuah pengantar yang luwes sebelum rhythm section memainkan vamp yang bergravitasi mengelilingi solo piano. Kali ini dalam konteks jazz.

Namun dalam kesan keseluruhan yang saya dapatkan, melodi sederhana yang dinyanyikan dari lagu ini sepertinya terlampau dibebani oleh akumulasi struktur aransemen yang berat ini.

Sepertinya perlu diberlakukan pendekatan yang menerapkan instrumentasi berbeda. Khususnya  dalam konteks tafsir Aga atas aransemen yang sedikit overwhelming sebuah lagu nyanyian, setidaknya dalam aransemen Bungong Jeumpa.

Pujian perlu diberikan pada Azura Records Company; label rekaman yang berbasis di Jakarta, sebagai label yang menaungi edisi Indonesia Vol.1 ini. Hal ini tidak lepas dari peran Elfa Zulham, founder dari Azura Records yang sekaligus bermain sebagai drummer di album ini.

Mengenai kerjasama dengan Azura Records, Aga bertutur: “Menyenangkan buat kerja sama dengan Zulham. Dia juga salah satu orang yang benar-benar bisa paham sudut pandang saya sebagai musisi, selain itu dia juga musisi yang saya kenal baik. ”.

Indonesia Vol.1, sebagai rilisan pertama dari Azura Records merupakan sebuah rilisan perdana yang solid dan cukup signifikan, dalam usaha proses pencarian korelasi relevan antara lagu-lagu Indonesia lama dengan tenunan budaya modern (jazz di Indonesia).

Perlu disadari bahwa usaha-usaha pelestarian dan preservasi bukanlah sesuatu romantisme yang bisa ditempelkan begitu saja pada tiap generasi. Untuk dapat diolah kembali, elemen-elemen kebudayaan  membutuhkan konteks yang relevan bagi masyarakat di tiap zamannya. Hal ini dikarenakan perubahan struktur sosial dalam masyarakat selalu menentukan perubahan dalam memaknai kebudayaan.

Dalam pandangan etnomusikolog Philip Yampolski, menyandingkan musik tradisi dan populer bukanlah perbandingan apple to apple, karena kesenian dan kebudayaan tradisi tak pernah dapat mengalahkan kuantifikasi kebudayaan populer.

Perlu digaris bawahi dalam pernyataan ini, bahwa yang kalah atau hilang sebenarnya bukan bentuk perwujudan dari musik tradisi dan kesenian itu sendiri; tapi yang hilang adalah motif kebudayaan yang sifatnya lebih komunal atau kontekstual; karena begitu konteks ditiadakan maka kebudayaan pun perlahan hilang.

Maka pencarian Sri Hanuraga akan identitas berkesenian, khususnya dalam Indonesia Vol.1 dapat dimaknai sebagai pencarian konteks baru yang dinamis. Ketersediaan akses dan exposure, dalam hal ini kadang belum mencukupi. Diperlukan pandangan baru dalam melihat sejarah sebagai kritik; sebagai alat yang digunakan untuk bertumbuh dan belajar melalui sinkretisme yang relevan, sebagai bagian dari rekontekstualisasi budaya.(DJ)

 

 

Dion Janapria

Karirnya merentang antara proyek Tao Kombo Collective Messkeepers yang eklektik, proyek eksperimental dalam Aksan Sjuman’s Comittee of The Fest, hingga session guitarist untuk Sandhy Sondoro dan Rieka Roslan. Album solonya Silver is The Color of The Blues mendapat ulasan positif pada 2014 lalu. Sejak 2006 aktif mengajar di Universitas Pelita Harapan, Tangerang untuk jazz major guitar, konsep improvisasi jazz dan sejarah jazz.

Dion Janapria merupakan alumni dari Hogeschool voor de Kunsten Utrecht, Belanda, untuk jurusan Music and Arts Education.