Advertisements
Karir Musik Sosok

No Braggin’: Speaking to The Universe In His Coat of Arms

Pianis Sri Hanuraga berbicara tentang otensitas, inovasi, alien, dan pendidikan jazz.

Ketika bertemu Sri Hanuraga yang biasa akrab saya panggil Aga sore itu, ia masih tampak segar bugar meski waktu sudah memasuki jam pulang kantor. Bagian lengan kemeja putihnya yang sedikit lecek digulungnya hingga ke sikut.

Sambil membuka pintu ia memasuki kedai kopi tempat kami janjian untuk bertemu, dan dengan sigap menyapa hangat. Sedikit banyak gerak-geriknya mengingatkan saya pada pelatih anjing Cesar Millan; relaks namun waspada dan asertif.

Pianis jazz yang baru-baru ini mengenalkan proyek baru dengan vokalis Dira Sugandi; memainkan lagu-lagu Indonesia dengan aransemen modern ini pun langsung duduk dan memesan kopi hitam tanpa gula, persis sama dengan selera saya.

Album Sri Hanuraga ‘To The Universe’ yang dirilisnya via DeMajors Record awal tahun ini menuai berbagai mix review yang kebanyakan positif, apabila tidak bisa dibilang ‘hanya’ deskriptif. Tadinya saya ingin sekali menggali tentang Brag Pack, atau Her Coat of Arms; proyek yang dirintisnya bersama Adra Karim dan Rafi namun kemudian saya berubah pikiran.

Saya merasa ingin menggali beberapa pemikirannya mengenai scene jazz, improvisasi, dan pandangannya mengenai dunia pendidikan. Saya ingin tahu apa saja yang benar-benar diyakininya mengenai bermain jazz, mengajarkan jazz; mengharapkan sebuah pedoman yang datang dari seorang award winning pianis ini.

Artikel lain: Rekontekstualisasi Lagu Nasional Dalam Indonesia Volume 1

Saya yakin setiap orang pasti mempunyai satu-dua buah cerita yang layak untuk didengar, dan saya merasa beruntung bisa mengungkap, atau setidaknya me-reveal sedikit saja cerita dan pemikiran dari Sri Hanuraga.

Suatu analogi Ga: Coba anda bayangkan seandainya ada alien turun ke bumi, dan ternyata alien ini sangat tertarik pada sebuah budaya musik yang bernama jazz.

Singkat cerita ia lalu memutuskan untuk belajar bermain musik ini, dan berniat untuk share musiknya dengan para pencinta jazz di bumi. Kemudian karena satu dan lain sebab, alien ini memutuskan untuk berguru kepada anda.

Hahahahah !

Pertanyaan saya: apa saja yang anda akan sarankan padanya agar musiknya itu nanti bisa diterima oleh mayoritas pencinta jazz di bumi ini, mendapat review yang bagus, dan siapa tahu mungkin main di grammy award?  

Pertama saya akan menyarankan dia untuk familiarise dengan musiknya lebih banyak lagi. Dengar bebop dulu misalnya, karena bebop itu entry point yang ideal. Letaknya periode bebop itu persis ditengah-tengah, jadi mau main gaya yang lebih awal dia akan bisa relate,dan sekaligus bebop itu bisa menjadi modal dia untuk memahami konsep jazz yang lebih advance, seperti modal atau free jazz.

Di bebop banyak hal yang bisa dijadikan basis utama untuk bermusik, terutama di jazz. Semua ada di situ.

Kalau dia (alien) itu mau mendapat review yang well received, di downbeat atau jazztimes misalnya, pastinya dia kan perlu melakukan ekstra. Artinya musiknya itu perlu dinilai valuable buat sebagian orang.

Nah dalam pandangan anda, apa sih yang membuat sebuah karya itu dinilai valuable di jazz?

Sebenarnya kalau saya perhatikan, musik jazz yang laku dari dulu sampai sekarang sih biasanya jazz yang masih berkaitan langsung dengan tradisinya. Paling stabil dan selalu ada, kalau dilihat misalnya Wynton Marsalis, kalau dibandingkan dengan musik-musik yang lebih progresif sekarang tetap masih lebih stabil gaya-gaya yang derived dari tradisi ini. Memang banyak yang baru tapi menurut saya misalnya Aaron Parks yang dianggap hip di jaman ini, tetap beda dengan pianis seperti Benny Green yang pangsa pasarnya lebih tidak segmented dan terbilang stabil karena musik itu selaliu in high demand.

Jadi buat alien ini, seandainya dia memilih untuk membuat karyanya dalam konteks ini setidaknya ia akan lebih safe. Ya lebih aman buat dia kalau jadi purists. Tapi ngga tahu ya kalau dia buat albumnya di Indonesia.

Buat saya menarik kalau dia akhirnya memilih jadi purists karena berarti itu keputusan yang penuh pertimbangan politis hahahh.

Bisa jadi iya. Kalau dilihat tracenya, biasanya orang-orang yang berhasil juga ada gimmicknya yaitu dia main atau pernah terasosiasikan dengan figur senior atau legend. Misalnya Brad Mehldau dulu sempet main sama Jimmy Cobb, Miles Davis main bareng sama Charlie Parker. Hampir begitu semua sih kalau kita mau trace back.

Padahal kalau dari segi musiknya sih menurut saya banyak juga orang-orang yang mainnya ngga kalah bagus, tapi karena mereka di luar ‘circle’ itu mereka jadi ngga terekspos. 

Saya sudah baca beberapa review album anda ‘To The Universe”, dan mendapatkan beberapa tulisan yang cenderung bernada membandingkan gaya musik anda, dengan para musisi yang telah mempengaruhi anda sebagai pianis.

Berkaitan dengan ini, orang memang cenderung membandingkan karya dengan sesuatu yang sudah pernah ada sebelumnya, jadi saya ingin tahu pandangan anda tentang dua hal ini:

Pertama bicara soal circle tadi; bisa ngga sih kita benar-benar lepas dari circle itu? Karena dari sisi purists, terkesan anda harus berada di dalam circle yang anda sebutkan tadi untuk bisa ‘diasuh’ sama ekosistim itu. Dan yang kedua dari sisi progresif, ketika jazz memproklamirkan kebangkitan semangat progresivitasnya melalui Kamasi Washington, Christian Scott atau scene musik di Inggris, ironisnya musisi-musisi tersebut justru cenderung menolak secara implisit keterkaitan musik mereka dengan tradisi jazz.

Buat connected secara historically itu cukup penting, karena menurut saya orang-orang seperti itu bisa jadi b***s**t juga sih, maksudnya justru orang-orang yang jadi pembaharu itu malah orang-orang yang mengerti banget tentang historinya. Makanya mereka bisa bener-bener ngacak ngacak itu.

Saya jadi ingat salah satu materi jazz history dulu, ada cerita tentang Miles Davis yang suatu saat ada di New Orleans untuk menonton pianis Ahmad Jamal. Pulang dari sana dia langsung assemble grup dan meminta mereka untuk mendengarkan gayanya Ahmad Jamal, mengcopy feel ritmiknya, harmoni dan sebagainya. Dari situ akhirnya ia lalu merekam Round Midnite, berujung ke Milestones yang menjadi awal dari modal jazz. Kadang progress itu terjadi dalam proses yang sesimpel itu saja, jadi Miles bisa membuat itu karena dia melakukannya tetap dalam konteks.

Orang-orang ini tahu histori dan konteksnya jadi mereka bisa mengembangkan sesuatu berdasarkan itu,tinggal di combine sama hal lain yang mereka punya. Jadi tetap harus ada konteks, kalau ngga ya, seperti saya bilang tadi jadinya omong kosong aja.

index

Tapi mungkin ini ada pengaruh dari sisi industri juga ya, ibaratnya seperti ‘daripada industri mati mungkin lebih baik kalau kita tarik orang-orang ini masuk, nanti tinggal dilabelin aja’?

 Kalau menurut saya sih, artis-artis yang anda sebutkan sebelumnya diatas kalau didengar, saya yakin pasti mereka masih punya kaitan dengan jazz, jadi bukannya ngga sama sekali. Saya yakin mereka jazz player juga atau setidaknya pernah terekspos dengan jazz. Seperti Go-go Penguin yang mengingatkan saya pada E.S.T dan ada juga beberapa lainnya.

Tapi bukan dari situ aja, saya selalu bisa melihat musik-musik tertentu ngga akan pernah bisa lepas dari pengaruh musik lain. Karakteristiknya memang kadang sudah membaur banget  jadi susah ditrace, tapi pasti ada. Mau sejauh apapun itu baik disengaja atau ngga, yang dianggap sudah ‘melenceng’ dari tradisi.

Buat saya sendiri sebenarnya sih ngga pernah terlalu memikirkan musik ini belong nya ke mana, jazz atau ngga. Jadi itu sih kerjaan dari industri aja, kita ngga perlu terlalu mikirin apa yang perlu disortir karena eventually itu di luar area kita sebagai musisi.

Sekarang silakan anda pilih satu antara dua kata ini: Tradisi, atau Inovasi. Mana yang dipilih dan apa alasannya?

Hahah susah juga sih tapi kayaknya saya pilih inovasi.

Karena kalau misalnya sebagai seniman misalnya mungkin penulis, kan saya ngga mungkin menuliskan buku orang lain atau cerita orang lain. Jadi saya ngga mungkin menuliskan cerita yang sama yang sudah pernah ditulis sama orang. Kalaupun menuliskan cerita yang sama harus dengan angle yang berbeda juga.  

Begitu juga dengan lukisan, saya ngga mungkin melukis sesuatu tema yang sama dengan angle yang sama jadi pasti saya akan memilih untuk melakukan sesuatu berbeda dari yang sebelumnya sudah pernah dilakukan.

Tradisi sih tetap diperlukan, tapi cuma sebagai basis yang mencukupi aja. Jadi tetap saya condong ke inovasi.

Mengenai jazz sebagai bentuk kesenian dari Amerika, dan kaitannya dengan perkembangan industri jazz di Indonesia, yang anda juga pasti sudah tahu; misalnya festival jazz lebih dari sepuluh kali setahun, anda duduk di depan saya sekarang seusai mengajarkan jazz di tingkat pendidikan tinggi, pendidikan jazz yang menjamur dimana-mana, komunitas, event dan venue jazz.

Aaah, ya !

Saya mau tahu pemikiran anda soal ini. Do we know what we’re doing? What are we really celebrating?

Saya kadang juga bertanya soal hal yang sama sih hahahahahh. 

Lingkungan sih motifnya, kalau orang bisa dapat lingkungan yang intens, orang-orang yang sejalan pikirannya itu membuat orang lebih senang. Komunitas jazz ada, festival ada jadi mungkin sarana yang lebih fokus memang pendidikan, sekaligus sebagai komunitas.

Jujur kadang saya punya concern terutama kalau melihat murid-murid saya yang berbakat lalu mulai berpikir ‘nantinya anak ini mau ngapain ke depannya?’ hahah, kalau ngga kerja keras dia bakal gampang nyerah sama situasi yang kelihatannya belum menjanjikan disini.

 Karena kalau dilihat community secara keseluruhan, jazz itu terbatas lingkupnya, jadi orangnya itu-itu aja haha. Bahkan saya ingat banget jaman dulu di Belanda kalau kita datang ke konser, yang datang mayoritas ya musisi. Sedikit sekali orang-orang non-musisinya, mungkin ngga sampai 10 persen.Di sini juga sama mau jam session ataupun jazz concert yang dateng ya temen-temen juga, yang notabene musisi juga.

 Kalau dari segi pendidikan menurut saya positifnya dari pendidikan jazz sebenarnya bisa dijadikan basic yang kuat untuk dasar mereka mengkonsepkan musik-musik lain. Artinya mereka (murid-murid) bisa punya konsep dan bekal untuk melatih dirinya sendiri, yang cuma bisa didapatkan dari sistem pendidikan jazz yang sistematis, ya ini konteks untuk musik populer ya. Demandnya untuk jazz disini kan belum besar jadi setidaknya mereka punya bekal.

Festival jazz sih bagus tapi alangkah baiknya kalau musisi jazz juga bisa hidup dari musiknya sendiri. Artinya mesti ada kelanjutan juga dari festival itu, ngga cuma guyub ngumpul rame-rame lalu ada yang bersedia main ngga dibayar dsb tapi tujuan akhirnya juga belum jelas. Tapi ya mereka harus kasih tempat juga biar ekosistimnya lebih hidup.

Saya setuju soal itu, karena kalau ujungnya hanya pengulangan kita sebenarnya belum bergerak. Justru jazz bisa survive karena ada pembaruan-pembaruan. Pendek kata harus ada niat kesana untuk membantu proses pencarian itu. Tapi kalau orang sudah pewe, merasa terlalu nyaman, ya kita ngga kemana-mana juga akhirnya.

 Pembelajaran buat publik itu penting menurut saya. Ambil contoh kalau di U.S, meskipun dalam festival itu pop actnya banyak, tapi menyusun programnya itu selalu variatif dan pinter. Mereka juga  memperhitungkan artis baru jadi sistim kuratorialnya jalan,  semua terekspos, baik yang dalam tradisi atau bukan. Jadi ini sebenarnya yang bikin scenenya lebih hidup dengan melakukan itu.

Soal musik baru atau artis baru ini ya susah kalau kita sudah buat karya lalu ngga ada yang mau ngangkat ke level yang lebih tinggi, jadi kayak mentok aja. Media apresiasinya juga belum banyak soalnya.

Kalau di Belanda misalnya festivalnya lebih sedikit, tapi mereka lebih berpusat ke venue-venue yang tersebar di seluruh kota. Untuk festival kalau ngga disupport pemerintah sebenarnya mereka ngga jalan juga, jadi in a way disini kita lebih berani aja tapi ya itu, sifatnya sporadis.

Sri Hanuraga

Soal otensitas, mungkin anda sudah mengetahui mitos tentang susahnya membuat sesuatu yang benar-benar inovatif di jazz di masa sekarang ini, tanpa di-compare sama ‘the whole jazz history’.

Sebagai musisi sekaligus pengajar, menurut anda bagaimana baiknya mengajarkan otensitas itu? Karena umum juga mitos yang cenderung ‘menuduh’ bahwa lulusan akademik jazz mempunyai keseragaman dalam style dan miskin orisinalitas.

Saya selalu bilang sama student yang saya ajar, ini cerita dari Mark Turner sebenarnya. Jadi Mark Turner ini contoh bagus dari seseorang, yang meskipun sudah  transcribe ratusan lagu, ketika pas bunyi, gaya dia tidak kedengaran sama sekali seperti orang yang ditranscribenya.

Ketika dia transcribe, selalu dia berulangkali menanyakan hal yang sama: ‘apa sih yang sebenarnya saya suka ‘at this particular moment?’

Ini kedengarannya sepele tapi penting menurut saya. Seringnya orang menyukai sebuah solo karena triknya, linesnya atau subtitusi dan lain-lain. Intinya kontennya saja, tapi seringnya orang tidak sadar kalau ternyata yang dia suka adalah sound, tone atau mungkin timingnya dia.

Biasanya kita kurang aware akan hal-hal itu dan terlalu sering berfokus pada konten harmoni dan melodi saja.

Kalau misalnya kita bisa identifikasi dan extract hal-hal yang kita suka, dan ini bukan hanya dari permainan individu saja ya; kita kerjanya bisa semakin luas. Bisa dari cara pemain drumnya main, atau bassisnya yang comping di belakang, locking in dengan solonya dsb.

Misalnya saya ambil sebuah ritmik konsep dari Brad Mehldau, tapi untuk lines, saya ambil dari orang-orang lainnya; jadi memang agak abstrak sifatnya karena kita melakukan hal ini secara sub-consciously ketika solo. Bahkan mau masukin elemen itu secara harafiah note by note juga bisa, hanya saja ada beberapa teknik yang perlu dipelajari lagi, misalnya menghindari main ini di tempat ini, dan lain sebagainya. Selebihnya bagus juga kalau bisa mendengarkan musik di luar konteks itu,  yang gayanya benar-benar beda, dan nantinya secara ngga sadar itu akan masuk juga.

Ini makanya saya selalu menekankan pentingnya metode transcriptions dalam belajar. Dari situ kita bisa mempunyai vocabulary elemen yang bisa kemudian diolah lagi menjadi aspek-aspek tertentu yang bisa dimasukkan ke permainan kita sendiri. Hampir seperti buat exercise sendiri ibaratnya, tapi lalu dikembangkan lagi untuk bahan proses pembentukan materi baru.

Mempelajari pola pikir improvisasi dengan transcribe, bagaimana mentransfer cara berpikir orang yang kita transcribe baik dari segi melodi, harmoni atau ritmik saja, juga akan membantu kita di level subconsciously.

Otensitas itu penting tapi kadang sebagai pengajar kita perlu banyak strategi menghadapi macam-macam jenis murid. John Riley misalnya, dia pernah mengajar Mark Giuliana padahal sebelum Mark masuk ke kelasnya dia yang biasanya transcribe permainan Mark Guiliana hahah. Pada akhirnya John tetap bisa mengajar Mark Giuliana dengan melengkapi apa yang dia perlu kerjakan, meskipun juga sadar sepenuhnya kalau dia tidak bisa mencontohkan setiap hal yang dia minta muridnya lakukan. Ini yang saya namakan mengajar dengan sistim ‘coach’ dan ini saya juga aplikasikan sendiri dalam berbagai situasi.

Soal pendidikan, apakah anda setuju dengan mitos bahwa untuk mencapai level itu, guru perlu mengorbankan jam latihan mereka yang berdampak pada ketidak mampuan mereka untuk maintain permainan pada level tinggi?

Bagaimana dengan anggapan bahwa mudah untuk menjadi ‘lost in the process’ dalam usaha untuk mentransfer ilmu ke orang lain? Misal dalam mengajarkan bebop, seorang guru mencoba mencontohkan gaya bebop dengan menggunakan puluhan metode yang dikenalnya, sampai-sampai pada suatu poin ia lupa akan pentingnya mengembangkan otensitasnya sendiri dalam bermain bebop?

Itu saya mengerti, itu kadang bisa terbawa juga ketika main dan sebagainya. Makanya balancing itu penting, karena kita ngga bisa ngajarin hal-hal yang pada akhirnya cuma sifatnya retorik aja. Kadang kita butuh melakukan showcasing untuk menginspirasi murid.

Tapi ini tergantung muridnya juga, saya sih bukan tipe orang yang merasa perlu memotivasi seseorang habis-habisan untuk melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak mau hahahaa. Kebanyakan guru yang saya kenal dulu sebenarnya lebih ke player, tapi untungnya mereka punya students yang serius dan bertanggung jawab. Jadi sebenarnya muridnya yang perlu ambil inisiatif dengan mencatat, buat metode sendiri, jadi guru juga ngga perlu seolah men ‘sacrifice’ otensitasnya juga.

Jadi less generous but more inspiring?

Mau ngga mau.

Agree.

Sri Hanuraga interviewed by Dion Janapria at Ngopi Time, Karawaci Tangerang, 27 September 2016.  Sri Hanuraga latest trio album feat. Dira Sugandi: Indonesia Volume 1 now available at Apple Music and iTunes.

Photo Courtesy by freedomsjazz.com & moonjune-indonesia.bandcamp.com

 

  

 

Advertisements

4 comments on “No Braggin’: Speaking to The Universe In His Coat of Arms

  1. Pingback: Chronicles: Liku Transformasi Sandy Winarta

  2. Pingback: 5 Petani dan Jazz Instrumental Gairah Komunitas

  3. Pingback: Dimensions dan Visi Ekspansif Gerald Situmorang

  4. Pingback: Rekontekstualisasi Lagu Nasional dalam Indonesia Volume 1

Leave a Reply

%d bloggers like this: