Advertisements
Edukasi Festival Jazz Humaniora Musik Seni

Bukan Dari Mata Sang Pencipta

This is the excerpt for a placeholder post.

Para penggemar jazz di Jakarta pasti mengenal acara itu dimana gosip line up artis, jadwal konser dan padatnya latihan memadati ruang di media sosial. Satu dua minggu seusainya, entusiasme para pencinta musik masih belum juga redup, timeline biasanya masih penuh dengan bermacam ucapan berhiaskan berbagai foto grup maupun selfie.

Topik pembicaraan mengenai inipun masih hangat, dan kerap berbumbu preferensi personal mengenai artis tertentu yang kemudian biasanya diikuti opini mengenai layak atau tidaknya kualitas musik mereka di sebuah festival jazz.

Saya berasumsi bahwa ekspektasi umum pada program festival jazz seringkali bukanlah keberagaman, tapi lebih kepada gambaran individu bagaimana jazz seharusnya terdengar.

Terkadang menarik untuk mendapati preferensi seseorang yang begitu berbeda tentang musik jazz di masyarakat kita yang notabene seringkali masih sulit untuk memperlakukan, bahkan membedakan musik apresiasi dengan musik hiburan.

Baca: Pluralisme Tafsir dalam Pendidikan Musik

Kita semua memang bebas berpendapat tapi masih perlukah mempertanyakan validitas dari penilaian seseorang pada era sekarang di Indonesia, dimana ulasan musik jazz yang kebanyakan dijumpai hanya dalam bentuk retweet, fitur like atau komen di youtube, atau apakah persepsi kita mengenai jazz sudah demikian relatif sehingga kita sama sekali tidak berhak untuk memilah, dan diversifikasi menjadi hal yang terlalu murah pada saat sekarang?

Melihat dari sisi anggapan umum masyarakat kita tentang jazz, saya teringat ketika beberapa tahun lalu teman saya, Dr.Tompi, dengan brilian mengeset imej seorang musisi jazz di Jakarta dengan porkpiehat dan bretelnya. Selain berdampak pada tuntutan kostum musisi jazz yang bermain di acara pernikahan, dia dan beberapa musisi lainnya telah menimbulkan eforia dan keingin tahuan yang besar di masyarakat mengenai jenis musik ini.

Dari segi musik, tipikal anggapan gaya musik mainstream jazz biasanya mengacu pada karakteristik gaya era swing dan bebop. Meskipun sejarah menunjukkan bahwa banyak musisi dan penggemar jazz di tahun 1940an menganggap bebop bukanlah bagian dari jazz. Bahkan Louis Armstrong pernah berkata “All them weird chords which don’t mean nothing, you got no melody to remember and no beat to dance to!”1

Baca: Peranakan Jazz Betawi: Resensi Album Lantun Orchestra

Kompleksitas dari dinamika jazz, awalnya bermula dari perpaduan musik blues, spiritual dan tradisi marching band di New Orleans, kemudian bertransformasi menjadi musik hiburan di Chicago dan resmi menjadi musik terpopuler di Amerika pada era swing. Jazz mengalami perubahan besar  pada era bebop dan kemudian ia menyerap arus ekspansi musik dunia di era postbop dan fusion. Semua ini hanya terjadi dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun.

Fenomena ini menunjukkan sifat jazz yang sesungguhnya, yaitu memiliki kemampuan dan kecenderungan untuk berasimilasi dengan musik lain pada zamannya, dan selalu berada di ambang batas antara musik populer dan musik apresiasi. Melihat fakta ini tidak bisa dipungkiri bahwa penilaian gaya dan standar estetika jazz selalu berubah dari satu periode ke yang lain. Apabila kita menyadari ini dan terminologi jazz telah menjadi sebuah istilah nostalgia dari masa lalu, maka masih perlukah kita untuk mempunyai standar sama sekali.

Standar dan kriteria yang dipakai untuk menilai sebuah karya musik biasanya mengacu pada beberapa standar umum. Hiepko H. Boer dalam bukunya Pedagogy in Charcoal menyebutkan keempat kriteria yang dapat kita pakai. Pertama, adalah preferensi individu.

Kriteria ini menegaskan bahwa hanya ada dua jenis musik, yaitu musik yang bisa menggerakan emosi kita dan yang tidak. Terlepas dari segi kualitasnya, tetapi emosi personal seringkali tidak cukup untuk menjadi kriteria keindahan, terutama bila tidak ada persepsi yang cukup valid dalam opini esoteris.

Kriteria kedua dilihat dari sisi sosiologi, yaitu anggapan bahwa musik yang baik dapat diukur sejajar dengan sukses kuantitatifnya. Apabila sebuah karya musik dapat menyentuh semakin banyak individu, maka diyakini banyak orang kualitas estetikanya semakin tinggi. Dari kacamata para ahli, hal ini pun tidak dapat sepenuhnya dijadikan acuan. Validitasnya tidak bisa dibuktikan dan mirip dengan preferensi individu dikalikan jutaan.

Kemudian yang ketiga adalah kriteria intrinsik. Dari segi fungsionalitasnya, format bigband jazz dibuat untuk satu tujuan yaitu mengiringi para partygoers, lindyhoppers dan flappers menari3. Inilah yang membedakan musik di masa ini dengan era modern jazz dimana jazz lebih mendekati sebuah bentuk musik absolut, sebuah paradigma orisinalitas yang baru muncul pada abad 19.

Tapi sulit untuk menilai dengan cara tersebut ketika tidak ada lagi orang yang menari ketika jazz bigband bermain. Kriteria yang terakhir ditinjau dari segi historisnya. Misalnya sebuah band yang bermain dengan format gaya New Orleans bermain di atas panggung di sebuah festival atau acara jazz, dimana pada awal abad lalu di kota kelahiran jazz tersebut, format yang sama dipakai untuk mengiringi pemakaman seseorang.

Baca: Kenapa Perlu Menggunakan Istilah Musik Jazz dan Populer?

Hal ini hanya akan menjadi sebuah simbolisasi dari tradisi musik asli yang dipresentasikan. Bila kita hanya berpegang pada fungsi historik, apakah ini juga berarti sebuah band jazz yang sedang bermain komposisi Keith Jarret akan dapat mengusir semua orang yang ada dalam sebuah kafe jazz di Jakarta karena mereka berbicara terlalu keras?

Kita sering menggabungkan lebih dari satu kriteria diatas untuk mendeskripsikan penilaian kita yang inkonsisten dan subyektif. Kita akan cenderung mentoleransi kelemahan-kelemahan di sebuah kriteria demi menonjolkan kelebihan di fungsi lainnya.

Hal ini berbeda pada ilmu sains, dimana segala hal dapat diukur dan ditebak.  Dalam pemahaman sains, rasa dan emosi saja tidak valid sebagai data. Dalam kontrasnya, kita perlu menyadari bahwa pertanyaan tentang validitas hampir tidak pernah dipertanyakan dalam bidang seni.

Kriteria penilaian yang umumnya kita anggap cukup valid umumnya berasal dari pandangan akademis. Sebuah studi hermeniotik mengenai musik yang memiliki sebuah sistim komprehensif yang mempunyai data dan parameter estetika yang dapat diukur mendekati akurasi.

Terlepas dari argumentasi mengenai validitas dan kelayakan konten dari sistim pengajaran jazz tersebut, kita perlu menyadari konsekuensi dari menggunakan parameter ini secara otoriter dan absolut. Bagi seorang mahasiswa musik yang mencurahkan hatinya memainkan sebuah karya musik yang telah dipersiapkan berbulan-bulan, hanya untuk mendapati karyanya dipreteli, dianalisa dan dibedah seperti isi perut seekor kodok di meja operasi, hal ini bukanlah perkara sederhana.

Tanpa nurani, parameter tersebut secara tidak sengaja dapat membuat kita beranggapan bahwa elemen sebuah seni bersifat statis.

Di masa lalu standar parameter kita cenderung mengutamakan keseimbangan musik dari segi harmoni, melodi dan ritmik, dengan menghindari unsur-unsur disonan untuk kemudian dibungkus dengan rapi dan mempresentasikannya dalam konteks hiburan–Hingga lewat albumnya di tahun 1959 The Shape of Jazz to Come, Ornette Coleman menunjukkan keindahan dari sebuah melodi disonan, ini membuat kita malu dan mempertanyakan ulang standar keindahan di jazz.

Seorang musikologis Jerman Carl Dahlhaus, pernah mengatakan bahwa sebuah penjabaran menyeluruh mengenai estetika dari sebuah musik akan hanya menjadi sebuah deskripsi mengenai sejarah musik tersebut5.

Meskipun kita menghormati tradisi dan berusaha melestarikannya, kebanyakan dari kita lebih menghargai orisinalitas dalam jazz, bukan sebagai musik tradisi dengan aturan dan pakem yang baku.

Inilah faktor yang menyebabkan penilaian kita terhadap karya musik jazz tidak mungkin 100 persen objektif, Tidak sepenuhnya murni berdasarkan ukuran-ukuran yang telah kita tentukan.

Maka kita dapat beranggapan bahwa setiap individu, baik sadar maupun tidak akan mengacu pada sebuah metode yang lebih intuitif dalam menentukan penilaiannya mengenai sebuah karya musik. Sebuah pertimbangan yang ditentukan oleh berapa banyaknya momen kita dapat merasa terhubung secara emosional oleh sebuah musik, hingga menimbulkan sebuah rasa yang otentik.

Hal ini yang kemudian bermanifestasi menjadi berbagai macam perasaan keindahan dan ketidak indahan. Preferensi kita akan bergantung pada apa saja yang telah terpresentasikan secara manusiawi melalui obyek musik tersebut. Aktifitas mendengarkan ini membutuhkan sensitifitas dan responsifitas, sebuah kemampuan yang dapat kita asah.

Semakin sering kita melatih sensitifitas, intuisi kita akan membawa persepsi rasa ke level yang lebih tinggi. Ini merupakan sebuah prinsip dasar dari proses pembelajaran seni, sekaligus alasan mengapa dalam tahap belajar membuat karya, kita akan selalu membutuhkan referensi dan acuan dari sebuah karya seni yang lebih superior, atau berguru pada orang-orang yang pernah membuatnya.

Proses pembelajaran musik yang baik akan selalu menekankan proses dari pengasahan sensitifitas tersebut, ketimbang mencari stimulan yang lebih kuat.

Beruntunglah saya bisa berada pada masa sekarang di Indonesia, dimana kata jazz merupakan sesuatu yang bisa dianggap hip meskipun hanya untuk beberapa waktu dalam setahun.

Saya tidak berhak untuk berkomentar tentang para generasi muda yang datang ke sebuah festival jazz hanya untuk menyaksikan Jessie J dan Christina Perri, selama masih terbuka kesempatan untuk memastikan bahwa mereka dapat mengakses jazz dalam segala diversifikasinya.

Hal ini mudah-mudahan dapat meninggalkan sebuah keinginan untuk memahami.  Tidak berarti harus menyukai, tetapi memahami dengan segala keraguan dan kerendahan hati. Dengan cara itu kita dapat belajar mengapresiasi.(DJ)

 

Image courtesy of information-management.com

Image Courtesy Of forum.xcitefun.net (mudassir)

Advertisements

0 comments on “Bukan Dari Mata Sang Pencipta

Leave a Reply

%d bloggers like this: