Advertisements
AMJPI Buku Edukasi Humaniora Musik

Pengarsipan Partitur Musik dalam Buku Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia

Pengarsipan Partitur Musik dalam Buku Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia

Beragam usaha pengarsipan dan pemetaan ekosistim dari cabang-cabang kesenian di Indonesia, cukup mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir ini baik dari kalangan pemerintah dan sebagian kalangan masyarakat.

Pada bidang musik, khususnya dalam musik jazz dan populer hal ini dapat terlihat antara lain dengan diterbitkannya buku sejarah  100 Tahun Musik Indonesia oleh Denny Sakrie, maraknya berbagai re-release dan reproduksi rekaman dari beragam karya dari periode `Bintang Radio` tahun 50`an, dan bermunculannya berbagai lembaga nirlaba di bidang pengarsipan musik seperti Arsip Jazz Indonesia oleh Alfred Ticoalu dan  Irama Nusantara oleh David Tarigan www.iramanusantara.org.

Usaha-usaha pengarsipan di bidang musik ini dapat ditengarai sebagai tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk mengembangkan proyek identitas dalam berkesenian, dan karenanya masih membutuhkan metode- metode baru untuk memastikan bahwa sebagian besar output karya dan dokumentasi musik populer Indonesia, baik arsip sejarah, audio maupun notasi musik dapat diakses dengan luas oleh publik.

Berkaitan dengan hal ini selaku pendidik dan praktisi musik, saya melihat adanya kebutuhan akan sumber notasi musik jazz dan populer yang komprehensif, akurat dan valid sebagai sumber acuan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan praktis dan akademis. Khususnya dalam bidang akademik musik populer yang sekarang ini pertumbuhannya cukup pesat.

Dalam konteks akademik, kebutuhan ini terkait dengan proses pembelajaran lagu dan analisa yang umumnya dilakukan dengan mempelajari partitur secara visual, dan mempergunakan teknik dan teori musik untuk menafsirkan dan mendalami konten yang terdapat dalam karya tersebut.

Baca: Antologi Musik Indonesia: Anotasi Konseptor

Pada kalangan musisi dan pekerja seni musik baik dari tingkatan amatir hingga profesional, saya mensinyalir adanya suatu kebutuhan akan workbook yang memiliki tingkat keakuratan tinggi dalam menunjang tindakan-tindakan mereproduksi dan merekonstruksi ulang karya-karya musik jazz dan populer dari para komponis Indonesia.

Ketiadaan akses audio maupun partitur dari musik-musik tersebut (terutama dari era paska kemerdekaan hingga era Bintang Radio) dapat berdampak pada hilangnya relasi sejarah kebudayaan, yang mempengaruhi identitas berkesenian musik di Indonesia.

Selain itu besarnya nilai sejarah dari jumlah produksi musik jazz dan populer Indonesia yang masif semenjak era tersebut hingga sekarang ini, merupakan salah satu keragaman aset kebudayaan yang dapat dikaji, direproduksi dan diapresiasi oleh generasi mendatang.

Maka dalam mewujudkan hal ini tim Intisari Musik Jazz dan Populer Indonesia (IMJPI)  bekerja sama dengan Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta untuk menyusun  kompilasi  partitur dari lagu-lagu jazz dan populer Indonesia, yang akan dibukukan dalam buku Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia yang merupakan bagian dari seri buku Antologi Musik Indonesia.

Pada buku yang merupakan bagian dari program Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta 2016-2018 dan dijadwalkan terbit pada awal tahun 2018 ini, akan  terdapat 150-200 partitur lagu-lagu yang terasosiasikan dengan jazz sebagai bagian dari musik populer yang ditulis dan diproduksi di Indonesia  oleh para komponis Indonesia.

Partitur-partitur ini dituliskan ulang dalam format notasi balok yang lebih spesifik, dalam hal ini mengacu kepada istilah penulisan partitur ansambel dalam musik jazz yaitu lead sheet.

Baca: Bunyi, Aksara Tulis, dan Gambar Sebagai Teks

Penggunaan gaya lead sheet ini bertujuan untuk menyajikan partitur lagu dalam format yang praktis, sehingga memungkinkan pembaca untuk bekerja dengan lebih fleksibel dalam memainkan ulang, mereproduksi, atau melakukan tindakan-tindakan aransemen lainnya.

Dalam menentukan lagu-lagu yang akan diikut sertakan dalam buku AMJPI ini, tim penyusun menggunakan serangkaian metode yang bertujuan untuk menyeleksi materi-materi utama berdasarkan kriteria tertentu.

Kriteria-kriteria yang dimaksud secara umum mengacu pada karakteristik, gaya komposisi dan signifikansi dari lagu terkait, sehingga hasil seleksi dari tim AMJPI diharapkan dapat mewakili sebagian besar dari keberagaman lagu jazz karya komponis Indonesia.

Institusi Pendidikan Jenjang Mata Kuliah Keterangan
Fakultas Ilmu Seni, Jazz dan Popular Music, Universitas Pelita Harapan S1 a.       Konsep Improvisasi

b.      Jazz Ensemble

c.       Sejarah Jazz

d.      Instrumen Mayor

e.      Evaluasi dan Pementasan

http://music.uph.edu/programs/jazz-pop-contemporary-performance.html
Institut Kesenian Jakarta S1 a.       Instrumen Mayor
Institut Musik Indonesia – SOCA D4 a.       Jazz Improvisasi

b.      Ensembel Jazz

c.       Instrumen Mayor

http://soca.ac.id/
Institut Musik Daya Indonesia S1, Master of Music a.       Instrumen Mayor

b.      Ansambel

http://imdi.sch.id/
D’Jazz Music School Sekolah Musik a.       Instrumen Mayor

b.      Ensembel

c.       Workshop Jazz Instrument

www.djazzmusic.com
Farabi Music School Sekolah Musik a.       Instrumen Mayor www.farabimusicschool.com
Sjuman School of Music Sekolah Musik a.       Instrumen Mayor

b.      Ensemble

c.       Jazz Workshop

www. sjumanschoolofmusic.com

Tabel perguruan tinggi dan sekolah musik yang mengintegrasikan pendidikan musik jazz sebagai program utama dan program pendukung dalam kurikulumnya.

Buku Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia

Tim penyusun buku Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia bekerja untuk mengkompilasikan output karya musik berupa partitur (notasi balok) yang mencakup periode tahun 50’an hingga periode sekarang.

Dengan begitu banyaknya jumlah produksi musik jazz dan populer pada rentang periode tersebut, telah disepakati bahwa lagu-lagu tersebut perlu diseleksi untuk mencapai jumlah yang dapat disertakan ke dalam satu volume buku, yang mencapai sekitar 150-200 judul lagu, meskipun tidak tertutup kemungkinan akan dibuatnya volume lanjutan.

Tahapan pertama dari proses tersebut yaitu melakukan katalogisasi lagu-lagu jazz dan populer Indonesia berdasarkan era produksi, gaya lagu dan signifikansinya dalam kaitannya dengan tren dan segi historis lagu tersebut.

Dikotomi yang luas antara variasi gaya pada era-era di jazz, menyebabkan sulitnya melakukan klasifikasi gaya lagu dengan akurat. Mengacu pada perkembangan jazz di Indonesia, katalogisasi lagu dalam katalog AMJPI secara umum dilakukan dengan mengamati tren gaya yang populer pada masing-masing era.

Pada katalog Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia terdapat judul-judul lagu yang dikumpulkan melalui beberapa metode pengamatan :

  1. Mengumpulkan data dari sejumlah stasiun radio dan televisi, untuk daftar lagu-lagu yang populer pada suatu periode tertentu. Seperti radio KLCBS di Bandung, atau radio Mara, ARH, CnJ dan Brava di Jakarta yang dulu kerap menyiarkan lagu-lagu jazz. Media-media ini umumnya mempunyai akses ke database lagu yang berdasarkan tren populer di Amerika pada periode-periode tertentu.
  2. Kajian dokumen berupa referensi dari sumber pustaka sejarah yang valid, antara lain buku Jazz Indonesia yang ditulis oleh Deded Moerdad, 100 Tahun Musik Indonesia oleh Denny Sakrie, dan Album Kenangan Bing Slamet oleh Sumohadi Marsis. Dalam kategori ini termasuk artikel-artikel koran dan majalah seperti Pikiran Rakyat dan Tempo, serta beragam sumber arsip internet dari website Arsip Jazz Indonesia dan Irama Nusantara.
  3. Wawancara, testimoni dan referensi dari para musisi, para pekerja musik seperti produser dan arranger, penyiar radio, dan para pengamat musik yang mempunyai keahlian dan kompetensi dalam bidangnya. Selain itu mereka juga perlu mempunyai pandangan yang kredibel dari segi analisa estetika, dan pengetahuan akan musik jazz dan populer di Indonesia, sehingga opini mereka diperhitungkan sesuai dengan kapasitas mereka sebagai narasumber.

Kategori Umum

Pada buku Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia terdapat lagu-lagu jazz yang mempunyai karakteristik serupa dalam hal format, instrumentasi dan segi fungsionalnya. Sehingga dapat dilakukan generalisasi gaya yang menghasilkan klasifikasi umum sebagai berikut :

  1. Lagu populer dengan form simetris AABA, ABA, AB, ABC, ABCD dengan jumlah bar 32, 64, atau form asimetris dengan 36 dan 24 bar. Umumnya bergaya swing dan dituliskan dengan intro, outro dan elaborate ending yang lebih pendek dari versi orisinalnya, untuk menghindari page turn. Contoh lagu : Ilhamku-Saleh Sartono, Pajung Fantasi-Ismail Marzuki, Aku Ini Punya Siapa-Dian Pramana Putra.
  2. Lagu-lagu dengan format Blues 12 bar, Rhythm Changes, dan beragam lagu instrumental yang dituliskan dengan gaya Bebop dan Post Bop. Lagu-lagu ini biasanya diciptakan tanpa lirik, sesuai dengan karakteristik jazz di eranya. Format biasanya lebih bervariasi, meskipun umumnya masih mengandung pakem 32 bar. Contoh lagu dalam gaya ini : Home Blues-Kevin Yosua, City Lights-Robert MR, Busway Blues-Johanes Radianto, dan lain sebagainya. Seperti pada format jazz standard, lagu-lagu ini dituliskan dengan intro dan ending
  3. Lagu-lagu modal jazz dan modern jazz yang umumnya muncul pada tahun 1960-an. Pada komposisi modal, penulisan didominasi oleh bass ostinato dan struktur harmoni yang non-diatonis. Karakteristik harmoni komposisi lebih bebas dari aturan fungsi harmoni yang identik dengan penulisan di gaya lagu populer(jazz standards) atau bahkan Bebop. Contoh lagu antara lain Djanger Bali– Tony Scott & Indonesian All Stars, A Park-Elfa Zulham, Beginning of an End-Julian Marantika, Golden Mask-Ali A. Sugiri.
  4. Lagu-lagu gaya Brasillian yang mencakup samba, bossa nova, dan lagu-lagu dengan irama Amerika Latin (cha-cha, rhumba) seperti : Hello Gib-Nial Djuliarso, Apabila Kau Tersenyum-Irama Special Trio, Lita-Orkes Maja Serodja dbp Soetijoso.
  5. Lagu-lagu yang ditulis oleh musisi jazz dengan gaya yang berasimilasi dengan gaya Rock dan Pop pada periode 1970 hingga 1990an. Contoh lagu : Melayang-Dian Pramana Putra, Sesaat Kau Hadir-Utha Likumahuwa, For Earth and Heaven-Indra Lesmana, dan banyak lagi.

Jazz dan Diversifikasinya sebagai Musik Populer Amerika

Jazz sebagai salah satu musik populer Amerika, sejak awal kemunculannya di awal abad ke-20 mempunyai sebuah natur yang unik dalam kemampuannya menyerap dan berasimilasi dengan gaya seni musik lainnya. Mulai dari tradisi musik populer, musik klasik hingga musik etnik berbasis tradisi. Contohnya pada tradisi musik Ragtime yang menurut Scott Joplin, seorang pianis dan komposer ragtime adalah “African American version of Polka”, gaya piano ini berasal dari tradisi gaya komposisi musik klasik dengan pengaruh unsur-unsur sinkopasi dan blues (Gioia:1997).

Baca: Kenapa Perlu Menggunakan Istilah Musik Jazz dan Populer?

Proses sejarah evolusi pada perkembangan jazzband di kota `kelahiran` jazz yaitu New Orleans, yang berasal dari tradisi funeral march, mengimplikasikan bahwa tidak ada jazz dari New Orleans yang benar-benar murni. Gaya jazz Dixieland yang terbentuk di Chicago pada tahun ’30-an dan Swing Bands pada masa keemasannya, juga merupakan bentuk-bentuk musik baru yang mengalami proses sintesis dengan tradisi musik populer pada masanya masing-masing.

Dengan menggunakan format lagu populer, pengaruh gaya sinkopasi dan unsur-unsur blues dari pemain jazz seperti Louis Armstrong, bahkan para komponis jazz di era Swing 1930-an seperti Paul Whiteman dan Fletcher Henderson yang notabene bukan berasal dari kalangan musisi yang akrab dengan jazz, ikut berperan dalam membentuk sebuah hegemoni gaya musik jazz yang nantinya dikenal luas sebagai gaya Swing.

Dikotomi gaya musik populer pada masa sebelum era Bebop pada 1940-an memang masih  terbatas, sehingga musik populer tidak mungkin lepas dari pengaruh jazz, dan jazz pada masa itu merupakan musik populer yang pengaruhnya sangat ekspansif bagi perkembangan musik di Amerika.

Terminologi musik jazz standard mengacu kepada lagu-lagu populer Amerika pada periode tahun 1930 hingga 1950, yang umumnya dipopulerkan oleh para penyanyi, atau aktor dengan aransemen bergaya swing. Baik itu sebagai soundtrack film atau repertoire Broadway, lagu-lagu tersebut biasanya masuk dalam kategori musik populer, dan diciptakan oleh para komponis terkenal pada masa itu, seperti Cole Porter, Frank Loesser atau Rodger Hammerstein.

Meskipun mereka tidak termasuk dalam kategori komponis jazz, atau setidaknya bukan dalam ukuran komponis jazz seperti Billy Strayhorn dan Duke Ellington, dalam praktiknya para musisi di era Bebop pada tahun 1940-an sering memasukkan lagu-lagu populer tersebut ke dalam repertoire mereka.

Hal ini menjadi suatu hal yang kontradiktif pada masa Bebop, sebuah periode yang disebut dengan era Modern Jazz, juga sekaligus merupakan salah satu momen terpenting dalam sejarah jazz. Yaitu periode ketika jazz mulai meninggalkan stigma musik hiburan yang identik dengan kebudayaan massa, sehingga gaya-gaya yang muncul setelah era ini terutama pada era Post Bop, Third Stream dan Free Jazz di tahun 1950an, semakin menjauh dari pola-pola tradisi yang terbentuk pada era sebelumnya, dan mempunyai karakteristik musik yang lebih terfragmentasi dan progresif (Gioia, 1997).

Dalam natur aslinya, jazz seperti sudah ditakdirkan untuk selalu mengalami perubahan bentuk dan gaya. Di kalangan seniman, kontroversi mengenai validitas gaya jazz dari suatu era ke era yang lain sering menjadi sumber diskusi dan perdebatan yang menarik.

Hal tersebut membuktikan bahwa di satu sisi, para seniman selalu mempunyai keinginan untuk mempreservasi dan `membekukan` gaya-gaya jazz yang signifikan pada era-era tertentu, namun disisi lain selalu memiliki hasrat yang tak terbendung untuk mendekonstruksi dan merombak ulang tradisi, sambil terus mengembangkan gaya yang dibangunnya untuk menciptakan elit-elit baru.

Sifat progresif dari jazz, yang menjadikannya selalu berada di ambang antara musik hiburan dan musik apresiasi, merupakan suatu berkat sekaligus kutukan bagi sebuah gaya musik yang pernah dengan ekspansifnya mendominasi kebudayaan musik populer di pertengahan abad ke-20 ini.

Jazz di Indonesia

Era 1950-an merupakan periode yang penting bagi perkembangan musik jazz dan populer di Indonesia. Salah satu sebab dari munculnya sarana-sarana dan infrastruktur yang memadai, yang memungkinkan para musisi untuk berkarya secara lebih produktif dan kompetitif.

Hal itu dapat terlihat dari bermunculannya label-label rekaman seperti Irama, Remaco dan Lokananta,  serta dengan diadakannya Festival Bintang Radio yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia. Faktor-faktor tersebut turut membantu menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan musik di tanah air (Sakrie, 2014).

Adapun kompetisi Bintang Radio menghasilkan banyak sekali penyanyi dan musisi berbakat, antara lain Sam Saimun. Titiek Puspa, dan Bing Slamet yang juga sekaligus mempopulerkan karya-karya dari komponis di eranya. Ismail Marzuki, Iskandar, Mochtar Embut merupakan deretan komponis yang menciptakan karya-karya musik populer yang penting pada masa itu.

Sehingga dapat dikatakan bahwa era 1950an ini merupakan tonggak awal dari tumbuhnya industri musik populer di Indonesia, yang belum ditemui pada era-era sebelumnya. Bahkan pada masa pelarangan musik yang dipengaruhi gaya barat yang dianggap dekaden oleh Presiden Soekarno pun, terdapat keunikan gaya komposisi dan gaya bermain yang mencerminkan asimilasi musik dari tradisi lokal dan barat, yang mempunyai ciri-ciri tersendiri.

Keunikan gaya musik yang muncul pada periode ini merupakan salah satu bagian dari kekayaan seni musik jazz dan populer Indonesia yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan musik-musik populer pada masa itu.

Meskipun sempat redup di periode 1970-80’an, melalui musisi seperti Jack Lesmana, Bubi Chen, Bill Saragih dan Benny Likumahuwa yang kerap tampil di acara televisi atau pagelaran-pagelaran jazz yang tersebar mulai dari Taman Ismail Marzuki hingga hotel-hotel di Jakarta dan Bandung, jazz di Indonesia terbukti mampu bertahan hidup meskipun dengan infrastruktur yang sangat terbatas.

Hal ini tentunya kontras dengan kondisi sekarang ini dimana jazz telah mendapat pasar tersendiri dalam industri musik di Indonesia. Sejak akhir dekade 2000-an terutama dapat diamati eforia yang terjadi di masyarakat akan musik jazz, yang terlihat dari banyaknya pagelaran dan festival jazz yang tersebar di seluruh Indonesia.

Infrastruktur musik pun membaik seiring dengan meningkatnya pembahasan di media dan pembelajaran-pembelajaran baik formal maupun non-formal dalam komunitas, sekolah musik hingga perguruan tinggi musik.

Proses Penyeleksian

Variasi gaya bermusik yang bermunculan mulai dari generasi pertama musisi jazz Indonesia seperti Tjok Sinsoe, Rob Prong dan Dick Abel ke generasi kedua musisi, antara lain Jack Lemmers, Nick Mamahit dan Bubi Chen — hingga para musisi generasi sekarang, antara lain gitaris Tesla Manaf, pianis Sri Hanuraga, saksofonis Ricad Hutapea dan banyak lagi, telah melalui proses-proses evolusi seiring dengan berubahnya tren-tren dalam musik jazz dan populer. Hal ini tentu menyimpan beragam kekayaan dari perkembangan musik jazz di Indonesia.

Dengan mempertimbangkan ragam diversifikasi dalam musik jazz dan banyaknya jumlah produksi musik jazz dan populer pada rentang periode 1950-an hingga sekarang, kiranya diperlukan sebuah metode penyeleksian untuk menyusun daftar lagu secara tepat dan sistematis. Hal ini diharapkan dapat membantu tim penyusun dalam merepresentasikan sebagian besar dari keragaman musik jazz Indonesia dengan lebih akurat.

Metode penyeleksian partitur musik jazz dan populer pada Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia memiliki sejumlah kriteria seleksi yang secara garis besar mencakup asosiasi lagu dengan tradisi jazz, memiliki keunikan dari otensitas segi komposisi, dan signifikansinya dalam tren musik populer di Indonesia. Ketiga kriteria tersebut merupakan bagian dari metode appraising yang digunakan tim AMJPI, yang dijabarkan secara singkat berikut ini :

  1. Asosiasi lagu dengan tradisi jazz, merupakan kriteria yang mencakup,
  2. Kemiripan gaya lagu dengan kategori umum, yang dijabarkan sebelumnya dalam pembahasan di atas.
  3. Lagu populer yang dimainkan oleh para musisi dengan reputasi dan jejak karya di musik jazz, yang telah melalui proses aransemen ulang dan dipresentasikan, diulas atau diperdengarkan dalam lingkup jazz, seperti stasiun radio dan media cetak.
  4. Memiliki otensitas dalam segi komposisi,
  5. Lagu-lagu daerah yang dipresentasikan dalam konteks produk jazz. Hal ini mencakup lagu-lagu daerah yang diaransemen ulang dalam gaya yang terdapat di kategori umum, atau menciptakan sebuah sintesis yang mempunyai unsur kebaruan.
  6. Produk karya yang mempunyai unsur orisinalitas tinggi, mengalami proses pencampuran berbagai gaya yang unggul secara estetika, dan mempunyai signifikansi dalam segi historis.
  7. Pertimbangan berdasarkan tren populer,
  8. Berdasarkan tren lagu populer dapat diperoleh data pola atas lagu-lagu yang kerap dimainkan atau diputar. Berbagai pertimbangan lain yang mencakup dua poin diatas juga diperhitungkan, untuk mendapatkan seleksi yang kiranya tepat.
  9. Menilik kegunaan dari buku antologi bagi segi praktisnya, dibutuhkan data kualitatif berupa wawancara informan dengan bekal pemahaman atas sistem kategori utama.

Tentunya selain kriteria yang disebutkan diatas, ada upaya lain yang diperlukan dalam menelaah data-data primer rekaman untuk kemudian disimpan dalam sebuah media buku antologi. Seperti disebut dalam Denzin (1997:412)”Upaya dalam menemukan dan menelaah data-data historis primer bisa diibaratkan sebagai kerja detektif. Dalam hal ini banyak faktor yang diperlukan seperti logika, intuisi, ketekunan dan akal sehat.”

Denzin juga membahas mengenai ‘imajinasi historis’ dalam Handbook of Qualitative Research, bahwa kesan-kesan tertentu akan membantu dan memberikan petunjuk bagaimana dokumen atau sumber tersebut ditafsirkan pada masanya, dan kajian dokumen sebagai bekal data penting dilakukan sebagai bekal untuk merekonstruksi makna (Denzin:1997).

Meskipun dalam prosesnya seleksi ini tidak bisa sepenuhnya lepas dari bias pemahaman, kiranya buku ini masih dapat berpegang pada pedoman kuratorial penyusunan dalam segi provenance. Dalam proses penyusunan transkrip, penyajian data mengenai data (metadata) atau data sekunder dalam hasil yang berupa partitur, dialihkan bentuk dari data primer yang berasal dari rekaman. Versi sumber primer ini perlu dipresentasikan dengan akurat melalui transkrip partitur yang menyajikan data tersebut sesuai dengan bunyi aslinya.

Pemilihan dalam menyusun seleksi akhir buku ini, secara singkat telah dijelaskan dalam uraian diatas. Kompleksitas dari proses pemilihan memang dapat menyebabkan pembahasan ini terbuka sifatnya, dan bisa memicu perdebatan mengenai tingkat validitas dari kriteria yang ditentukan. Namun dalam hal ini ketiga kriteria seleksi (asosiasi, otensitas, tren) tetap menjadi aturan historiografis yang berpedoman pada reliabilitas dan validitas fakta dan sumber.

Sejarah yang tertulis biasanya tidak dapat lepas dari referensial kekuasaan, namun hendaknya kita cukup berfokus kepada bagaimana menggunakan referensi sejarah tersebut untuk masa sekarang. Dengan kata lain konvensi yang diproduksi secara politis tidak dapat lepas dari bias, namun hendaknya tindakan-tindakan interpretatif ini mencukupi untuk menyusun sebuah buku acuan yang tujuannya untuk menyajikan partitur jazz Indonesia yang mempunyai ragam fungsi dan kegunaan. Seperti juga diungkapkan oleh Scott (dalam Denzin, 1997:409), :

“Secara inheren, sejarah selalu bersifat politis. Tidak ada satu pun pedoman baku untuk menilai ‘kebenaran’ suatu pengetahuan sejarah … Yang ada hanyalah kesepakatan dan ketidaksepakatan, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit, tentang substansi, nilai guna, dan makna dari pengetahuan yang kita namakan sejarah … Proses ini berkutat pada persoalan penegakan (dan peruntuhan) dan perlindungan (dan penghancuran) definisi sejarah yang bercirikan hegemonis.”(DJ)

 

 Denzin, Norman K dan Yvonna Lincoln. 1997. ”Handbook of Qualitative Research” terjemahan dari Handbook of Qualitative Research oleh Dariyatno. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Er Moerad, Deded. 1995. Jazz Indonesia. Jakarta: PT Matra Multi Media Jakarta

Gioia, T. 1997. The History of Jazz. New York:Oxford University Press

Mack, Dieter. 2001. Pendidikan Musik Antara Harapan dan Realitas. Bandung: UPI

Sakrie, Denny. 2015. 100 Tahun Musik Indonesia. Jakarta: Gagasmedia

Sher, Chuck.(peny) 1988. The New Real Book. California: Sher Music CO

 

Advertisements

2 comments on “Pengarsipan Partitur Musik dalam Buku Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia

  1. Pingback: Notasi Musik Sebagai Aksara Tulis

  2. Pingback: Donny Suhendra Seputar Hollow Body dan Tape Deck -

Leave a Reply

%d bloggers like this: