Mengenai ragam bentuk komunikasi yang dikenal dalam budaya manusia, kita bisa menemukan banyak media yang bertebaran di sekeliling kita; mulai dari gambar reklame, tulisan di media cetak, acara televisi atau radio, hingga teriakan pedagang sayur yang menawarkan dagangannya di pasar.

Segala hal ini dapat dilihat sebagai kumpulan teks yang memaknai sesuatu, masing-masing melalui wahana yang berbeda-beda. Adapun wahana, dapat dimengerti sebagai media yang digunakan seseorang dalam menyampaikan gagasan atau materi kebudayaan.

Komunikasi lisan dalam bentuk bunyi merupakan cara yang paling primitif, yang digunakan oleh manusia sebelum dikenalnya aksara tulis sehingga bentuk komunikasi yang paling dasar ini dianggap sebagai bentuk kelisanan primer. Sedangkan aksara tulis, yang dalam salah satu variannya adalah alfabet latin yang digunakan dalam tulisan ini, merupakan kumpulan dari gambar-gambar berupa abjad yang anda identifikasi sebagai rangkaian huruf yang membentuk kata; dan rangkaian kata yang membentuk kalimat untuk kemudian menghasilkan makna baru.

Maka dalam urutan proses penciptaannya, bunyi-lah yang paling pertama tercipta dalam pikiran saya, untuk kemudian diterjemahkan dalam bentuk kumpulan ‘gambar’, yang lalu disatukan menjadi kalimat yang dimengerti sebagai aksara tulis oleh anda yang membaca tulisan ini; dan akhirnya dilisankan kembali di dalam pikiran anda hingga membentuk makna baru.

Bunyi, sebagai bentuk kelisanan primer merupakan sarana yang paling dasar dalam berkomunikasi. Semenjak berusia bayi hingga umur 6-7 tahun, sebelum kita mulai mengenali dan memahami bentuk tulisan sebagai sarana komunikasi, kita hanya mengandalkan bahasa tubuh dan bunyi untuk menyampaikan pesan.

Maka ketika sudah mulai dapat berbicara kita dapat menjawab percakapan sederhana; misalnya Ibu yang bertanya apakah kita lapar atau lelah. Begitu pun halnya bagi orang di pedalaman yang buta aksara; mereka hanya mengenal bentuk-bentuk komunikasi lisan. Maka bagi mereka, tulisan di sebuah majalah hanyalah berupa gambar-gambar acak yang tidak mempunyai makna.

Aksara tulis berupa teks, sebagai media komunikasi manusia mempunyai peranan yang teramat penting. Pendokumentasian teks kebudayaan dalam bentuk manuskrip dan karya cetak merupakan salah satu hal utama yang mendorong perputaran kebudayaan dan nilai-nilai dalam sejarah kehidupan manusia.

Kumpulan aksara tulis, yang apabila dipisah tidak mempunyai makna apa-apa, ketika digabung barulah akan menjadi sebuah kesatuan makna. Tulisan yang dilisankan di dalam pikiran orang ketika membaca kumpulan teks dalam bentuk rangkaian huruf, bahkan bisa mengalami perubahan energi ketika diubah menjadi bunyi yang berkaitan dengan penerimaan panca indera kita. Misalnya kalimat yang ditutup dengan tanda seru akan menyiratkan ‘tenaga’ dalam penyampaiannya.

Maka dalam hal ini aksara tulis lebih ditujukan untuk mengatur makna dalam pikiran kita yang disebabkan oleh residu yang ditimbulkannya. Sedangkan pada bentuk aksara lisan, bunyi akan lenyap begitu saja ketika kita selesai mengucapkannya, tidak akan ada residu apapun dari bentuk tersebut. Kelisanan yang bersifat cair akan berubah menjadi final atau tertutup ketika dialih wahanakan ke dalam aksara tulis, karena sifatnya sudah tidak dapat diubah-ubah.

Pada media gambar kita menggunakan indera mata sebagai moda komunikasi.  Interpretasi dari gabungan aksara dan gambar iklan yang kita jumpai setiap hari misalnya, adalah sebuah makna konotatif yang merupakan hasil dari penggabungan makna atas kedua bentuk tanda tersebut.

Gambar, yang juga bisa berupa foto, aksara, karya seni dan sebagainya memerlukan pemahaman akan konteks dimana gambar tersebut ditempatkan, dan apa yang diwakilkannya.Tanpa konteks, proses pemaknaan menjadi terlalu luas tanpa batas-batas yang jelas, sehingga teks itu akan sulit dimengerti oleh si pembaca tanda.

Dalam peralihan wahana dari teks ke gambar, misalnya dalam cerita film, setiap adegan dapat mengandung lebih dari satu media yang terkandung di dalamnya. Maka teks yang dipresentasikan dalam ’gambar bergerak’ akan mengalami proses terlebih dahulu dalam pikiran si penonton, untuk menghasilkan makna yang sebagian besar sudah dirancang oleh si pembuat film, dan sebagian lagi dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan tatanan nilai dari si penonton sendiri.

Makna yang kita hasilkan dalam membaca teks, baik itu berupa aksara, bunyi maupun gambar tidak pernah lepas dari pengaruh teks-teks lain yang juga menuntut kemampuan membaca ‘kode’ yang tersembunyi, sehingga kaitan antara makna teks yang dirancang oleh pengarang; dan pemaknaan teks oleh pembaca bisa menjadi kabur. Semua bentuk-bentuk teks merupakan sebuah sistem yang terbuka dan tidak homogenis karena dinamika dari teks itu sendiri, menyebabkan timbulnya penafsiran yang bermacam-macam; dan karenanya pandangan tradisional yang secara tegas membedakan antara pengarang, teks, dan pembaca patut dipertanyakan (Damono: 2010). (DJ)

 

Tulisan ini terinspirasi dari buku Alih Wahana oleh Sapardi Djoko Damono, dan pembahasan maupun tulisan beliau atas Intertekstualitas.

Image Courtesy of dscaoctora.blogspot.com