Advertisements
AMJPI Budaya Musik

Kenapa Perlu Menggunakan Istilah Musik Jazz dan Populer?

Pertanyaan ini cukup sering muncul dalam proses penyusunan buku Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia, jadi mungkin ada baiknya kalau saya memberi penjelasan sedikit mengenai term yang dipilih untuk menggambarkan kategori gaya ini.

Bekerja pada sebuah fakultas musik dengan spesifikasi jurusan yang mempunyai nama sama, saya juga kerap menemukan dua penafsiran berbeda, baik dari mahasiswa maupun rekan dosen mengenai istilah “jazz dan populer” ini. Berikut ini kedua penafsiran yang dimaksud:

  1. Pertama, ditafsirkan harafiah, “jazz dan populer” dimaknai sebagai dua subyek terpisah yang pengertiannya didasarkan pada pengkategorian gaya musik, yaitu (1)tradisi “jazz”, dengan segala kompleksitas variannya, dan (2)tradisi musik “populer”. Tradisi musik populer, yang mengalami perubahan makna setelah sering disingkat saja menjadi “pop” (meskipun saya kurang setuju), makna dalam konteks ini bisa saja mencakup gaya mulai dari grup band The Beatles, Michael Jackson hingga K-Pop.
  2. Kedua, istilah jazz dan populer yang merupakan perluasan dari gaya musik jazz yang berakar dan bersumber dari tradisi musik Amerika yang tidak dapat dikategorikan gayanya secara gamblang. Perluasan ini mempunyai fungsi untuk melebur istilah makna hegemonis “jazz” sebagai sesuatu yang identik dengan blues, swing dan tradisi musik populer Amerika pada masa praperang dunia ke-2, dengan sisi jazz yang awalnya berkembang (sampai sekarang), sebagai musik populer.

Berdasarkan pengalaman, melihat jazz sebagai musik populer, bukan musik “serius” bisa saja menimbulkan perbedaan pendapat tergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Tapi baik, saya akan simpan ini untuk di bagian akhir karena sebelumnya perlu dijelaskan dulu mengapa istilah jazz dan populer ini lah yang dipilih untuk menamakan sebuah buku kompilasi partitur, yang sebenarnya kalau mau gampang diberikan nama “Antologi Musik Jazz Indonesia” saja.

Baca: Antologi Musik Jazz Indonesia: Anotasi Konseptor

Istilah musik populer disini mengacu kepada paradigma kebudayaan populer yang mempunyai ciri-ciri antara lain bersifat formulaik, diproduksi berdasarkan kebutuhan konsumtif, dan merupakan tiruan dari kebudayaan ‘tinggi’ yang disederhanakan untuk memenuhi kebutuhan massa.

Suatu contoh, apabila sebelum masa revolusi industri di abad ke-19 kesenian seolah hanya milik kaum borjuis, setelah periode ini mendadak muncul kebutuhan akan kesenian yang ‘disederhanakan’ untuk memenuhi hasrat kaum menengah untuk menikmati seni dan sastra khususnya.

Kesenian yang ‘disederhanakan’ ini mencakup karya sastra Shakespeare dan Charles Dickens.

Selain mempunyai tema yang terpola, bersifat mekanis dan terstandardisasi, stigma negatif dari kebudayaan populer dibenarkan melalui argumen penganut aliran kiri yang elitis dan reaksioner, yang mengklaim bahwa lebih banyak (kuantitas) selalu berarti lebih sedikit (kualitas).

Namun perlu disadari bahwa klaim ini gagal menerima fakta bahwa kapitalisme memproduksi komoditas atas dasar nilai tukarnya, sementara kita mengkonsumsi komoditas atas dasar nilai gunanya. Sehingga dalam pandangan John Storey, industri musik bisa mengontrol nilai tukar, namun konsumenlah yang pada akhirnya menentukan nilai gunanya.

Argumen ini yang menjelaskan mengapa Shakespeare bisa masuk ke dalam materi pembelajaran sastra, dan musik dari Benny Goodman menjadi salah satu kajian analisis dalam kuliah bigband studies. Hal ini dengan mudahnya diserap oleh kita yang secara tidak sadar menerima ideologi yang lahir dari hegemoni kebudayaan, khususnya dalam kajian kebudayaan populer.

Perputaran ideologi kebudayaan yang selalu berubah  sesuai nilai-nilai yang diyakini manusia pada tiap zamannya ini wajar, dan sudah semestinya terjadi, sesuai dengan teori hegemoni dari Gramsci. Saya akan mencoba berikan contoh sedikit dalam konteks sejarah jazz:

Istilah dixieland yang mengacu pada gaya musik populer di Chicago pada tahun 1920-an, adalah peniruan dari gaya musik new orleans style yang populer sebelum era migrasi. Jadi dixieland, bisa ditafsirkan sebagai gaya musik populer yang berevolusi di Chicago.

Mengapa populer? Karena para mafia pada masa yang disebut sebagai roaring twenties ini, kerap mencari musik hiburan yang cocok dipakai untuk dansa di klab speakeasies miliknya.

Contoh lainnya, swing era yang menandai puncak keemasan jazz sebagai musik populer di Amerika dan dunia, merupakan hasil optimalisasi inovasi industri terutama dalam bentuk media radio dan televisi sebagai keluaran produk kapitalis. Hal ini terbukti sukses mengantarkan citra jazz sebagai musik populer (pada masa ini jika seseorang pergi ke konser jazz untuk berdansa, maka makna konotasinya bisa disamakan dengan dugem).

Perubahan penting terjadi setelah era Bebop, yang diikuti dengan masa post bop, cool jazz, modal jazz, free jazz dan beragam istilah media massa lainnya, yang menandakan masa terbaginya dua arah evolusi; (1)sisi progresif dari jazz, dan (2)sisi populer dari jazz yang menempel dan sedikit banyak bergantung kepada perkembangan musik populer sesuai dengan eranya.

Perkembangan kedua ‘sisi wajah’ jazz ini masih berlaku, dan masih dapat kita amati hingga sekarang.

Dengan melihat dalam perspektif ini, jazz, sebagaimanapun progresifnya ia tetap tidak bisa dipisahkan dari konteks musik populer. Usaha untuk memisahkan atau mengkategorikan istilah ‘jazz’ sebagai satu bentuk gaya dan era saja dalam sejarahnya sendiri, hanya akan menjadikannya sebagai tradisi kebudayaan yang tertutup. Istilah tertutup ini mungkin bisa dianalogikan dengan mempelajari musik jaman Barok; bisa dipelajari, dilestarikan, bisa dianalisa namun terbilang haram untuk mengubah bentuk aslinya.

Maka istilah musik jazz dan populer sekaligus menegaskan bahwa kebudayaan populer, merupakan elemen dan moda produksi yang tidak dapat lepas dari tradisi jazz; dan jazz, sesuai naturnya yang lihai mengambil elemen dari musik apapun yang bisa diraihnya, merupakan bagian dari musik populer.

Mengenai diversifikasi gaya, kebetulan saja kalau di era 1930-an musik populernya adalah swing. Sedangkan pada tahun 1970-an, industri musik didominasi oleh rock (jazz rock); 80-an pop elektronik (spyrogyra, yellow jackets), 2000-an musik populernya hiphop, di tahun 2015 musik populernya Kendrick Lamar. And the list goes on.

Cobalah sejenak anda bayangkan sebuah infrastruktur dalam ekosistim musik yang bentuknya seperti lingkaran. Setiap lingkaran mewakilkan masing-masing ekosistim baik itu musik rock, jazz, klasik, avantgarde dan sebagainya, dan mereka semua punya warna-warna sendiri.

Masing-masing lingkaran selalu punya ujung-ujung yang saling overlap dengan lingkaran lain di sebelahnya. Overlapnya ini bisa agak jauh ke dalam, atau hanya sedikit masuk mengenai permukaannya saja.

Sekarang fokuskan pikiran anda hanya di lingkaran jazz saja.

Bayangkan anda mengambil penghapus, lalu perlahan hapus garis-garis yang timbul dari hasil overlapping lingkaran lain yang berada di sekitarnya.

Menurut saya anda punya lingkaran yang lebih bagus dibanding yang lainnya.(DJ)

 

“Nothing is ever pure coming out from New Orleans.” -Unknown

Image Courtesy by garasiopa.com

Advertisements

2 comments on “Kenapa Perlu Menggunakan Istilah Musik Jazz dan Populer?

  1. Pingback: Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia: Anotasi Konseptor

  2. Pingback: NonaRia dan Senandung Lagu-Lagu Hiburan

Leave a Reply

%d bloggers like this: