Fungsi utama dari pencatatan notasi musik adalah untuk memberi gambaran aural dari sebuah karya musik, melalui berbagai macam bentuk simbol. Notasi musik modern yang dikenal dan dipakai sekarang umumnya berasal dari tradisi penulisan musik klasik. Meskipun format yang terstandar ini juga lazim digunakan di berbagai genre musik populer lainnya.

Dalam memahami bentuk penulisan dari bunyi yang dialihkan ke aksara, dengan tujuan untuk menjadi bunyi kembali, pertama-tama kita perlu melihat musik sebagai suatu tradisi lisan. Tindakan pengalihan wahana lisan ke bentuk aksara ini awalnya lebih dilihat sebagai usaha preservasi karya, sehingga di kemudian hari bunyi tersebut dapat diulang untuk keperluan analisa dan pembelajaran. Lagu anak-anak yang umumnya pendek dan melodinya sederhana, biasanya gampang diingat oleh kebanyakan orang. Tetapi dalam karya musik yang lebih kompleks seperti sonata, atau musik orkestrasi tentunya membutuhkan alat atau wahana untuk dapat memainkan keseluruhan komposisi secara akurat.

Akurasi yang dimaksud, setidaknya  dalam konteks pembahasan musik klasik, hanyalah sebuah gambaran umum dari hasil interpretasi akhir. Pada kenyataannya, banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil :

  1. Referensi aural dari beberapa versi musik yang dimainkan oleh master artist yang berlainan. Dalam musik jazz misalnya, kita bisa menemukan banyak versi dari lagu yang sama, kadang dengan perbedaan yang ekstrim dalam menginterpretasi melodi lagu, yang tertuliskan dalam notasi musik.
  2. Versi transkripsi yang berbeda; misalnya Lute Suite in G minor BWV 995-J.S Bach yang diterjemahkan untuk dimainkan di instrumen lute, dari versi instrumen aslinya yaitu cello (Cello Suite No.5 BWV 1011). kemudian ditranskrip lagi untuk instrument gitar. Peralihan ini menghasilkan tiga versi transkripsi yang berlainan, tentunya dengan interpretasi tempo, ornamentasi, bahkan bagan yang berbeda satu sama Hal ini dapat disebabkan karena warna dan struktur instrumen yang sangat berbeda. Perlu dipertimbangkan juga bahwa pada musik di era Bach, detil dalam musik dan ornamen tidak dituliskan secara akurat sehingga memungkinkan pemain untuk “berimprovisasi” dalam bagian tertentu.
  3. Preasumsi atas imaji aural berdasarkan penelitian literatur dan sejarah musik yang terkait. Hal ini biasanya berhubungan dengan penelitian akademis dalam musik-musik baroque dan rennaisance, mengingat tidak ada seorang pun yang hidup di masa sekarang mengetahui 100% denganpasti, seperti apa musik tersebutdimainkan 300 tahun yang lalu.

Dari sudut pandang akademis, dalam proses pembelajaran musik, akurasi dalam memainkan notasi musik selalu ditekankan dengan kritis pada fase awal. Tetapi pada tahap lanjut, seseorang yang mencapai taraf profesional misalnya, akan dituntut untuk menemukan gaya dan interpretasi yang lebih personal. Tak dapat dihindari bahwa hal ini seolah dapat memvalidasi tindakan mereka untuk menginterpretasikan musik, dalam hubungannya dengan aksara notasi dengan lebih liberal.

Sehingga notasi musik, yang pada pengertian aksara tulis dapat dibandingkan dengan kumpulan gambar yang memiliki residu, justru tidak bersifat tertutup. Ia tidak sempurna dalam bentuknya sendiri, dan tidak memiliki otonomi penuh. Notasi musik sebagai salah satu bentuk aksara tulis bukanlah suatu bentuk final, melainkan sebagai pencatatan dari sebuah karya musik, yang ditujukan untuk melahirkan penciptaan lain sebagai bentuk finalnya.(DJ)