Advertisements
Edukasi Humaniora Karir

Follow Your Head, Not Your Passion

Berhubungan dengan pembiasan fungsi seni di masyarakat dalam paradigma sosialis, dampak naratif media mainstream dalam sepuluh tahun terakhir ini terbilang sukses mentahbiskan siapa saja baik yang mempunyai potensi maupun tidak, yang ingin menjajaki mimpinya untuk menjadi musisi terkenal, artis sinetron, atau sekedar seseorang yang menyandang status selebriti. Tagline: follow your passion.

Namun bagaimana jika ternyata realita mengusik, bahwa kebanyakan dari kita tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi hal-hal yang disebutkan diatas? Apa benar orang tidak bisa berbahagia menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja tanpa harus menjalani mimpinya?

Dogma kebudayaan populer yang menganjurkan setiap orang untuk ‘follow your passion’ ‘never give up on your dreams’ dan ’don’t let anyone tells you otherwise’, bisa jadi merupakan salah satu kebohongan terbesar di era sekarang. Sebelumnya mungkin saya perlu menjelaskan bahwa ada dua variabel yang perlu diperhitungkan, sebelum kita semua merasa perlu berbondong-bondong keluar dari pekerjaan 9-5 (baca: nine to five)nya yang monoton, untuk mengejar passion:

Eksplorasi keahlian, dan bakat.

Pengalaman mengajar di beragam institusi musik dari sekolah musik hingga perguruan tinggi membuat saya menemukan satu kalimat yang konon sangat terlarang. Kalimat ini adalah “anda tidak berbakat”. Pengucilan dan pelabelan dosen ‘kejam’ beresiko menghampiri saya apabila kata tersebut, entah sengaja atau tidak terceplos keluar dari mulut saya, belum lagi ditambah resiko berurusan dengan kolega dan atasan dikarenakan murid yang mengadu bahwa perasaannya ‘tersakiti’ oleh opini saya.

Setiap manusia yang sudah cukup dewasa untuk memahami sedikit saja seluk beluk kehidupan, akan tahu betul manfaat dari pengendalian aset diri dan talenta individu. Tapi tentu lain halnya dengan seorang anak 17 tahun yang mendaftarkan diri ke sebuah perguruan tinggi musik, hanya untuk menyadari bahwa dia ternyata mempunyai keterbatasan yang menyebabkannya urung menjadi the next John Petrucci. Bisa saja untuk segelintir orang dosen seperti saya ini lebih cocok disebut sebagai ‘perusak mimpi kawula muda yang progresif’.

‘Follow your passion’ mengingatkan saya pada sebuah tagline acara yang dulu sering disiarkan di sebuah radio swasta di sore hari ketika kebanyakan orang Jakarta terjebak kemacetan parah dalam mobil mereka, pulang dari tempat kerja masing-masing dimana mereka bekerja untuk berbagai kepentingan kapitalis korporat.

Terus terang saya mengagumi timing dari sang enterpreuner tersebut, seolah dia tahu betul kapan orang-orang ini merasa tersiksa sehingga janji kemegahan dari konsep yang ditiupkan pada acara ini bagaikan sebuah angin segar semilir yang wangi baunya. Begitu juga halnya dengan impian akan melakukan hal-hal yang mereka sukai saja (yang bisa jadi mencakup main airsoft gun, fotografi, sepeda gunung, belanja tas unyu-unyu, hingga berburu pokemon), menjadi mandiri dalam hal waktu dan finansial, tak lupa dilengkapi jargon ‘work smart not hard’ dan lain sebagainya.

Segmen ini sering mengundang pembicara yang dicitrakan berani mengambil resiko untuk keluar dari pekerjaannya demi mengejar passion, sehingga pada akhirnya berhasil meraih sukses sesuai dengan versi konvensi masyarakat modern konsumtif, dan menghasilkan uang banyak. Kemudian saya menemukan dua hal yang tampaknya sering luput dari perhatian:

  1. Lain halnya dengan para pendengar yang cuma berfokus untuk mencari (sekaligus memvalidasi) apa sebenarnya passion mereka, para pembicara ini tahu betul nilai dari kerja keras dan daya juang; yang justru menjadi kunci paling menentukan faktor kesuksesan mereka. Sedangkan passion, bagi mereka, hanya merupakan sesuatu yang muncul dari melakukan pekerjaan yang mereka tekuni sampai mencapai level keahlian yang tinggi.
  2. Para pembicara ini paham betul pentingnya kemampuan dalam mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri dan jeli meraih kesempatan. Dengan mengeksplorasi kesempatan yang muncul di depan mereka, dan belajar dari kegagalan yang berulanglah yang membuat mereka dapat menemukan ini, bukan dengan cara mendengarkan media tentang bagaimana cara menemukan passion anda (terutama segmen yang dibawakan oleh seorang enterpreneur jenius yang mempunyai passion dalam menjaring orang-orang galau sebagai target konsumen utamanya, sebagai mata pencaharian).

Mempunyai passion terhadap sesuatu hal, tidak otomatis berarti anda mempunyai keahlian dalam bidang tersebut. Saya percaya bahwa hanya orang-orang yang berkutat cukup lama untuk menguasai seluk beluk bidang dan keahliannya, merupakan sekelompok orang yang benar-benar (pada akhirnya) menumbuhkan passion di bidangnya. Ini merupakan hasil dari pengembangan keahlian yang efektif, bukan karena mereka memaksa menyiksa diri dan ngotot dengan keyakinan palsu atas passion yang dipilihnya.

Baca: Dewasalah dan Stop Menerima Diri Apa Adanya

Karir yang baik menurut versi media naratif, seringkali terdiri dari melakukan pekerjaan dalam hal yang paling anda suka saja, tapi sayangnya kerap gagal untuk menjelaskan relasi pilihan antara mengembangkan, (atau) mengeksplorasi keahlian. Masalah yang timbul adalah apabila orang kemudian menjadi tidak peka lagi terhadap berbagai possibilities lainnya, dan melewatkan kesempatan-kesempatan berharga untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan baru, karena terlampau ngotot mengejar passionnya itu.

Mungkin hal ini dapat menjelaskan kenapa sekian banyak orang berangan-angan menjadi penyanyi, tetapi sedikit sekali yang mau menekuni sound acoustics; terlalu banyak juga yang bercita-cita menjadi gitaris tapi tidak ada yang mau belajar tenor sax; atau banyak yang ingin tampil sebagai drummer sementara masih banyak dibutuhkan performing arts management yang baik di negara ini.

Apa memang kebetulan saja sound acoustics, arts management dan tenor sax tidak pernah masuk di kamus mereka dalam memilih passion? Toh ketiga hal itu juga tidak pernah disebut-sebut dalam naratif media mainstream sebagai keahlian yang berpotensi menjadi suatu ‘karir yang baik’?

Jargon 90% kerja keras dan hanya 10% bakat hanya bisa menjadi kenyataan apabila dalam prosesnya, seiring waktu, anda mengalami kemajuan yang terukur dalam mengolah keahlian itu. Apabila tidak ada kemajuan ya, berarti mungkin Tuhan memberikan bakat lain untuk anda kembangkan. Tidak perlu kecewa dan ngotot, begitu aja kok repot.

Kembali ke segmen radio tadi. Sebelumnya jangan salah sangka, saya sangat menghargai nilai dari tindakan persistence dan konsistensi, ataupun dukungan moral yang diperlukan untuk mengejar tujuan hidup yang semakin mengambang, terutama ketika perut lapar dan lelah terjebak kemacetan brutal.

Namun bagi saya, segmen radio itu tak urung menimbulkan pertanyaan: Bagaimanakah bisa seorang enterpreuner menganjurkan sekumpulan orang yang tidak dikenalnya untuk bangkit dan mengejar passion dan mimpi mereka, tanpa mengetahui pasti apa sih sebenarnya mimpi-mimpi mereka itu?

Superman

Ungkapan ‘nothing is impossible if you just put your mind to it’ juga contoh lain yang kadang membuat saya ingin membuang laptop ini ke luar jendela. Bagaimana bisa seorang Justin Bieber misalnya, tahu persis bahwa passion anda akan membawa kesuksesan dan kemakmuran, bukannya kekecewaan dan malapetaka? Seolah menemukan passion itu sama persis seperti memilih hobi. Kalau berbicara dalam konteks hobi, memang klop adanya ungkapan ‘passion will lead you’. Itulah salah satu gunanya booth karaoke, tetapi dalam konteks menentukan mata pencaharian seringkali orang dihadapkan sebuah fakta keras bahwa passion, dan bakat atau kemampuan kerap tidak sejalan.

Kita ambil contoh seorang remaja yang memilih untuk mengambil musik pertunjukan sebagai jalur pendidikan tinggi. Meskipun dia belum memiliki pengalaman bermusik dan sayangnya potensi yang minim, tetap dia percaya 100% bahwa ini merupakan jalan yang telah dibukakan untuknya oleh yang Kuasa. Dalam perjalanan studinya, ternyata setengah mati ia berjibaku dengan kelas-kelas teori, solfeggio dan major, yang disebabkan oleh (maaf) kurangnya bakat. Barulah kemudian ia tersadar bahwa ternyata dia tidak mempunyai keahlian, (yang tadinya, sebelum keluar dari lingkungan yang terlampau memanjakan dirinya) dia pikir punya.

Cerita ini sebenarnya tidak mengejutkan sama sekali. Dunia ini memang penuh dengan orang yang tidak berbakat musik, begitupun halnya dengan orang-orang yang tidak punya bakat olahraga sama sekali seperti saya ini. Tapi yang kerap mengejutkan bagi saya adalah reaksi mereka ketika mengalami penolakan, komentar pedas, nilai jelek, IPK jeblok dan lain sebagainya. Sebuah reaksi yang genuine setelah mereka tersadar bahwa passion, dan kemampuan, sebenarnya tidak memiliki kaitan satu sama lain.

Kalaupun sedemikian pentingnya untuk menemukan passion, memang apa sih sebenarnya yang mau dilakukan orang setelah sukses menemukannya? Apakah itu akan membantu mereka dalam menikmati pekerjaan atau kuliahnya, karena yakin betul kalau pilihan itu yang terbaik? Atau mungkin setidaknya kalau nyasar ya, melesetnya juga nggak jauh-jauh amat.

Lantas bagaimana dengan orang-orang yang sudah mempunyai gelar dan bekerja di bidang yang mungkin sesuai dengan passionnya, namun tidak kunjung menemukan kepuasan dalam pekerjaan?

Kepuasaan dalam pekerjaan, seringnya tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan itu sendiri. Kesenangan dalam bekerja hanya ada kalau anda memang mempunyai keahlian di bidang tersebut sehingga bentuk gratifikasi yang timbul dari diri anda sendiri adalah: emosi perasaan puas, dan hal ini tidak otomatis berkaitan dengan passion.

Saya membutuhkan pekerjaan mengajar saya misalnya, untuk mengarahkan saya kepada tujuan dan area pekerjaan yang sesuai dengan talenta yang diberikan Tuhan kepada saya. Tetapi passion adalah sesuatu yang saya kembangkan, justru setelah saya mempunyai pengalaman mengajar dan mengembangkan keahlian saya ini setidaknya setelah 10 tahun, dan passion saya tidak selalu berhubungan dengan kewajiban saya sebagai dosen slash karyawan swasta yang dituntut bekerja sinergis demi mendulang kepentingan korporasi.

Maka sebagai penutup tulisan, saya ingin menawarkan beberapa kesimpulan :

  1. Never bother to find out what your passion is, those are for amateurs. The pros just work, and know what they’re really made of.
  2. I am figuratively not my job, but I am what I contribute to others using set of skills I developed through years of hard work and preserverance.
  3. My workplace never own those skills, but I do. Therefore quoting ‘I love my job’ excessively don’t mean much to me, because there are so many things out there that draws me in, that I love, and genuinely interest me, and they are way more important than ‘my job’. I call them a purpose.

Passion, bagi saya adalah imbalan yang didapatkan dari hasil mengolah keahlian yang prosesnya tidak sebentar. Ia menempel tanpa dicari, dan pastinya tidak memerlukan konfirmasi.

Sebagai tambahan, memilih jenis lingkungan pekerjaan yang tepat juga dapat membantu banyak. Karena beberapa dari kita yang kurang beruntung mungkin tidak pernah menyadari kalau mereka berada di pekerjaan yang salah. Atau sebaliknya hanya membuang-buang waktu untuk mengejar passion yang meskipun merdu kedengarannya, setelah bertemu face to face ternyata cuma sebuah romantisme semu belaka.(DJ)

 

Image Courtesy by 1412 at drawception.com

 

 

Advertisements

2 comments on “Follow Your Head, Not Your Passion

  1. Pingback: Tipe Mahasiswa Musik Berdasarkan 7 Jenis Temperamen

  2. Pingback: Dewasalah Dan Stop Menerima Diri Sendiri Apa Adanya

Leave a Reply

%d bloggers like this: