Advertisements
Buku Edukasi Humaniora Musik Seni

Seni Murni dalam Dunia Manusia Sekarang

This is the excerpt for a placeholder post.

Seni Murni dalam Dunia Manusia Sekarang

Seusai membaca bab satu dari buku “Untuk Apa Seni”, saya mendapatkan sebuah sudut pandang baru mengenai pemahaman seni, dari perspektif fungsi seni dalam kehidupan manusia dan kaitannya dengan pergeseran paradigmatik seni yang terjadi di 1960-an, ketika seniman Andy Warhol mulai membuat pop artnya yang berupa lukisan kaleng sup dan gambar artis Hollywood yang terkenal itu.

Pada bab awal buku karangan Bambang Sugiharto ini, pembicaraan tentang seni pada tingkatan filosofis dibahas kaitannya dengan makna dan pengalaman real seseorang dalam menyikapi kebenaran persepsi realita.

Pembahasan ini kemudian dikaitkan dalam konteks sains, agama dan filsafat sebagai upaya-upaya untuk mengolah misteri manusia, alam semesta dan misteri ilahi melalui proses kontemplatif dengan menggunakan medium-medium seni.

Terakhir dilanjutkan dengan masalah dalam pelembagaan seni konvensional dengan segala keterbatasannya; pergeseran paradigma seni yang dilihat dari perspektif kebudayaan global, hingga definisi dari seni murni dengan beragam manfaatnya.

Pergeseran paradigmatik seni sebagai pengamatan estetika yang lebih bersifat partisipatoris mendukung perspektif dari sejarah kesenian manusia, yang sebagian besar merupakan bagian dari pengalaman yang bersifat kontekstual-kultural.

Pembahasan pergeseran ini kemudian dikategorikan lebih lanjut ke dalam dikotomi: (1)kesenian yang bersifat prosaic atau bentuk ‘presentasi’, dan (2)seni murni yang bersifat poetic atau ‘representasi’.

Pembagian ini dijabarkan sebagai seni terapan, dan seni murni; sehingga seni, yang dalam konteks paling mutakhirnya dapat dimengerti sebagai tindakan meleburkan seni ke dalam kehidupan sehari-hari, adalah bagian dari perspektif seni modern yang dalam buku ini disahkan sebagai esensi dari seni murni.

Seni murni modern yang kerap bersifat dekonstruktif dengan menguraikan elemen-elemen bentuk, bunyi maupun gerak, bertujuan untuk menimbulkan persepsi atau pengalaman real yang instan. Hal ini memang tidak dapat lepas dari konteks sosialnya di masyarakat modern dalam era informasi visual yang begitu cepat.

Kebutuhan akan kecepatan dan keringkasan, yang pada akhirnya mempengaruhi proses dalam tindakan manusia untuk mengapresiasi seni, menyebabkan seni modern tidak membutuhkan waktu berjam-jam untuk menghasilkan tafsir, seperti dalam membaca buku sastra, atau menonton pertunjukkan balet misalnya.

Baca: Antologi Musik Jazz dan Populer Indonesia: Anotasi Konseptor

Dalam analogi sederhana, seni murni modern hanyalah merupakan representasi dari kehidupan manusia yang bergerak semakin cepat di era digital ini, tidak ubahnya representasi kehidupan manusia pada era Baroque pada karya suite Bach, atau karakteristik komposisi dalam tiga periode musik Duke Ellington, yang masing-masing menggambarkan kondisi sosial budaya pada masa kesenian tersebut hidup.

Namun pada masa sekarang dimana proses penciptaan juga berlangsung secara spontan dan cepat, perlu kita pertanyakan barometer kualitas dari paradigma kesenian mutakhir dalam budaya modern.

Apakah benar kepekaan empati dan spektrum perasaan kita dapat diperkaya dan diperdalam, melalui seni yang diambil dari kehidupan sehari-hari masyarakat modern; yang diselipkan ke dalam waktu luang kita yang bukan hanya sudah sangat minim tetapi juga sudah terkomodifikasi dengan sangat masif? Atau apakah ini malah menunjukan gejala degradasi nilai-nilai kesenian, alih-alih untuk memperkaya nilai peradaban manusia?

Meskipun seni sekiranya memang tak mungkin ‘dipenjarakan’ semata-mata dalam satu atau dua rumusan, atau dalam kerangka ukuran barat semata seperti dijabarkan di dalam penutup bab satu itu, saya percaya masih diperlukan standar yang obyektif sebagai parameter dalam menilai sebuah karya seni.

Baca: Kenapa Perlu Menggunakan Istilah Musik Jazz dan Populer?

Saya merasa sudah umum anggapan bahwa seni murni modern juga telah melahirkan subyektivitas dan elitisme-elitisme baru. Seperti dalam kasus modern art di Inggris, dimana galeri-galeri seni rupa yang mendapat subsidi besar dari penerimaan pajak pemerintah mendapat kritik habis-habisan karena kerap menampilkan ekshibisi karya yang dinilai dangkal dan hanya bersifat self indulgent dan pretentious.

Keberpihakan dan pengambilan keputusan yang bersifat ideologis dalam kelembagaaan seni kiranya memang sulit untuk sepenuhnya dihindari, namun dalam hal ini dugaan elitisme atas penilaian otensitas karya dengan hanya berlandaskan subyektivitas persepsi, nampaknya tidak jauh berbeda dengan pandangan para pendukung seni modern mengenai seni konvensional yang ‘elit dan otoriter’. Karena dalam komunitas elit tersebut tampaknya sah-sah saja untuk menempelkan makna kepada sesuatu yang sama sekali tidak bermakna, dalam rangka mengusung kebebasan berekspresi dan ber-persepsi, sekaligus mengesahkan superioritas intelektual mereka yang bersifat komunal dan ilusif.

Gejala ini juga diperparah ketika para pendukungnya terlalu giat memperjuangkan hak semua orang untuk mendapatkan equal privilage dalam memperoleh apresiasi karya dan sedikit memaksa agar karya tersebut, sebagaimanapun absurdnya, merupakan buah imajinasi yang lahir dari persepsi kontemplatif manusia yang patut dihargai.

Relativisme dalam penilaian estetika pun menjadi sesuatu yang mulai dianggap normal dan divalidasi, ketika seorang seniman modern mengisi 19 kaleng dengan kotorannya sendiri dan menuntut agar karyanya dapat diterima dan dihargai oleh masyarakat.

Elitisme dalam seni modern ini bisa dianalogikan dengan kasus di tahun 2015 lalu ketika seorang pria warga Kanada berulah dan berpakaian seperti anak perempuan, menganggap dirinya adalah seorang anak berusia enam tahun dan menuntut agar masyarakat secara moral bersedia menerima delusinya tersebut.

Ekshibisi dalam seni modern lainnya antara lain mencakup sekumpulan tutup botol yang dilekatkan ke tembok, sebuah kanvas yang kosong, musik dan tari tanpa bunyi dan gerak, atau bahkan sebuah karya seni konseptual yang tidak terlihat.

Apabila tindakan dekonstruksi tersebut telah mencapai limit batasnya, hal ini bisa dianalogikan seperti seseorang yang membuka pakaiannya satu persatu untuk menarik perhatian orang lain; maka ketika akhirnya ia sudah telanjang bulat dan kedinginan, ia akan mengais-ngais untuk mencari potongan baju atau apapun yang bisa dijadikan penutup tubuhnya, sekaligus untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai satu entitas baru.

Ketika hal ini terjadi berulang kali maka bisa diartikan bahwa sifat totaliter dari sistim ‘kebenaran eksistensial’ dalam paradigma ini, lebih berwujud kepada kepentingan eksistensial yang bersifat politis atau ekonomis dari sekelompok orang tertentu saja.

Maka dari perspektif ini dapat dipahami bahwa konsep seni mutakhir berpotensi untuk menghasilkan suatu bentuk eksklusivitas yang memperjuangkan delusi-delusi kolektif dalam usaha memaknai sesuatu karya yang kosong dan memang tidak ada maknanya.

Bahwa pemaknaan tafsir pada level rasawi imajinatifnya, dalam istilah Bambang Sugiharto, terkesan hanya dapat dimaknai oleh orang-orang yang ‘terpilih’. Sehingga bagi yang less superior atau tidak terpilih hanya cocok untuk menikmati seni terapan maupun seni-seni ‘dekoratif’ lainnya.

Di luar anggapan seni murni modern yang dilihat dari pandangan peradaban umum dalam sejarah manusia dan konsep mutakhirnya yang terintegrasi dalam estetika keseharian, kita perlu menyadari dampak buruk dari penilaian otensitas sebuah karya seni yang hanya berdasarkan relativisme estetika dan kecenderungan-kecenderungan subyektif belaka.

Dalam konteks pendidikan seni, hal ini tidak hanya dapat meruntuhkan tradisi kesenian yang selama ini dikenal manusia melalui proses selektif kebudayaan, namun juga keberadaan dan fungsi utama dari institusi-institusi kesenian itu sendiri.

Dalam pengajaran kesenian, ketika proses mengeksplorasi elemen baik dalam bentuk garis, bunyi, gerak, dan penggunaannya sebagai alat untuk merepresentasikan bentuk karya seni dihilangkan demi kepentingan misi suci orisinalitas; dalam rangka ‘menghindari hegemoni seni barat yang kapitalistik dan otoriter’, maka yang tersisa hanyalah imajinasi dan kepekaan rasawi.

Sayangnya kemampuan mengolah rasa ini cukup sulit untuk ditakar dan diajarkan, apalagi untuk sepenuhnya diintegrasikan dalam durasi pendidikan tinggi seni yang tergolong singkat. Hal ini tercermin pada pengamatan bahwa hanya sebagian seniman modern saja yang benar-benar berbakat dan mempunyai keahlian, tapi sebagian besar lainnya hanya merupakan para pejuang ‘kebenaran eksistensial’ yang umumnya berpandangan sempit, non conformist, dan kurang berbakat.

Maka logikanya apabila tidak ada standar yang berlaku, untuk apakah kita masih mempunyai standar sama sekali? Saya berpandangan bahwa dalam pembelajaran tradisi-tradisi kesenian, kita harus mau bergelut dengan pembelajaran teknis yang bertujuan untuk meningkatkan keahlian seorang seniman dalam menciptakan karya; hal ini tentunya diluar dari mengembangkan kemampuan eksplorasi batin sebagai representasi realitas, dan disinilah peran dari referensi sejarah, filsafat seni dan pembelajaran atas karya seni lain yang lebih superior.

Dalam perkembangan paradigma seni memang bisa diakui bahwa institusi kesenian, dalam konteks pendidikan tinggi khususnya, tidak akan pernah mampu mengikuti kecepatan dari perkembangan seni modern. Maka perlu diperhitungkan bahwa institusi memang perlu mendukung dan mengantisipasi perkembangan paradigma baru dalam kesenian, namun juga perlu digaris bawahi bahwa institusi kesenian tetap berkewajiban untuk memberikan dasar-dasar yang diperlukan dalam mengapresiasi seni, dan penguasaan teknis atas tradisi seni yang bersangkutan.

Baca: No Braggin’ Speaking To The Universe In His Coat Of Arms

Kita tidak bisa semata-mata menyangkal tradisi tonalitas dalam musik misalnya, tanpa mengetahui standar yang digunakan dalam mengukur unsur simetris dan asimetris, unsur konsonan dan disonan, dan unsur lainnya yang digunakan sebagai konvensi parameter dalam berkesenian musik.

Kita tidak dapat mengklaim begitu saja apakah sesuatu karya itu berada di dalam atau di luar konteks, tanpa memiliki pemahaman menyeluruh akan konteks itu sendiri. Sehingga pemaknaan yang timbul dari paradigma-paradigma baru ini, bisa jadi hanya akan berujung eksklusif dan banal apabila ditemukan absennya relasi kesadaran persepsi dalam membandingkan dan mengkaitkan paradigma baru dengan yang  lama.

Bentuk-bentuk kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk menciptakan persepsi yang lebih mendalam akan nilai dari karya-karya seni yang dianggap superior pada masanya, merupakan salah satu kunci dasar dalam memahami dan menindak lanjuti sebuah apresiasi seni.

Karena apabila semua orang ingin, dan bisa dianggap seniman, dan ketika seni sudah menjadi kegiatan sehari-hari yang tidak memerlukan keahlian khusus yang dipelajari dengan dedikasi, atau bahkan tidak lagi merasa memerlukan perbandingan dari karya-karya seni superior yang pernah ada, maka dengan sendirinya seni dalam kehidupan manusia hanya akan bersifat satu dimensional, bangkrut dan banal, setelah terlampau sibuk menelanjangi dirinya sedemikian rupa melalui proses bermain-main yang plural. (DJ)

 

Image courtesy of drawception.com

Advertisements

0 comments on “Seni Murni dalam Dunia Manusia Sekarang

Leave a Reply

%d bloggers like this: